Part 51

1K 52 0
                                                  

Happy Reading

Menggeliat. Aletta terbangun karna cahaya matahari pagi ini menembus kamarnya. Ternyata sudah jam 7 pagi. Ia tidak tahu, apakah dokter sudah memeriksanya.

Ia melirik kearah infus. Infus baru. Berarti perawat sudah memeriksa disaat ia tertidur.

"Pagi anak ayah." sapa ayahnya memasukki ruangan tersebut. Aletta tersenyum singkat. Dan kembali menatap kearah jendela.

"Maafin ayah ya.." ucapnya lirih

"Ayah kenapa begitu?"

"Ayah tau apa yang ayah lakuin. Tapi ay.."

"Itu kecelakaan yah. Enggak ada yang mau itu terjadi. Letta maupun dayat."

"Ayah tau.."

"Tapi kenapa ayah marah sama dia. Dia udah tanggung jawab kan? Keluarganya udah tanggung jawab kan? Tapi kenapa ayah bersikap seperti dayat ini pelaku kejahatan yang gak mau tanggung jawab?"

"Yahh, letta cuman mau ayah ngerti." ucapnya lirik menatap sendu mata ayahnya "Dia yang selalu ada buat letta. Saat ayah sibuk keluar kota. Saat kakak sibuk sama urusan kuliah." ucapnya yang kini air mata sudah membasahi pipinya.

"Keluarga dia baik sama letta yah. Mama dia bersikap seolah jadi bunda letta. Mama dia selalu buat aletta merasakan sosok bunda yang udah gak ada yah."

"Maafin ayah. Ayah salah. Tapi ayah cuman gak mau kamu terluka."

"Ayah gak sadar? Kalau perilaku ayah udah buat letta terluka. Tanpa ayah goreskan benda tajam sedikitpun ketubuh letta."

"Letta harap. Hari ini letta keluar dari rumah sakit." ucapnya yang memalingkan wajahnya. Tidak ingin menatap wajah ayahnya.

Hati nya teriris kembali. Ia benci sikap ayahnya yang egois. Sikap yang membuat kata perpisahan untuk ayah dan bundanya yang lalu.
Ia tahu tujuan ayahnya baik. Tetapi bukan seperti ini. Sikap yang membuat Aletta merasa tertekan, dan merasa kehilangan. Kehilangan sosok yang ia sayangi. Untuk kedua kalinya..

"Ayah kerja dulu ya. Nanti kakak kamu pulang kuliah kesini." ucapnya berlalu. Tidak ada respon dari Aletta. Ia hanya tersenyum simpul dan menepis air mata kekesalannya.

Merasa ia sudah sendiri, ia pun memilih duduk dan mencari buku diary kesayangannya. Sudah lama rasanya ia mengabaikan untuk bercerita kepada sang diary pendengat terbaiknya.
Menegakkan tubuhnya yang masih terasa sakit. Kepalanya masih terperban. Luka-luka ditubuhnya sudah mengering. Walaupun masih nyeri untuk tersentuh.

Tanganya mulai menuliskan kata yang ingin ia sampaikan kepada si kesayangan..

Dear Diary..

Hai kesayangan..
Kabar gue kurang baik untuk beberapa hari ini. Sedih rasanya. Luka di tubuh enggak seberapa sama rasa sakit di hati..

Dayat tadi malam udah berangkat ke jerman.
Lingkungan baru dia..
Senang rasanya bisa tinggal disana, tempat impian guee tuh..

Oh iya,
Kemaren, dayat juga ngirimin gue surat.
Romantis gitu kaya jaman dulu..
Kata-kata keliatan banget bakunya..
Dia bilang, kalau dia sayang sama gue.
Terbalas kan rasa sayang gue.
Yaa, walaupun enggak ada status. Tapi udah jelas, sebagai sahabat..
Gue bayangin muka dia gimana pas nulis, tapi bawaannya gak bisa. Gak kuat gitu..
Alay ya??

Aletta ✔ [ COMPLETE ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang