KALANDRA 👟 16

13 5 0

Latihan. Agar ketika jatuh tidak terlalu sakit.

Waktu ke waktu berlalu begitu cepat berlalu, mengingat banyaknya tugas yang harus Kala selesaikan, ia pun memilih untuk mengungsikan dirinya ke perpustakaan. Tidak lupa dengan Akmal yang selalu ada di sisinya.

"La,  lo dapat tugas tambahan lagi dari Mr. Karan?" tanya Akmal.

"Um." balas Kala.

"Terus, makalahnya Pak Burhan udah selesai?" tanya Akmal lagi. Kala menoleh.

"Dah dikumpulin." jawab Kala cepat. Pandangannya tidak terlepas dari pulpen dan kertas yang ada di meja perpustakaan. Pulpen ditangannya yang menari indah diatas kertas  putih.

"La, hari ini gue cabut duluan ya, latihan futsal soalnya." ujar Akmal.

"Gue ikut." dahut Kala.

"La, lo itu harus pulihin dulu kesehatan lo. Yang ada lo pingsan lagi kaya kemarin." jelas Akmal.

"Dah lama. Ikut pokoknya, besok  udah gak bisa mau persiapan Perfomance Mal." balas Kala.

"Its oke. Buruan gih." Putus Akmal.

"Habis ini, ada jam siapa ?" tanya Kala.

"Udah Abis, cuma 2 MK doang." jawab Akmal.

Kala mengangguk lalu meneruskan kegiatannya yang sebentar lagi usai. Sementara Akmal sibuk dengan kegiatannya sendiri bermain game mobile di ponselnya.  Sekitar 2 atau 3 tahun lalu, ketika Kala masih duduk dibangku SMA. Kala sering kali keluar masuk rumah sakit. Saat itu ketika ia harus menghadapi kejuaraan nasional yang ada di Jakarta, tepat di mana pengumuman kejuaraan itu di umumkan. Di sanalah Kala berdiri lemah menahan sakit yang amat sangat mengerikan.

Waktu itu, Jakarta 8 Februari 2017.

"Bang, sekarang gue cuma minta satu permintaan. Dan lo, harus kabulin." ujarnya kala itu.

"Ngga La, gue ngga mau." tolak Ravi.

"Pelis kumohon." pintanya.

"Liat kondisi lo sekarang, La. Terkapar ngga berdaya kaya sekarang, gue mana bisa daftarin."  balas Ravi.

"Gue ngga apa-apa, Bang. Cuma demam biasa." pinta cowok Kala.

"Bubun sama Papa harus tahu, kalau engga gue akan bersalah nanti." jawab Ravi.

Kalandra mengukir senyum cerahnya, meski wajahnya sangat pucat, tidak bergairah. Tapi cowok itu tetap menampakkan wajah sumringahnya.

"Thanks buanget deh."katanya lagi.

"Um." Hanya itu yang Ravi katakan.

Gor Jakarta Utara.

Gemuruh tepuk tangan memenuhi stadion yang ukurannya cukup besar. Tidak hanya dari perguruan Kalandra saja, tetapi dari beberapa daerau pun menampilkan perwakilannya untuk pertandingan  saat itu.

"Inget La, lawan lo bukan kaya tempo lalu. Lo harus hati-hatI. Jujur gue ngga suka perdebatan kemarin. Apalagi sama Papa." ujar Ravi. Kala mengangguk.

"Bang, gue janji bakalan hati-hati." jawab Kala. Cowok itu sudah siap dengan pakaian kebesarannya. Gagah tapi juga menggemaskan. Meski sempat di bantah oleh Akbar, Sang Papa. Tapi, Kala tidak mau mengurungkan niatnya sedikit pun.

"Jangan lupa apa yang udah lo pelajari, selama latihan. Gue yakin tapi gue juga khawatir." katanya lagi.

"Bang. Gue, Kalandra Rezvan Akbar Putra. Berjanji akan melakukan apapun semampu gue. Jadi, ngga perlu khawatir." katanya mantap , sambil memengang kedua bahu saudaranya.

KEY [COMPLETED]Read this story for FREE!