KALANDRA 👟 15.

17 5 1


Sudah hampir satu minggu, akhirnya Kalandra pun bisa terbebas dari nestapanya rumah sakit. Jika dilihat Kala tidak menderita apapun, selaly segar bugar, bahkan tak menampakan kalau dirinya sedang rapuh.

"Dek, kamu baru aja pulang ke rumah, apa ngga sebaiknya istirahat dulu, kuliahnya cuti dulu aja." usul Mentari.

"Bun, aku udah hampir seminggu ngga masuk, untung ada Akmal, yang selalu ngabarin kalau ada tugas. Boleh ya, janji ngga capek-capek deh." mohon Kala.

"Kaya Papa kamu banget sih, susah dibilangin. Yaudah janji lho," ujar Mentari akhirnya.

"Yes, okey Bun, assalamualaikum. Bubun debes pokoknya." pekik Kala senang. Ia memeluk Ibunya dan mencium pipi Ibunya dengan sayang. Mentari hanya bisa berdoa agar putra bungsunya selalu sehat dan tersenyum seperti sekarang. Ia mengusap lembut lengan putranya.

"Yaudah sana, udah ditungguin Akmal tuh, kasihan." ucap Mentari

"Yaudah dah-dah Bun. Miss you!" katanya sambil berlari kecil usai pamitan pada Mentari.

"Lho, ngga sarapan dulu dia?" tanya Akbar sambil merangkul bahu istrinya.

"Sudah Mas, justru dia yang bangunin aku. Tadi, kan usai subuh, aku ketiduran, Mas juga, kan?" jawab Mentari.

"Iya sih, yaudah aku berangkat dulu yah," ujar Akbar, menyodorkan tanganya. Mentari pun mencium punggung tangan suaminya. Tidak lupa ciuman sayang Akbar tepat di kening Mentari.

"Assalamualaikum." pamit Akbar.

"Walaikumsalam, hati-hati Mas." pesan Mentari. Akbar berbalik dan tersenyum. Baru lah dia masuk kedalam mobilnya dan melanjukannya.

Baru saja akan menutup pintu, suara teriakan putri sulungnya terdengar begitu kencang, sampai Mentari harus berlari menaiki anak tangga, karena khawatir.

"Kak, ada apa ?" tanya Ravi terkejut.

Beruntungnya Ravi belum pergi. Jadi Ravi dengan cepat masuk kedalam kamar Kakanya yang bersebelahan dengan kamarnya. Ketika Mentari sampai pada anak tangga terakhir , kakinya bergetar lemas, tapi Mentari terus berjalan menghampiri putrinya untuk melihat apa yang terjadi di sana.

"Ada apa, Nak?" tanya Mentari saat tiba di kamar putrinya.

Davina melihat sendu pada ibunya. Bahkan pertanyaan Ravi adiknya pun ia hiraukan.

"Bun-" panggil Davina lirih.

"Kenapa, Sayang?" ulang Mentari, ia menghampiri putrinya lalu memeluknya sambil mengusap lembut punggung putrinya.

Davina memeluk ibunya denga erat, tangisnya tumpah dalam pelukan Mentari Sang Ibu.

"Kak, ada apa ?" tanya Ravi bingung.

"Bun, aku takut." ucap Davina lirih.

"Iya, Nak. Tapi, ada apa sampai kamu berteriak kencang begitu?" tanya Mentari lembut.

"Ada itu Bun," katanya gugup.

"Apa sih Kak? Yang bener apa ngomongnya." dercak Ravi.

"Vin duduk dulu yuk, cerita sama Bubun dan Ravi, kamu habis ngepain. Oke?" kata Mentari lembut, sambil membawa Davina duduk di kasur. Usapan lembut Mentari membuat putri sulungnya menatap Ravi lekat.

"Kenapa?"

Cowok itu terus meminta jawaban pada Kakaknya. Karena teriakan Davina, Ravi yang sedang enak tidur itu harus jatuh karena terkejut.

Kesal?
Sudah pasti Ravi kesal. Jangan ditanya bagaimana kondisi Ravi saat bangun tidur. Dia begitu acak-acakan, membuat Mentari yang tadinya terfokus pada Davina, harus beralih pada Putranya yang lain.

KEY [COMPLETED]Read this story for FREE!