📒 04 ✏ Tom and Jerry ✏

2.2K 377 418

Lebih baik bertengkar karena cinta
daripada diam kesepian menanggung benci__________________________________

🍄🍄

Belajar membaca pasar. Menentukan market share sesuai dengan market segmentnya. Jangan pernah mengatakan sebuah penjualan bisa berhasil tanpa pasar dan target jualnya.

Pagi ini Hafizh sengaja mengumpulkan seluruh pegawai yang Qiyya pekerjakan di butiknya. Demikian juga dengan pegawai yang bekerja di konveksi mereka.

Pola kerja kemudian sistem order pesanan dan bahkan sampai pemasaran semua di bawah kendali Hafizh. Bukan berarti apa yang dulu telah diterapkan oleh Qiyya tidak baik hanya saja menurut Hafizh sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pasar jaman sekarang.

"Semua lini tolong untuk bisa bekerjasama dengan baik. Baik itu dari bagian produksi, administrasi termasuk pada pemesanan, pengepakan serta ekspedisi harus sesuai dengan jadwal, begitu juga dengan pemasaran dan yang ada di outlet." Kata Hafizh mengakhiri pertemuannya pagi itu dan meminta semua pegawainya untuk kembali ke pekerjaannya masing masing.

Qiyya hanya tersenyum bahagia melihat sang putra dengan penuh semangat mencurahkan dedikasinya untuk usaha yang telah dirintisnya. Pemasaran yang dilakukan Hafizh cukup bagus, tepat sasaran dan lebih terarah sehingga tidak terlalu banyak menyimpan stok barang dagangan karena selalu bisa diputar oleh Hafizh.

Pembangunan sebuah outlet di luar kotapun telah dirancang oleh Hafizh. Setelah dia menghitung break event point dan juga pengujian skala laba yang diperoleh setiap tahunnya, Hafizh mungkin harus segera memperhitungkan investasi dan RAB untuk outlet barunya.

"Bang, nggak ingin studi banding dulu?", tanya Qiyya memecah keheningan. Hafizh yang saat ini tengah memeriksa beberapa laporan keuangan dan juga laporan produksi.

"Eh bunda. Abang masih periksa laporan ini yang kemarin di buat sama Fatia. Tapi sepertinya masih juga ada yang keliru padahal kemarin sudah diwanti wanti untuk mengerjakan dengan teliti." Kata Hafizh masih fokus di layar monitor dan juga tumpukan kertas di hadapannya.

Qiyya hanya tersenyum melihat putranya yang mengabaikannya demi lembaran yang ada didepannya.

Hafizh menaikkan kacamata yang dipakainya ke atas kepala. Kemudian menatap bundanya sekilas kemudian tersenyum. "Maaf ya bundaku bolobolo. Abang lagi fokus, gimana gimana apa yang bisa abang bantu buat bunda?"

"Banyak." Jawab Qiyya dengan nada datar.

"Banyak? Contohnya? Sebutin deh salah satu atau salah dua biar abang dapat delapan puluh." Kata Hafizh sambil terkekeh.

"Satu, menantu buat bunda mana? kok belum nongol nongol juga. Kedua, ini rencananya kamu kan mau buka outlet butik di luar kota. Cobalah untuk studi banding dulu ke butik butik yang lebih dulu in. Dian Pelangi, Jenahara, KIA, atau Meccanism mungkin? Kebetulan bunda kemarin kenal dengan orang yang katanya punya akses untuk bisa ambil barang di perusahaan textile Cikarang. Coba deh kamu follow up. Selisihnya lumayan jika dibandingkan dengan yang kita ambil sekarang." Kata Qiyya kepada putranya.

"Jauh amat bunda ke Cikarang? Di Surabaya emang nggak ada?", tanya Hafizh.

"Alamat rumahnya di daerah Mampang Prapatan. Kalau kamu ke sana menemui beliau sekalian bisa ke butiknya Dian Pelangi. Sepertinya ada yang di daerah Kemang." Kata Qiyya.

"Kemarin Hafizh juga bertemu dengan seseorang Bund. Keluarganya juga memiliki pabrik textile di Rungkut Surabaya. Dia masih seumuran dengan si twin." Kata Hafizh.

"Surabaya?", Qiyya seperti mengingat sesuatu hal.

"Iya, dia akan melaksanakan PKL di sini. Hafizh juga akan dikenalkan dengan abinya. Mungkin kedepan bisa dimasukkan list sebagai rekan bisnis kita."

Kaulah KamukuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang