- CUPLIKAN PERTAMA -

482 42 2
                                    

—CUPLIKAN PERTAMA—

Galuh bukan 'Galuh' namanya, kalau tidak mati penasaran. Kalau boleh jujur, ini adalah kali pertamanya merasakan sesuatu yang benar-benar membuatnya hampir mati karena penasaran. Bukan apa, sejak semalam—ralat, bahkan hingga pagi ia menonton ulang video-video yang ada pada komputernya itu, ia tidak bisa tidur. Bahkan, ia tidak minum kopi seharian kemarin!

Banyak kejanggalan yang ia lihat, serta hal-hal yang baru saja ia tahu. Ya, yang ia tahu setelah hampir lima tahun semuanya berlalu dengan tenang. Setenang saat adiknya, Damar, saat dulu baru saja dikeluarkan dari rahim Ibunya. Hari-harinya, begitu nyenyak tanpa satu kedatangan dari semuanya.

Maka, hal pertama yang ia lakukan setelah begitu pertanyaan yang menumpuk dalam pikirannya, ia bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi. Ia sudah berada di tengah padatnya jalan Ibu kota. Dan bodohnya, ia tidak tahu harus ke mana. Siapa yang harus ia temui? Apa yang ia ingin tanyakan? Atau, dari semua hal yang ia lihat berulang kali semalaman, apa yang harus ia benarkan?

Ia memutar balik stir mobilnya. Kali ini, ia menuju tempat yang mungkin bisa membantunya. Satu-satunya tempat, yang memiliki informasi, dari segala informasi yang ada. Yah, mungkin sih. Ia mengarahkan mobilnya menuju sekolah menengah atas, di mana semuanya—semua hal yang ia punya berakhir di dua hari setelah hari kelulusannya.

Semoga ia bisa menemukan satu dari mereka semua.

Kembali, 2012.

"Woy, Luh! Galuh!" sahut salah seorang di tengah ricuhnya suasana kantin di hari kedua masuk sekolah. Mungkin saja, semua orang merindukan jajanan yang ada di kantin ini, sejak liburan sebulan yang lalu. Padahal, ujung-ujungnya, mereka akan merengek karena bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Basi sekali.

Yang disahuti pun menjawab dengan sapaan lewat tangannya, lalu segera menghampiri sebuah meja ketiga dari belakang. Dua tahun terlewati di masa putih abu-abu ini, meja ini hampir mengisi histori perjalanan mereka mengabdi di pendidikan wajib sembilan tahun ini.

"Sialan! Bisa-bisanya, lo semua sekelas, dan gue sendirian!" keluh Galuh begitu ia menarik bangku dan mendudukinya secara terbalik. Ia kemudian menopang dagunya dengan sandaran kursi yang berada di depan dadanya.

Semuanya tertawa meratapi nasib salah satu temannya yang kali ini, kurang beruntung.

"Ya, lagi nggak hoki aje lu. Setahun nggak lama kok," jawab Bintang yang kemudian kembali mengunyah mie ayam miliknya itu.

Semakin merengut, Galuh membalas jawaban temannya itu. "Ye gigi lu nggak lama! Kemaren kelas satu dua aja rasanya kayak sepuluh tahun gue disuruh belajar biologi, tau nggak?"

"Eh udah-udah, masih pagi udah bacot aja." Seorang perempuan dengan rambutnya yang lurus panjang itu baru saja mendatangi meja, dan beralih duduk tepat di samping Galuh. Yang setelahnya disusul seorang laki-laki dengan hoodie berwarna hitam, dengan kacamata minusnya, duduk tepat di samping perempuan itu.

"Ini lagi, beli makan nggak ngajak!" Rasanya, kekesalan Galuh pagi ini begitu tidak melihat nama-nama keempat temannya itu di daftar kelasnya, tidak kunjung usai.

Kemudian seseorang mendorong kepalanya pelan dari belakang, yang kemudian beralih duduk berhadapan dengan Bintang. "Nggak ada sopan-sopannya gue liat-liat," keluh Galuh sambil mengusap-usap kepalanya.

"Lagian, lo ngomong kedengeran sampe tempatnya Pak Darto." Pak Darto adalah salah satu penjual kantin yang kebetulan, memiliki tempat jualan di ujung kantin.

At The MomentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang