Keresahan [part 1]

11 6 0

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, namun mataku masih tetap terjaga. Mimpi sebelumnya yang memutar kembali kejadian saat aku dan kak Edo putus membuatku teringat tentang bagaimana perasaanku yang dengan mudahnya hilang begitu saja terhadap kak Edo. Selain karena sifat dia yang rupanya tak cocok jika dipersatukan dengan sifatku, alasan lainnya adalah karena adanya orang ketiga.

Entah darimana perasaan baru itu muncul, aku dengan mudahnya jatuh cinta kepada orang lain yang bahkan belum pasti dia juga jatuh cinta denganku. Setelah itu, aku rela meminta putus dengan kak Edo, demi kebebasan atas perkembangan hubunganku dengan orang ketiga diantara kami. Namun, tabiat seorang Edo rupanya sangat mempersulitku. Dia selalu menggunakan berbagai cara agar aku tak mau putus dengannya. Hingga akhirnya dia dekat dengan cewek lain dan setelah itu lah dia mau putus denganku.

Berbeda dengan kak Edo yang telah memiliki pengganti yang pasti, aku justru sebaliknya. Orang ketiga diantara kami rupanya tak pernah melihat ke arahku dalam pandangan yang khusus. Hubunganku dengannya berakhir buruk, kami bahkan tak lagi saling berhubungan, bertanya kabar pun tidak. Kami menjadi dua orang yang kini tak lagi saling mengenal. Dan sejak saat itulah aku tak lagi mampu untuk melihat cowok dalam kacamata khusus, semuanya sama, tak ada yang spesial dimataku.

"Haaahh,. awalnya sih emang baik-baik aja. Tapi kenapa semakin hari aku merasa ada yang kurang ya?" ucapku dalam hati.

***

Sambil menunggu kelas berikutnya dimulai, aku, Putri, dan Devi duduk-duduk di taman yang tak jauh dari kantin. Citra tidak ikut bersama kami karena harus menghadiri rapat organisasi yang dia ikuti. Kami bertiga hanya duduk-duduk santai di sebuah bangku panjang berwarna putih, sambil memegang minuman masing-masing.

"Ohiya Put, gimana semalem sama Niko?" tanya Devi.

Bersamaan dengan dilontarkannya pertanyaan tersebut, aku memalingkan wajahku ke arah Putri.

"Ehm,." ucap Putri yang kemudian dilanjutkan dengan keheningan serta pipinya yang mulai memerah.

"Wah balikan nih kayaknya hehehe" ucapku yang mampu membaca makna dari ekspresi Putri dengan pipinya yang memerah.

"Iya" ucap Putri singkat, disertai pipi yang semakin memerah.

"Waaahh Selamaatt Putrii,." ucap Devi dengan suara yang lantang.

"Hehe iya makasi Devi" balas Putri.

"Selamat yaa Put, semoga langgeng dan jangan putus lagi yaa hehehe" ucapku.

"Iya, semoga engga yaa, makasii Vanii" balas Putri.

"Bisa nih nanti kita double date ya Put? hehehe" tanya Devi.

"Yaa boleh boleh aja" ucap Putri.

"Vani gimana?" tanya Putri sambil memalingkan wajah ke arahku.

"Ha? Apanya yang gimana?" tanyaku yang tak mampu memahami maksud dari pertanyaan Putri.

"Heeii Put, Vani kan masih jomblo" ucap Devi sambil melancarkan senyum nakal, menggodaku.

"Eh, iya kah Van? Aku pikir kamu uda punya pacar tapi ngga bilang ke kita. Soalnya kamu kan jarang banget ceritain masalah kamu. Jadi ya aku pikir masuk akal juga kalo kamu ngga cerita tentang pacar kamu" ucap Putri dengan ekspresi sedihnya.

"Kalo aku punya pacar ya uda pasti aku bakal cerita ke kalian lah. Kalo soal ngga ceritain masalah itu karena emang aku belakangan lagi ngga ada masalah yang perlu aku ceritain"

"Tapi Van, kamu emang lagi ngga mau pacaran ya? Kamu terakhir pacaran waktu sama kak Edo kan? Itu juga waktu kelas satu SMK" tanya Devi dengan ekspresi wajah yang penuh rasa penasaran.

Love SignWhere stories live. Discover now