KALANDRA 👟 18. [Bagian II]

18 3 0

Usaha tidak menghianati hasil.

Cayoo!

Ucapan selamat berjuang itu, membuat harapan baru yang telah runtuh. Memberikan sinarnya, ketika semua cahaya tak lagi mau muncul.

"Eh Bang, kenapa ?" penglihatan tajam milik Kala, mampu menangkap keberadaan orang yang di sebut Abang itu.

"Udah mendingan?" tanya Ravi, yang melangkah masuk kedalam kamar adiknya.

"Lumayan, ngga pusing kaya kemarin," jawab Kala.

Ravi duduk di pinggir kasur wajahnya sedikit kaku, rahangnya mengatup, tatapannya tajam kearah jendela.

"Kenapa Bang?" tanya Kala.

"Bintang pusaka yang selalu cerah, di setiap harinya." ucap Ravi.
Kala membenarkan duduknya, dia melipat kakinya sambil melipat tangannya di depan dada.

"Lo ngomong apa sih?" tanya Kala bingung.

"La-"

"Wedih, ternyata lagi berduaan, eh Bang Ravi, hai." sambar Akmal, yang tiba-tiba muncul dan mengacaukan pembicaraan Ravi.

"Eh Mal, apaan tuh sini buruan, kebeneran gue laper." ucap Kala, pandangannya tertuju pada kantung plastik bawaan Akmal.

"Misi Kak," sapa seorang gadis dibalik tubuh Akmal.

"Meri?" ucap Kala, terkejut.

"Bukan Meri! Tapi Maria." bantah gadis itu.

"Hai Ravi." Ravi melotot mendengar auara yang ia sudah hafal itu. Ravi menoleh dengan cepat, mebemukan sosok itu, gadis itu teraenyum tulus padanya, ia melangkah maju dari Akmal dan Maria. 2 orang yang turut menemaninya untuk datang.

Ravi berdiri dari tempatnya, matanya tak percaya menemukan sosok yang memanggilnya beberapa menit lalu.

"Ada Akmal, ini Erika bukan ya?" sapa Mentari yang masuk membawa nampan beserta minuman dan camilan diatasnya. Ia menoleh ke arah gadis yang ia sudah kenal.

"Iya Tan," balas Erika, sebyumnya cerah.

"Kok, kok, Maleh jelaskan!" pinta Kala.

"Adek?!" pekik Mentari.

Aku pulang ya, Mal, makasih udah bawa aku ke sini." ucap Erika.

Dengan cepat lengan Erika di tarik begitu saja. "Mau ke mana ? Di sini aja." pinta Ravi.

Gadis itu tersenyum, perlahan melepaskan tangan Ravi. "Neadro udah nunggu," katanya.

Mendengar ucapan Erika, Kala bangkit dari tempat tidurnya, melihat Mentari sebentar lalu melangkah menghampiri saudaranya.

"Biarin aja kali," ucap Kala. Ravi menoleh menatap tajam pada adiknya.

"Gue akan berusaha," gumam Kala.

Mentari, Akmal, dan Maria hanya bisa melihat kedua cowok yang saling merangkul satu sama lain, membuang napas beratnya.

"Kamu aneh Kalandra, kenapa kamu menyakiti dirimu untuk orang lain? Meski aku belum mengenalmu cukup lama, tapi kamu buat aku selalu khawatir dengan sikap manjamu." batin Maria, yang menatap Kala lekat. Punggung Kala yang bergetar, saat tertawa mampu membuat lekuk bibir Maria naik keatas.

"Maria?" panggil Akmal, gadis itu menatap Akmal, lamunannya kembali pudar.

"Kenapa ?" tanya Akmal lagi, gadis itu menggeleng.

"Gimana kalau kita makan siang dulu," usul Mentari, yang merasa tak nyaman dengan suasana di sana.

"Mm.. Tan, boleh aku bantu?" tanya Maria, dengan senyum cerahnya, ibu 3 anak itu langsung membawa Maria ke luar dari kamar putranya.

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now