Chapter 14

116 50 87

Rebutlah! kebahagianku, jika kau benar-benar menginginkannya. Memang benar adanya, bahwa kebahagian yang ku miliki, hanya sebuah kebahagian yang berbentuk fatamorgana!

Hancur! Hati ini hancur seketika, saat aku mengetahui bahwa semuanya adalah palsu! Fantasi yang kau buat, seakan-akan menghipnotis diriku untuk terus merasa nyaman dengan kebohonganmu.

Benci! Sebuah kata yang tak pernah muncul dibenakku! Namun kini, terucap jelas dilisan ku dan membekas dihati ku. Bagai ditusuk belati diri ini, saat kedatangannya merenggut semua kebahagian yang pernah ada dalam hidupku.

🍁🍁🍁

Detak jantung Nayra berhenti sejenak saat, sebuah kata terlontar indah dibibir Haikal. Rona merah merona, terpapar jelas dikedua pipi Nayra. Nayra tidak bisa membohongi dunia betapa senangnya ia, saat mendengar kata yang mampu, melelehkan hati wanita mana saja mendengarnya.

"Nay, gimana? Lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Haikal lagi. Yups! Kata itulah yang keluar dari bibir manis Haikal. Haikal sampai mengulang untuk kedua kalinya, karena merasa penasaran dengan jawaban Nayra yang tak kunjung ia dengar sampai detik ini.

"Hmm, lo nungguin jawaban dari gue?" tanya polos Nayra. Dan mampu membuat gemes Haikal yang tengah duduk didepannya. Haikal pun, mencubit gemes kedua pipi cubby, milik gadis yang ia cintai itu.

"Iya, sayang... Aku dari tadi nungguin jawaban kamu..." jawab Haikal sembari tersenyum lebar kepada gadis cantik dihadapannya itu.

"Oowalahh... Jawab apa yaa? Kamu maunya, aku jawab apa?" tanya Nayra lagi, yang dengan sengajanya membuat Haikal geram.

"Kamu yaa? Pingin banget aku tuh gerem ama kamu... Dasar udang!" ujar Haikal sembari mengapit hidung Nayra dengan dua jari.

"Aww! Sakit tauu! Merah kan jadinya hidungku," Rengek Nayra sembari memegang hidungnya yang telah berubah menjadi merah, akibat ulah jail Haikal.

"Ulululuu, manasih yang sakit dedek udang?" Canda Haikal sembari memasang wajah yang sangat memuakkan bagi Nayra. Yang pasti wajah penuh menggoda yang Haikal keluarkan.

"Basi deh," Ketus Nayra.

"Habisnya, banyak tanya jadi orang! Orang tinggal jawab 'iya' atau 'tidak' , susah banget," Curhat Haikal.

"Hehehe, gak papa dong jailin kamu sekali-kali? Gantian dong, masa kamu aja yang maunya ngejailin aku terus!" sahut Nayra sembari mencubit gemes pipi Haikal.

"Ih, ngambek dia!" Ledek Nayra sembari terkekeh, karena merasa lucu melihat bibir manyun Haikal.

"Okey deh, aku jawab! Aku... Mau... jadi pacar kamu," ujar Nayra sembari memeluk Haikal. Haikal yang terkejut akan pelukkan dari Nayra, langsung memasang wajah kaget yang teramat lucu.

"Seriuosly?" tanya Haikal memastikan kembali apa yang Nayra ucapkan tadi.

"Iyaa," jawab Nayra sembari tersenyum.

"Yeeay! Yeaay..." sorak Haikal bahagia.

Senyum kebahagian terukir jelas malam itu. Malam dimana Haikal menembak Nayra di restoran berbintang lima. Kebahagian yang takkan pernah terlupakan bagi mereka berdua. Perjuangan selama satu tahun Haikal mendekati Nayra, mengerti akan setiap sikap dingin Nayra, dan bersabar dengan sikap ambekkannya Nayra. Dan akhirnya Haikal dapat membuktikan semuanya dengan menjadi pacar Nayra sekarang. Sungguh perjuangan yang tidak sia-sia. Akhirnya, ia dapat mengetahui perasaan Nayra kepadanya.

Begitu juga dengan Nayra. Ia bahagia karena ada seorang Haikal yang mau menerima semua kekurangan dalam dirinya. Kebahagian pada malam ini, akan menjadi moment terindah dalam hidup Nayra. Dan ia tidak akan pernah melupakan moment malam ini bersama kekasih tercintanya yakni Haikal.

Street In My LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang