Extra Part (1)

3.3K 263 7

Beberapa tahun yang lalu...

Carissa menatap Flora dengan gelisah. "Bagaimana jika kita ketahuan?" tanya Carissa saat mereka baru saja keluar dari gedung mansion lewat pintu yang sangat kecil.  "Ssst." Flora menyuruhnya untuk tidak berbicara.

Jam satu pagi tadi Flora membangunkan Carissa dan mengajaknya keluar mansion. Carissa awalnya menolak karena takut, namun Flora meyakinkannya bahwa mereka aman.

Flora cukup berpengalaman dalam hal ini, karena ia sudah sering keluar mansion diam-diam. Dan hari ini untuk pertama kalinya Flora mengajak Carissa. Flora ingin memperkenalkan Carissa dengan teman-temannya. Flora juga ingin adiknya itu pernah melihat bagaimana kehidupan di luar mansion itu.

Setelah mereka berhasil keluar, Flora membawanya ke sebuah gubuk yang tidak jauh dari mansion. Di sana terdapat mobil sedan hitam dan mereka masuk ke dalam mobil itu. Dengan kecepatan sedang, Flora mengendarai mobilnya dengan hati-hati hingga mereka menemukan jalan aspal.

Flora langsung mempercepat laju mobilnya menuju kota. Carissa baru sadar ternyata mansion mereka begitu jauh dari kota. Butuh memakan waktu setengah jam untuk sampai ke kota. Biarpun begitu, Carissa merasa takjub melihat suasana di luar. Apalagi setelah mereka sampai di kota. Carissa tidak bisa menutupi rasa takjubnya. Pemandangan di luar sangat sayang jika dilewatkan, karena mungkin saja Carissa tidak akan melihat itu lagi.

Mereka akhirnya berhenti dan Flora memarkirkan mobilnya di depan gedung kafe.

"Apakah itu benar-benar cafe, Flora?" tanya Carissa tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari kafe itu.

Flora terkekeh geli mendengar pertanyaan Carissa. "Kau bisa memesan secangkir kopi semaumu," ucap Flora.

"Tapi, aku tidak akan bisa tidur malam ini," ucap Carissa, menatap Flora dengan pandangan polos.

"Kita memang tidak tidur malam ini. Karena malam ini akan menjadi malam yang panjang." Flora tersenyum lebar seraya mecolek hidung mungil Carissa, lalu keluar dari mobil.

Carissa keluar dari mobil dan mendekati Flora. Mereka bersama-sama masuk ke dalam kafe itu. Di sana mereka disambut teman-teman Flora, namun Carissa masih fokus menatap sekelilingnya.

"Hai, guys. Perkenalkan ini adikku, Carissa," ucap Flora kepada keempat temannya. Carissa yang mendengarkan namanya disebut, langsung mengalihkan pandangan dari seisi kafe.

"Carissa, kenalkan ini Stavy, Beatrix, Tony, dan Maxim."

Carissa menatap mereka satu persatu, saat Flora menyebut nama teman-temannya. Stavy berambut merah dengan kulit kuning langsat terlihat semakin cantik saat tersenyum. Beatrix berambut coklat tersenyum singkat dan kelihatan sedikit tomboy. Tony yang berkulit hitam, tersenyum lebar pada Carissa, menampakkan kedua lesung pipitnya. Lalu Carissa menatap Maxim. Kulit lelaki itu putih dan memiliki sorot mata yang tajam. Tatapan Maxim terlihat intens saat menatap Carissa, namun Carissa tidak menyadari itu dan hanya tersenyum kepada mereka.

"Kalian seperti kembaran. Sangat mirip," ucap Tony menatap wajah kedua kakak beradik itu dengan takjub.

"Mereka berbeda. Aku rasa adiknya lebih cantik," ungkap Beatrix.

"Yeah, kau benar." Stavy menyetujui penilaian Beatrix.

Flora dan Carissa duduk bersampingan. Carissa hanya diam menikmati kopi pesanannya dan melihat Flora yang asik berbincang dengan teman-temannya.

"Kau tahu Carissa?" Kini Stavy mengajak Carissa berbicara. "Tony adalah pacar Flora," lanjut Stevy, mengejutkan Carissa.

"Kau belum tahu?" tanya Stevy, menyadari keterkejutan Carissa. Carissa menggelengkan kepala, menjawabnya.

"Dia masih tiga belas tahun. Aku tidak mungkin menceritakan hal seperti itu padanya," sahut Flora yang mendengar pembicaraan mereka.

Carissa hanya tersenyum mendengar itu. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Hal seperti ini sama sekali belum pernah ia rasakan. Carissa seharusnya perlu beradaptasi dulu dengan hal-hal yang baru.

Tanpa Carissa sadari Maxim terus menatapnya, hingga pada akhirnya tatapan Carissa bertemu dengan Maxim. Carissa tersenyum, namun Maxim mengalihkan pandangannya.

Jam sudah menunjukkan pukul empat subuh. Mereka harus segera kembali ke mansion. Begitu juga dengan teman-teman Flora, mereka harus pulang ke rumah mereka masing-masing. Mereka akhirnya berpisah di parkiran.

Flora mengendarai mobilnya dengan laju melintasi jalan yang sepi.

"Flora, lain kali aku ingin kita pergi berdua saja ya," pinta Carissa.

"Kenapa? Bukankah tadi asik?"

Carissa menggeleng. Apanya yang asik? Carissa bahkan hanya diam saja. "Aku belum pernah berkenalan dengan orang asing sebelumnya. Ini pertamakali bagiku, kau tahu kan?"

"Carissa, itu dia kenapa aku mengajakmu. Supaya kau bisa bergaul," ucap Flora yang masih fokus pada jalan raya. Carissa menghela napas. Sepertinya Flora belum mengerti dengan perasaannya.

Mereka akhirnya sampai sebelum pukul lima.

"Flora, lain kali kita pergi lagi ya? Tapi hanya kita dua saja," pinta Carissa lagi dengan penuh harap. Namun Flora tidak menjawab, Flora keluar dari mobil dan diikuti oleh Carissa.

"Kita pergi lagi kan?" tanya Carissa.

"Baiklah," jawab Flora akhirnya. Lalu mereka berjalan menuju kamar masing-masing. Jawaban Flora tampak kurang memuaskan Carissa. Dengan raut kecewa Carissa masuk ke dalam kamarnya.

Seminggu setelah hari itu, Flora kembali keluar mansion tanpa mengajak Carissa. Dan hari-hari berikutnya, kakaknya itu tidak pernah lagi mengajak Carissa. Carissa hanya bisa melihat kepergian Flora dengan raut iri. Seandainya Carissa memiliki keberanian yang besar seperti Flora, Carissa pasti akan melakukan hal yang sama.

***




MY MYSTERIOUS BODYGUARDBaca cerita ini secara GRATIS!