Chapter 13

121 53 82


"Aden ni, siapa ya?" tanya Mbok Siti saat melihat seorang pemuda dibalik pintu tersebut.

"Maaf Buk, nama saya Haikal. Saya teman kelasnya Nayra," ujar Haikal sopan. Mbok Siti, terdiam mendengar penjelasan dari Haikal. Mbok Siti memperhatikan Haikal dari  atas kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menyelidik.

"Mbok, saya gak diajak masuk ni Mbok?" tanya Haikal sembari tertawa hambar.

"Eh, maaf Den. Mbok sampe lupa, mari Den! Masuk," ujar Mbok Siti mempersilahkan Haikal masuk. Mbok Sitipun menyuruh Haikal untuk duduk di ruang tamu sembari menunggu Nayra. Tanpa Mbok Siti dan Haikal sadari, ada seorang gadis yang menatap mereka dari lantai atas. Mbok Siti langsung segera ke dapur untuk mempersiapkan minuman dan makanan untuk Haikal.

"Hai, Nay!" sapa Haikal saat melihat Nayra menuruni anak tangga terakhir.

Diam

Seperti biasanya, Haikal hanya mendapatkan respon dingin dari Nayra. Keheningan pun, menyelimuti mereka berdua. Nayra hanya diam sembari menatap majalah yang kini berada ditangan kanannya. Sedangkan Haikal, ia celingak celinguk memperhatikan seluruh isi ruangan dan sesekali mencuri pandang kearah Nayra.

Tak lama kemudian, datanglah Mbok Siti sembari membawa dua cangkir teh hangat dan beberapa potong roti diatas piring. Kehadiran Mbok Siti memecahkan keheningan diantara mereka.

"Monggo, dimakan rotinya Den," ujar Mbok Siti ramah.

"Eh, iya Mbok! Makasih udah repot-repot, bawain makanan," sahut Haikal sembari menyeruput teh yang dihidangkan Mbok Siti.

"Nggak ngerepotin kok Den, wong Aden tamu disini. Jadi si Mbok harus ngelayani tamu dengan baik," ujar Mbok Siti.

"Oh ya! Non, Aden. Mbok izin ke dapur lagi ya, masih ada kerjaan di dapur." ujar Mbok Siti lagi, sembari beranjak meninggalkan Nayra dan Haikal berdua.

"Nay, sorry ya... Atas kelancangan gue datang ke rumah lo tanpa minta izin sama lo dulu," ucap Haikal sembari menatap nanar Nayra yang duduk dihadapannya.

"Keluar," ucapan itu yang terlontar dari bibir Nayra. Nayra berdiri dari tempat duduknya sembari menunjuk kearah pintu keluar dari rumahnya.

Deg!

Haikal terpelongo mendengar ucapan Nayra yang terdengar jelas ditelinganya. Pelan, namun seperti belati yang tetancap  dijantung. Haikal pun sontak berdiri saat mendengar Nayra secara terang-terangan mengusirnya.

"Sorry Nay, kalau kedatangan gue bikin lo merasa terganggu," ujar Haikal merasa menyesal akan tindakan bodohnya yang membuat Nayra marah. Haikal pun langsung menyandang tas ranselnya, dan langsung berjalan menuju pintu keluar. Nayra hanya diam memperhatikan kepergian Haikal. Dengan wajah datar, Nayra menatap punggung tegap pria tampan tersebut.

"Lah, Aden mau kemana? Kok bawa tas?" tanya Mbok Siti heran saat mereka, tak sengaja berpapasan di ambang pintu.

"Mau pulang Mbok, sepertinya kehadiran saya mengganggu tuan rumah. Jadi saya berniat untuk pulang saja. Permisi ya Mbok," jawab Haikal sembari membuka kenop pintu dan berlalu pergi.

Mbok Siti pun, langsung menghampiri Nayra yang hendak beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya.

"Non teh, kenapa? Kok Den Haikal bilang, si Non gak suka akan kedatangan Den Haikal?" tanya Mbok Siti bingung.

"Gak papa Mbok," Jawab Nayra singkat, dan langsung beranjak menuju kamarnya.

***

Keesokkan harinya, Haikal berangkat sekolah seperti biasanya. Saat sampai di sekolah, mata Haikal langsung terfokus dengan seorang gadis yang tengah berjalan santai di koridor sekolah. Haikal pun, mengikuti derap langkah gadis tersebut dengan diam-diam. Ternyata, gadis tersebut pergi ke perpustakaan. Haikal yang penasaran dengan apa yang akan dilakukan gadis tersebut langsung menyelonong masuk ke perpustakaan juga.

Street In My LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang