Chapter 15

50 27 2

Seusai acara telah selesai pada jam sembilan malam, dan kedua orang tua beserta adik Syahidpun pamit pulang pada jam sebelas malam di karenakan ada urusan dadakan yang tidak bisa di tunda hingga mereka tidak bisa menginap di rumah Dinda.

Setelah mengantarkan abi, umi, dan Aisyah sampai di mobil dan kendaraan itu melaju pergi meninggalkan kediaman mereka, lantas Syahid dan Dinda permisi kepada bunda dan ayah menuju ke kamar milik Dinda untuk membersihkan diri dan istirahat. Saat sudah berada di kamar gadis itu duduk di depan cermin meja riasnya sedangkan Syahid berdiri di sampingnya.
Dada Dinda berdegup cepat saat ini karena di dalam kamar hanya ada mereka berdua.

Dinda yang gugup, mengalihkannya dengan cara menghapus make up terlebih dahulu di wajahnya.

"Din, saya mandi terlebih dahulu ya," ujar Syahid.

Dinda mengangguk, "iya kak."

Lalu Syahid berjalan menuju lemari pakaian dalam lemari tersebut sudah ada beberapa pakaian milik Syahid. Setelah mengambil ia langsung masuk ke kamar mandi.

Dinda menghela napas lega, sungguh ia sangat gugup setengah mati saat ini. Dinda beranjak dari duduknya dan memgambil pakaian ganti setelah itu ia keluar kamar menuju kamar mandi kamar bundanya, ia memilih membersihkan diri di sana karena sudah sangat lengket dan gerah.

Hanya beberapa menit Dinda telah selesai ia kembali menuju kamarnya. Dan mendapati Syahid yang sedang bertelepon berdiri menghadap keluar jendela.

Dinda melangkahkan kakinya ke kasur lalu duduk terdiam, menunggu Syahid selesai.

"Kamu tadi berganti di mana?" tanya Syahid yang sudah selesai berteleponan.

Dan Syahid menghampiri Dinda dan duduk di kasur tempat sebelahnya kiri.

"Di kamar bunda, mas," jawab Dinda yang merubah panggilan untuk Syahid.

"Din, ada suatu hal yang ingin saya ucapkan padamu, sudah lama saya ingin mengatakannya sekarang saya ingin jujur dengan perasaan saya sama kamu,"

Dinda menyimak ucapan suaminya dengan seksama. Syahid mendekati Dinda dan meraih kedua tangan gadis itu di genggamnya, pria itu menatap lekat mata Dinda.

Sebelum mengungkapkan perasaanya Syahid mengembuskan napas, menyentralkan degup jantungnya yang tiba-tiba berpacu begitu cepat.

"Din, saya sangat mencintaimu. Mencintaimu karena Allah," tutur Syahid.

Dinda terpaku dengan ucapan Syahid ada rasa senang di lubuk hatinya, dengan kegugupan yang melandanya dan sedikit keberanian Dinda membalas ucapan Syahid dengan lembutnya.

"Aku juga mas, mencintaimu sangat mencintaimu. Cinta ini pun sudah tumbuh sejak awal kita dekat," ujar Dinda malu.

Syahid menghelus puncak kepala Dinda dengan lembut dan penuh kasih sayang.

"Riwayat dari Abdullah bin Abbas ra, berkata Rasullullah  shallallahu'alaihi wa sallam bersabda :
Cintailah Allah atas anugerah nikmat yang diberikan kepadamu, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah, dan cintailah keluargaku karena mencintaiku.
(Hr. At- Tirmidzy dan Al- Hakim)." ujar Syahid kepada gadis yang ada di hadapannya.

Gadis itu tersenyum dan menganggukan kepala, "aku mencintaimu karena Allah. Rasa ini bukanlah cinta yang mengebu-ngebu sampai aku lupa kepada-Nya. Terima kasih mas telah mengajarkanku banyak hal." Balas Dinda dan memberikan senyuman kepada Syahid.

Lalu Syahid mencium kening Dinda cukup lama menyalurkan rasa cintanya dan kemudian membawa Dinda kedalam pelukan hangatnya, Dindapun membalas pelukan itu.

*****

Pagi hari menyinari dunia, Dinda yang sudah terbangun dari tidurnya sejak pukul lima pagi sehabis shalat subuh berjamaah. Ia langsung berkutat ke dapur bersama bundanya menyiapkan sarapan pagi.

"Hari ini, kamu sama Syahid akan langsung pindah ke rumah barumu?" tanya Bunda sambil memotong sosis.

"Mas Syahid gak bicara apa-apa sama aku bun, soal pindah rumah," jawab Dinda.

"Oh, mungkin nanti sehabis sarapan. Apapun keputusan suamimu kamu harus menurutinya ya Din, karena surga seorang istri berada di suaminya," nasehat bunda.

"Iya bun, Dinda paham."

Dinda dan bunda yang telah selesai memasak, mereka menata makanan di meja makan. Lalu Dinda menyiapkan piring-piring beserta sendok.

Tak berapa lama ayah, Syahid, dan Adam datang lalu menduduki bangku masing-masing. Dinda dengan cekatan mengambil makanan untuk Syahid.

Mereka menyantap sarapan pagi dengan nikmatnya tak ada obrolan saat memakan, sudah menjadi kebiasaan mereka karena jika sedang makan mereka tidajk ada yang boleh mengobrol saat makanan yang mereka makan belum selesai.

Beberapa menit kemudian mereka telah selesai, para lelaki berlalu pergi menuju halaman rumah untuk mengobrol. Sedangkan Dinda dan bunda membereskan alat makanan dan mencucinya.

"Bun, Dinda mau ke mas Syahid dulu ya, kerjaan Dinda sudah selesai."

"Ya sudah sana."

Syahid yang sedang bercanda gurau dengan Adam dan ayah, beralih melihat Dinda saat gadis itu sudah berdiri di samping ayah.

"Mas, ada yang mau Dinda bicarakan," ujar Dinda.

Syahid mengangguk dan permisi pada ayah. Lalu mereka berdua menuju ke kamar untuk membicarakan suatu hal.

"Ada apa?" tanya Syahid.

"Kata bunda, mas mau ngajak aku pindah rumah?"

"Astaghfirullah, iya Din. Mas lupa mau bilang ke kamu. Nanti sore kita akan pindah ke rumah baru kita. Kamu gak masalah kan? Maaf jika ini kecepatan."

"Tidak mas, gapapa Dinda mengikuti saja apa kata mas Syahid. Ya udah Dinda beres-beres perlengkapan yang akan kita bawa,"

Syahid mengelus pucak kepala Dinda lalu mengecup kening Dinda. "Baiklah, mas Sayang kamu." kata Syahid.

Pipi Dinda merah merona mendapatkan perlakuan dari sang suami.


🌼🌼🌼🌼🌼

Maafkan aku, jika alurnya makin tidak jelas ya teman-teman🙏

See you next part😇

The Light Of Allah's LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang