-Dua-

323 35 5

Langkah seorang pria begitu terburu-buru memasuki sebuah kedai kopi. Pria itu berencana akan mengunjungi rumah seseorang yang sangat dirindukannya namun sebelum itu ia akan meminum kopi terlebih dahulu sebab ia kurang tidur dan akan melakukan perjalanan yang panjang tentu akan melelahkan.

Di waktu yang bersamaan, pria itu tak sengaja berpapasan dengan sosok wanita paruh baya yang sangat ia kenal. Mata mereka saling memandang, wanita paruh baya itu terpaku melihat sosok pemuda di depannya. Tanpa kata, wanita itu memeluk pemuda tersebut.

“Mama rindu tahu,”

“Iya, Gara juga rindu sama Mama Anggun,” yah, pemuda itu adalah Gara.

Anggun mengurai pelukannya dan melayangkan pukulan kecil di pundak Gara.

“Jahat yah kamu enggak pernah kasih kabar ke Mama. Lagi di sini juga enggak kasih tahu, sumpah yah Mama sedih kamu kayak gini,”

Gara menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman dan memegang tangan Anggun mengajak untuk mengobrol sejenak.

“Maaf, Gara benar-benar sibuk. Gara aja jarang pegang hp lebih sering laptop kerjain laporan pratikum,”

“Iya tapikan setidaknya kabarin gitu, kamu kan udah janji sering-sering kasih kabar. Udah dua tahun loh, Gar, kamu pergi tanpa kabar sama sekali,” gerutu Anggun sambil mencibikkan bibirnya.

“Sumpah, Ma, Gara emang sibuk banget, ini aja Gara baru balik ke Indonesia, Nenek aku sakit di Palembang jadi aku harus balik dan enggak sempat kasih Mama kabar atau pun, Syasa, oh, iya Mama udah tahu kan kalau Mama sama Papa Gara udah pindah?”

Anggun mengangguk. Benar, Mama dan Papa Gara beserta saudaranya telah pindah ke Malang karena suatu hal tertentu yang mengharuskan mereka pindah. Sebelum pindah pun, kedua orang tua Gara mengunjungi rumah Anggun dan Gunawan untuk pamitan.

“Oh, iya, Ma, Syasa gimana? Sehat kan?”

Sekali lagi, Anggun kembali menganggukkan kepala. Sejenak dia terdiam, sebenarnya ada hal yang tidak diketahui Gara dan rasanya, Anggun tidak enak hati membicarakan hal itu pada Gara.

“Ma, kenapa?” Gara menyadari perubahan mimik wajah dari Anggun.

Anggun tersadar dan segera memasang senyum, “eh, enggak, iya Syasa alhamdulillah sehat,” ponsel milik Anggun tiba-tiba berdering, nampak nama Syasa tertera di layar ponsel.

Anggun mengangkat panggilan itu, suara yang pertama kali, ia dengar adalah suara lengkingan Syasa dan Gara juga mendegarnya, dalam hati Gara sangat rindu dan tak sabar memeluk Syasa sangat erat.

“Mama, kok enggak di rumah? Ke mana sih? Ya udah lah, urusan Mama mau ke mana, Syasa cuma pengen pamit, Mas Danu katanya mau ngajak Syasa makan siang, setelah itu jemput Mamanya Mas Danu di stasiun kereta. Udah yah, Mama hati-hati kalau urusannya udah beres langsung pulang, ingat anak dan suami. Assalamualaikum,”

Sambungan terputus. Suara Syasa yang keras dan volume suara ponsel Anggun juga keras jadi lah Gara bisa mendengar ocehan Syasa tadi.

“Ma, Gara boleh nanya?”

“Hm, boleh, apa?” dalam hati Anggun sudah was-was jika Gara mendengar suara Syasa tadi dan mempertanyakan sosok Danu yang di ucapkan oleh Syasa.

“Mas Danu, siapa?” Anggun semakin gugup, ia mengerjapkan matanya berkali-kali.

“Eng—itu, dia,”

Gara mengerti. Seakan ia bisa menebak apa yang dipikiran Anggun, tetapi ia paham dengan gelagat Anggun ketika ia menanyakan sosok Danu. Apalagi ketika Syasa mengatakan akan menjemput Mama dari Danu, sudah pasti sosok Danu bukan lah orang asing melainkan sosok yang special. Setahu Gara, Syasa tidak memiliki kerabat bernama Danu, lagi pula kalau pun iya Anggun tidak akan segugup itu dan akan menjawab pertanyaan dengan cepat dan santai.

Take Me Back! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang