Chapter 16

44 21 2

Hari demi haripun telah berganti, Syahid bersama Dinda sudah melewati honeymoon mereka. Dan kini kedua sepasang suami istri kembali menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasanya, Syahid yang kembali berkerja di kantor milik abinya dan Dinda yang berperan sebagai ibu rumah tangga.

Hujan turun membasahi bumi, awan pun berubah menjadi mendung. Derasnya air berjatuhan menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.

Dinda gadis itu mempunyai phobia terhadap hujan yang di mana mempunyai rasa takut yang amat besar, tidak berani menghadapi situasi yang terjadi. Dari sejak umur 6 tahun Dinda mengalami phobia ini, entah karena apa. Sering kali ia berobat untuk menyembuhkannya tetapi sampai sekarang phobia itu tidak kunjung hilang dalam dirinya. Dinda yang bersama pembantunya bi Inah berada di kamar gadis itu, Dinda yang meminta bi Inah menemaninya merasakan tubuhnya gemetar hebat, jantungnya berdebar cepat, dan wajahnya memerah mengeluarkan keringat. Dalam dekapan bi Inah, Dinda menangis dan menutup kupingnya. Terdengar suara geleduk yang mengelar.

"Non, tenang jangan takut," ujar bi Inah, mengusap punggung gadis itu berusaha menenangkannya.

"Bi kapan hujannya berhenti, Dinda takut," ucapnya yang diselingi dengan isak tangis.

"Sebentar lagi juga berhenti non, sebaiknya non pejamkan mata non aja. Tidur, bibi nemenin non Dinda kok di sini, gak usah takut."

Dinda hanya mengangguk, berusaha menutup matanya dan menutup kupingnya dengan kedua tangannya ia berusaha untuk tidur tetapi tidak bisa.

"Enggak bisa bi, sekarang jam berapa?"

Bi Inah melihat jam dinding yang berada di kamar jam sudah menunjukan waktu pukul lima sore.

"Udah jam lima sore non,"

"Udah sejam tapi hujan belum berhenti," gumam Dinda.

Tidak kerasa lama-kelamaan gadis itu terlelap tidur membuat bi Inah menghela napas lega. Ia beranjak dari tempat tidur lalu menyelimuti Dinda setelah itu berlalu ke luar kamar untuk menyiapkan makan malam.

Sedangkan di lain tempat Syahid yang baru saja selesai dengan pekerjaannya ia melihat jam tangan yang bertengger di pergelangan tangannya. Lalu ia menoleh ke arah jendela.

"Alhamdulillah, hujan sudah berhenti."

"Pasti tadi Dinda sangat ketakutan." gumamnya.

Pria itu merapikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum ia berlalu pergi karena sudah jam pulang kantor.

"Assalamu'alaikum," salam ayahnya yaitu mertua Syahid.

"Wa'alaikum salam," jawab Syahid.

"Sudah mau pulang hid? Ini titipan bunda buat kamu sama Dinda. Katanya kemarin Dinda merengek minta bronies buatan bunda," uhar ayah menjulurkan bungkusan yang berisi kue.

"Iya yah ini mau pulang, terima kasih yah."

"Sama-sama. Ya sudah, ayah pamit pulang duluan. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam," sambil mencium punggung tangan ayah.

Dan Syahid bergegas pulang.

*****

Deru mobil terdengar dari halaman rumah, kemudian tak berlangsung lama Dinda keluar dengan baju piyama. Menghampiri sang suami dan tak lupa untuk mencium punggung tangan pria itu, dan Syahid pun juga tak lupa memberikan kecupan pada kening Dinda.

"Assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikum salam, mas lama banget sih. Ini udah jam setengah tujuh," kata Dinda.

The Light Of Allah's LoveWhere stories live. Discover now