I trust you!

78.2K 2.4K 124
                                    

Happy Reading.

°

Kufikir ini tidak lucu, kami jadi bahan bual-bualan dari semua keluargaku, apalagi kakak keduaku yang begitu antusias mengejek kami. Alien sialan.

Mereka menertawakan kami yang kami yang tidak tau apapun, menyebalkan.

"Sebenarnya aku masih bingung dengan ini. Apa saja yang kalian rencanakan dibelakang ku? Aku terlihat menyedihkan karena tidak tau apapun" ketusku pada kedua kakakku.

"Tidak banyak. Paling hanya membuatmu diam dan tidak banyak bicara" Jin Oppa memang punya selera humor yang tinggi dan kadang aku kesal dengan itu. Dia tidak tau mana waktu bercanda dan serius, menyebalkan.

"Sudahlah Jinie. Kasihan adikmu! Kemari sayang, ibu tidak lama tidur dan mendengarkan suaramu. Dan Jim Harabojie dan ayah memanggil. Sepertinya mereka ingin berbicara padamu" aku menerima uluran tangan ibu, sementara Jimin berlalu untuk menemui kakek dan ayah. Sepertinya mereka ingin membahas mengenai Steven, yang diharapkan satu, semoga masalah ini cepat selesai dan aku bisa hidup tenang dengan Jimin. Hanya itu harapanku.

"Ibu aku takut!" Ibu terlihat mengusap tangan ku dan membawa kami untuk pergi kakamar. Aku berbaring di ranjang saat ibu duduk disana, lebih tepatnya aku berbaring menggunakan paha ibu.

"Ketakutan mu wajar sayang. Dan lagi pula ini juga ujian. Mungkin ini masalah yang harus kau hadapi dengan Jimin" aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Agak ngeri saat mengingat jika yang kami hadapi adalah keluarga sendiri, belum lagi perjanjian itu.

"Tapi apa mungkin Paman Steven bisa membatalkan perjanjian itu. Dia sangat membenci kakek dan Jimin. Mustahil ibu!" Aku agak pesimis dengan ini. Paman Steven punya dendam kusumat dengan kakek dan dengan Jimin juga.

"Biarkan mereka yang bekerja dan tugasmu hanya mendukung Jimin, dia perlu semangat dari istri dan wanita yang dirinya cintai. Dukungan mu sangat berarti untuk Jimin sayang" yah mau bagaimana keputusan ayah dan kakek nanti aku memang harus mendukung Jimin. Jelas karena dia suamiku dan aku memang Mencintainya.

"Aku fikir tuhan begitu sayang padaku. Usia pernikahan ku bahkan baru 1 Minggu lebih dan kami harus menghadapi semua ini!" Cetusku menilai. Dari pertama kami menikah selalu saja ada halangan.

"Itu adalah fase kedewasaan untuk kalian sayang. Kalian harus menghadapinya untuk keutuhan rumah tangga kalian. Jika kalian bisa melewati ini pasti nanti kalian bahagia, percaya pada ibu" aku mengangguk samar dan mencoba memejamkan mataku. Aku kurang tidur karena Jimin semalam. Yah kami melakukan itu sampai hampir jam 5 pagi dan jam 8 kami harus sarapan kebawah. Dan aku belum memejamkan mataku lagi dari sekarang.

"Apa Jimin menyakitimu?" Mataku kembali terbuka mendengar pertanyaan ibu, sepertinya ibu tau mengenai penyakit Jimin. Ini wajar untuk seorang ibu yang khawatir pada anaknya bukan.

"Tidak. Sebelum aku tau dia memiliki kelainan pada sex, Jimin juga tidak pernah menyakiti aku Bu. Hanya saja dia punya kecenderungan tidak mau berhenti menggauli aku, dia seperti kecanduan pada tubuhku" aku memang terbiasa jujur pada ibu dari kecil dan mengenai masalah ini aku juga jujur. Lagi pula ini ibuku, kenapa harus disembunyikan.

"Benarkan Jimin tidak mau berhenti sayang?"

"Hem. Dia seperti kesetanan saat melihat aku mengenakan pakaian minim atau tipis bahkan kadang saat aku menggunakan pakaian biasa saja dia sudah langsung minta dilayani. Sebenarnya aku tidak masalah sih, toh itu juga kewajiban ku sebagai istri. Aku harus melayani suamiku dengan baik, yah walaupun Jimin sedikit menyebalkan saat ingin hak nya" aku mendengar ibu terkekeh dan mengusap rambutku terus.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang