Part 50

1K 53 0
                                          

Happy Reading


Hari ini, adalah hari terakhir dayat di Jakarta. Tidak berdiam diri dirumah. Kali ini, ia mengikuti permintaan teman-temannya untuk ngumpul di kedai biasanya.
Kedai yang dimana tempat ia dan juga teman-temannya berkumpul. Tempat bertukar cerita, tempat mengadakan acara atau segala macam.

Duduk dikursi kayu, sambil menghisap rokoknya. Menghembuskan ke udara agar rasa penat, letih dan bebannya hilang.
Benar saja, rasa beban ditubuhnya hilang. Tetapi, tidak mampu menghilangkan nama Aletta dipikirannya.

Sudah tiga batang rokok yang ia hisap. Teman-temannya hanya sibuk bercanda gurau. Sesekali, dayat terkekeh mendengarnya.
Begitu kah rasanya ingin pergi meninggalakan teman-teman yang sudah lama ia kenal ini?
Atau bahkan, tidak mempu meninggalkan Aletta?

"Udah lah bro. Nikmatin hari ini, sebelum loe berangkat ke Jerman." ucap dio menepuk pundak dayat. Ia mengulas senyum tipis.

"Hai yat," sapa iren yang baru saja datang bersama rio. Dayat mengulas senyum membalas sapaan iren barusan.

"Baik-baik ya loe disana. Moga loe dapat temen kek kita-kita."

"Iya." Sahutnya singkat "Oh iya ren, sori ya gue gak ikutin saran loe tentang Aletta."

"Gak apa-apa lagi. Kan loe yang jalanin, gue mah cuman kasih saran sama loe."

"Gue titip Aletta."

"Sip. Gue bakalan jagain dia dan gue bakal kasi tau loe dia deket sama siapa aja."

"Gak gitu jugaa.."

"Udah lah. Hati loe itu masih takut kan, kalo dia dideketin orang lain atau mendekati orang lain."

"Gue sih, gak siap liat dia murung tiap hari. Tapi apa boleh buat.."

"Apa loe tau kalau gue diminta buat jauhin dia?"

"Hah? Sama siapa? Cowok? Kok berani banget sih? Apa kakaknya?" tanya iren beruntun

"Bokap."

"Oh, bokap.." balasnya tertunduk dan mengangguk. "Kenapa?"

"Masalah ini."

"Ya udah lah. Diem-diem kan bisa kontakkan. Gue yakin, lambat laun bokapnya bakalan maafin loe."

"Loe gak jenguk dia?"

"Nanti. Abis dari sini, gue sama rio kesana.Mungkin anak-anak lainnya juga mau ikutan."

"Heyy, ngobrolin apa?" tanya rio yang bergabung dan duduk tepat disebelah iren. "Jangan diem dong. Gue dateng malah diem."

"Biasa. Kayak kamu gak tau aja lagi." balas iren. Rio hanya ber oh-ria sambil menganggukkan kepalanya paham.

●●●●

Sudah hampir dua hari, dayat tidak menampakkan diri dirumah sakit. Sedih dan sendu bawaan hati nya. Sejak hari dimana ayahnya mengusir dayat secara kasar. Dan sejak itu pula, ia enggan berbicara kepada ayahnya. Hanya kata hm dan ya yang ia lontarkan.

Malam ini, malam terakhir ia mendengar kabar bahwa dayat akan meninggalkan Jakarta. Sungguh, perpisahannya begitu datar. Tidak terasa apa-apa. Hanya luka yang menggores.

Air mata selalu menembus pelupuk matanya. Mengingat kata pindah dari mulut dayat. Dan kata pergi dari mulut ayahnya.
Ia tahu, mungkin salah mulai menaruh rasa kepada dayat. Tapi apakah salah, ia menginginkan perpisahan terindah terhadap dayat. Sosok laki-laki yang memintanya menjadi seorang sahabat. Memperhatikannya walaupun dengan sikap cuek dan acuh. Selalu membuatnya terkejut dengan sikap labilnya.

Aletta ✔ [ COMPLETE ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang