08. Fake Friend, True Friend

415 78 5

WARNING!!
-Metode Penulisan Berbeda
-Percakapan Non-Baku
-Happy Reading & Semoga Betah

.

.

.

.

Bukti! Sesuatu yang dibutuhkan untuk dapat mengarahkan tuduhan pada seseorang. Namun, tak semua bukti kasat mata itu murni seperti apa yang telah ditangkap netra kita. Sesuatu yang menjadi bukti mungkin dapat kita lihat dengan mudah, namun sesuatu yang tersembunyi di balik sebuah bukti belum tentu dapat kita pecahkan dengan mudah. Jangan mudah percaya hanya dengan secuil bukti, karena dibalik secuil bukti, mungkin ada beribu kepalsuan disana. Telaah dengan teliti, cermati dengan nurani, niscaya kita akan mendapat kebenaran yang hakiki.

.

.

.

.

"Eh..eh.. Mukamu kenapa? Masih pagi kok udah kusut gitu?" Tanya Jevan ketika tungkainya menginjakkan kaki di kelas dan langsung menangkap sosok sang sahabat.

"Percuma aku jelasin! Kamu pasti gak bakal percaya." Jawab Sky badmood.

"Emangnya ada apa sih?" Tanya Jevan sambil meletakkan tasnya dan menyamankan posisi duduknya di samping Sky.

Sky tak bergeming, bahkan menatap Jevan pun tidak.

"Itu arloji kamu nemu dimana?" Tanya Jevan lagi mencoba mengalihkan pembicaraan, tak tau saja dia bahwa sebenarnya arloji itu adalah inti dari permasalahan Sky.

"Kan aku udah bilang, kamu gak bakal percaya, jadi berhenti nanya-nanya!" Jawab Sky agak kesal.

"Kamu kan belum cerita, jadi gimana caranya kamu tau kalo aku bakal percaya atau gak?" Jevan tetap bersikeras memaksa Sky untuk berbagi.

"Haah.. Kalo aku bilang yang ngambil arloji aku adalah Rain, apa kamu percaya?" Tanya Sky menguji karena memang begitu adanya.

"Hah?! Apa? Gak mung.."...

"Kamu gak percaya kan? Ya udah.."...

"Tapi..tapi.. Masa sih Rain yang ngambil? Kamu gak salah nuduh orang kan?" Tanya Jevan membuat Sky gereget ingin menjitaknya.

"Sebenci-bencinya aku sama dia, selama ini aku tuh cuma diem aja. Aku gak pernah macem-macem sama dia, dan sekarang apa? Malah dia yang berani macem-macem sama aku. Kemaren aku liat sendiri arloji aku jatoh dari dalem tasnya pas dia lagi nyari sesuatu. Papa juga ada disana kok, dia saksinya." Jawab Sky yang akhirnya menumpahkan semua keluh kesahnya.

Jevan menatap Sky dengan mulut sedikit terbuka dan kepala yang terus-menerus menggeleng. Kaget? Tentu. Ia masih tak percaya bahwa anak sepolos dan selugu Rain ternyata hatinya busuk, bahkan setelah mendengar penjelasan dari mulut Sky, dia masih menolak kenyataan bahwa Rain memanglah satu-satunya tersangka utama.

"Hai semua!"...

Mereka bedua yang masih terlarut dalam suasana yang kurang mengenakkan kompak menoleh setelah mendengar sapaan dari seseorang yang sudah berdiri sambil tersenyum di depan meja mereka.

"Lagi pada ngapain?" Tanyanya masih dengan senyum yang mampu membuat sikap dinginnya Sky meleleh.

Sky dan Jevan saling pandang. Untuk Jevan, mungkin dia akan menyambutnya dengan baik, secara Jevan memang hangat terhadap semua orang yang baik, tapi Sky? Jika saja dia tak mengingat kejadian kemarin, mungkin dia sudah memaki orang yang sok kenal di depan mejanya saat ini.

"Sky, handphone kamu gimana? Perlu diganti?" Tanyanya lagi.

Butuh waktu agak lama untuk Sky menyahut.

[3]Rain From The SkyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang