KALANDRA 👟17. [Bangian I]

20 5 0

Mencoba lebih baik, daripada tidak sama sekali.

Persiapannya sudah hampir 90 persen, tapi keraguannya masih menyekat pikirannya. Itu Kalandra.

Sudah 3 minggu Kalandra rutin berlatih bersama dengan Farda, Sang pelatih. Cowok berwajah cute itu selalu menampakkan senyum sumringahnya, kala ia pamit untuk berlatih, pada Ibunya.

Tapi, ketika waktu pertandingan akan segera datang, tepatnya 2 hari lagi. Kalandra jatuh sakit. Sama seperti beberapa minggu lalu.

"Gimana sih Vi? Dia lemah, saya ngga bisa Vi!" bentak Farda.

"Sekali aja plis," pinta Ravi.

"Apa yang mau diharapkan? Kalau dia kalah, perguruan ini jadi taruhannya. Kamu tahu itu Vi." tegas Farda.

Debat dan selalu berselisih, lagi-lagi tentang Kalandra yang kembali runtuh.

"Ingat Vi, waktu kita tinggal 2 hari lagi, ngga punya banyak waktu buat cari yang lain." ucap Farda lirih.

"Pelatih percaya sama saya, besok Kala akan hadir dan kembali bertanding. Beri kesempatan untuk kali ini." ujar Ravi. Nada bicaranya melemah, hatinya linu bila dia harus kembali memohon untuk adik kesayangannya.

"Baik. Kali ini kamu bertanggung jawab penuh, karena saya akan memberikan kepercayaan itu padamu, sebagai pelatih." putus Farda.

"Makasih." kata Ravi, senyum tipisnya muncul begitu saja.

"Terakhir La, ini kesempatan terakhir lo, buat berjuang. Gue ngga tahu akibat fatal apalagi setelah ini. Gue harap babak akhir lo akan usai. 2 hari lagi." batin Ravi.

Cowok itu menunduk menyadari sikapnya sudah egois, tapi dia juga tidak mau melihat adiknya murung setelah 2 tahun tidak ada kegiatan favoritnya. Meski adiknya mengikuti club Futsal, tapi tidak dengan hatinya yang terus memandangi baju keberasannya ketika sedang sendiri.
. . .

3 hari lalu.....

"Gue pasti bisa! Entah penyakit apa yang gue derita, tapi gue akan berusaha." ucapnya.

Saat itu udaranya sangat dingin, hembusan angin malam, masuk tanpa permisi, menerbangkan beberapa kertas yang tergeletak di lantai.

"Kalandra The King of cute." senyum getir yang lagi-lagi Kala tunjukan.

"Kita berjuang bareng lagi." ucapnya, jemarinya berjalan perlahan mengusap baju putih kebanggaannya. Sabuk hitam yang selalu ia kenakan ketika tampil, kini di sentuhnya.

"Meski gue harus runtuh lagi, gue akan berusaha," ucapnya. Tak sengaja terdengar oleh Ravi. cowok itu mengintip kedalamnya, di bukanya pintu yang sudah terbuka sedikit itu.

"Meski akhirnya kembali baring di atas kasur seperempat itu lagi, tapi gue akan menjaga apa yang harusnya gue jaga." ucapan Kala berhasil membuat Ravi, membelalak tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

Seketika hatinya patah, bahkan kedatangan Davina saja ia tak menyadarinya.

"Aku udah tahu kok, jangan nyerah dong." kata Davina.

"Kak, kalau Kalandra tahu, apa dia bisa maafin aku? apa dia mau maafin aku yang egois ini?" ucapan Ravi membuat Davina harus menarik cowok itu.

Satu tamparan melayang begitu saja tanpa permisi, Davina teraenyum penuh amarah, sedangka Ravi masa bodo dengan apa yang sudah kakaknya lakukan.

"Pikir Vi! Minta izin ke Papa bukan perkara yang mudah, apalagi Bubun. Kalau kamu nyerah kaya gini, gimana sama Andra?!" ucap Davina. Ravi meringis, menatap kakaknya.

KEY [COMPLETED]Read this story for FREE!