-Satu-

576 44 5

Satu bulan berlalu, sejak Gara pergi Syasa mencoba menjalani hidupnya seperti biasa sebelum mengenal Gara. Anggun, Gunawan, Arya beserta para sahabatnya selalu berada di sisi Syasa sehingga dia tak begitu merasa kesepian walau ia tidak bisa menampik jika kepergian Gara sungguh membuat hatinya tersiksa menahan rindu yang begitu dalam.

Syasa sedikit kecewa sebab Gara sama sekali tidak memberinya kabar sejak pria itu pergi. Syasa selalu ingin menghubungi Gara tetapi rasanya ia malu sebab dengan mudah kata putus keluar dari bibirnya. Syasa memejamkan matanya, ia melirik ponselnya dan tampak di layar ponsel menunjukkan pukul 01.30. Entah mengapa matanya enggan terpejam. Syasa membuka aplikasi instagram dan sudah berulang kali gadis itu menjelajahi aplikasi tersebut namun tidak ada hal yang menarik sekali pun. Apalagi akun milik Gara juga tidak memposting apa pun.

Syasa mematikan ponselnya dan memaksa matanya terpejam. Ia harus segera tidur soalnya besok dia akan terapi. Syasa tidak putus asa untuk terus terapi dan beberapa hari yang lalu ia dikejutkan dengan kakinya sudah bisa digerakkan walau tidak langsung jalan namun ia bersyukur dia sudah tidak menggunakan kursi roda lagi melainkan tongkat, sedikit demi sedikit ia sudah bisa menggerakkan kakinya. Perlahan kantuk menyerangnya hingga Syasa mulai masuk ke dalam mimpinya.

Terik matahari yang begitu silau membuat Syasa yang meringkuk bangun dari tidurnya. Matanya terbuka namun menyipit ketika sinar mentari menyambarnya. Syasa merenggangkan tangannya, pintu terbuka menampakkan sosok Anggun yang hendak mengingatkan Syasa untuk terapi pukul 9 pagi.

Syasa dibantu oleh Anggun bersiap-siap. Setelah itu, Anggun pamit sebentar untuk ke kamar mengambil tas dan handphone lalu segera pergi menuju rumah sakit.

                                     ****

“Ayo, Nak, kamu bisa,” Anggun memberi semangat pada sang putri yang kini sedang berlatih berjalan dengan bantuan tongkat berkaki empat. Kaki Syasa perlahan melangkah, kaku yang pertama kali Syasa rasakan tapi Syasa terus melatih kakinya agar kakinya kembali lentur dan bisa berjalan.

Kondisi Syasa semakin membaik, Anggun terpekik girang melihat Syasa telah berhasil berjalan sebanyak 10 langkah. Dalam hatinya, ia sangat terharu, ia semakin optimis jika Syasa akan berjalan seperti dulu.

Dokter ikut senang melihat perkembangan Syasa yang begitu pesat. Dokter memberi pesan pada Syasa agar sering-sering berlatih berjalan agar kakinya bisa digerakkan kembali. Syasa menyeka peluh yang membajiri keningnya, setiap latihan berjalan tenaganya tentu akan terkuras tetapi ia tidak mengeluh sama sekali karena ia yakin akan segera berjalan dengan normal.

Anggun menyodorkan air mineral pada Syasa. Anggun meninggalkan Syasa sejenak dan mengikut dokter yang akan membicarakan suatu hal. Syasa duduk di kursi, ia mencoba menggerakkan kakinya ke kanan dan ke kiri dengan gerakan lembut sebagai stimulasi kelenturan kakinya.

Syasa tidak bisa berdiam terus, semagat untuk berlatih membara di dalam dirinya. Syasa bangkit dari kursi lalu memegang tongkat dan mencoba melangkah. Perlahan tapi pasti Syasa kembali melangkah namun kali ini kakinya terasa lebih luwes untuk digerakkan. Syasa memberanikan diri untuk berjalan tanpa tongkat. Syasa terjatuh karena belum bisa mengimbangi tubuhnya. Hal itu tak lantas membuatnya putus asa, Syasa kembali bangkit dengan bantuan tongkat.

“Bisa, lo pasti bisa, Sya. Semangat!” Syasa mengembuskan napasnya perlahan, ia akan mencoba lagi. Syasa kembali jatuh dan sikunya terluka ketika bergesekan dengan ujung meja yang cukup runcing. Syasa terjatuh hingga berulang kali tetapi tidak menyurutkan semangatnya, hingga akhirnya Syasa berhasil seperti pepatah proses tidak pernah mengkhianati hasil. Syasa berhasil berjalan tanpa menggunakan tongkat berkat kegigihannya dalam berlatih tanpa putus asa.

Pintu terbuka, Anggun terpaku di tempatnya melihat Syasa berjalan tanpa menggunakan tongkat. Syasa menoleh ketika mendengar decitan pintu yang terbuka, Syasa tersenyum dan berjalan dengan hati-hati ke arah Anggun berdiri. Mata Anggun berkaca-kaca, ia sangat bahagia, ia memeluk Syasa ketika telah berada di depannya.

“Alhamdulillah, Ya Allah, kamu udah bisa jalan, Nak. Mama sangat bersyukur,” Anggun memeluk erat Syasa.

Syasa mengangguk sekilas dan membalas pelukan Anggun tak kalah erat. Syasa ikut terharu dengan kondisinya sekarang, dokter yang menanganinya selama ini pun memberi ucapan selamat dan syukur atas keberhasilan Syasa. Anggun tak sabar mengabari sang suami dan Arya. Mereka pasti sangat senang mendengar kabar gembira ini. Anggun tak lupa memberi kabar pada Fia dan Winda selaku sahabat yang selalu mendampingi Syasa. Winda dan Jane pun memberi arahan pada Anggun untuk mengajak Syasa berkeliling sebab mereka ingin memberi kejutan pada Syasa.

Alhasil, Anggun mengajak Syasa ke sebuah toko kue dan restoran untuk memesan 80 bungkus kue dan nasi dos untuk dibagikan ke panti asuhan sebagai rasa syukur. Di panti asuhan, Syasa dan Anggun di sambut baik oleh pengurus dan anak-anak di panti asuhan Pelita.

Mereka berdoa bersama dan setelah itu mereka bermain sebentar. Anggun dan Syasa menghabiskan waktu di panti asuhan selama satu jam. Anggun meraih ponselnya yang bergetar ada pesan masuk yaitu dari Winda yang mengatakan kejutan sudah siap apalagi kejutan itu sudah lengkap dengan kehadiran Gunawan dan Arya, begitu mereka mendapatkan kabar gembira dari Anggun mereka segera pulang tak sabar ingin melihat Syasa berjalan seperti dulu.

Setibanya di rumah, Syasa berjalan lebih dulu di bandingkan Anggun. Syasa belum menyadari tingkah ibunya yang sedari tadi memegang Handphpne. Di belakang, Anggun memberitahu Winda jika Syasa telah berjalan masuk. Sesampainya di depan pintu, Syasa melirik ke belakang dan menatap sang ibu dengan tatapan penuh tanya.

“Mama hp-nya di simpan dulu, ntar kesandung jatuh kan,” tegurnya belum menyadari kelagat aneh sang ibu.

Anggun menyengir, “eh, ini teman-teman Mama katanya pengen ngajak arisan,” bohongnya.

Syasa memutar bola matanya, tangannya meraih gagang pintu lalu diputarnya secara perlahan hingga pintu terbuka.

“Surprise,”

Winda, Hani, Gunawan, Arya dan ternyata Ciko dan Rendi juga berada di sana. Banyak balon-balon dan juga tulisan selamat pada Syasa. Gunawan berdiri paling depan langsung memeluk sang putri sangat erat dan menitihkan air mata saking terharunya.

“Papa sangat bahagia, ini berkat semangat kamu dan tidak pernah berhenti berlatih,” Gunawan mengurai pelukannya dan mencium kening sang anak.

Arya juga ikut memeluk sang Kakak, “Arya senang Kakak bisa jalan lagi, congrats Kak!”

Syasa membalas pelukan Arya dan mengangguk sekilas perkataan Arya. Setelah itu, lanjut dengan Winda dan Fia. 

“Peluk abang, dong neng,” Rendi hendak maju sembari merentangkan tangannya yang dicegat oleh Ciko.

“Kampret, jangan macam-macam lo pengen digibeng sama Gara,” sembur Ciko sukses membuat Syasa terdiam mendengar nama Gara disebut.

Winda dan Fia menyadari keadaan menjadi hening mengalihkan suasana agar kembali cair dan hangat. Acara dilanjut dengan makan-makan bersama, namun di tengah keramaian Syasa merasa sepi sangat sepi. Ada sosok yang membuatnya merasa kehilangan siapa lagi kalau bukan Gara.

Syasa memejamkan matanya dan merebahkan tubuhnya di kasur saat semua teman-temannya telah pulang karena acara memang sudah selesai.

“Gue rindu, Gar!”

















---

RA

---

Nyatanya, aku enggak bisa gak update lama-lama, dan aku kembali. Eits, tapi cerita ini akan update tergantung dari respon kalian. Jadi aku kasih kesempatan untuk para readers segera vote dan penuhi kolom komentar kalau cerita ini dapat respon bagus dari kalian aku janji bakal update di tanggal 18 nanti. So, nasib cerita ini berada di tangan kalian.

Karena ini chapter awal jadi masih belum greget tapi aku bisa jamin di chapter selanjutnya akan membuat kalian gemas hehe 😂 eh btw kalau ada typo mohon koreksi yah:)

Sampai jumpa😘

Salam cinta dan rindu ❤

Take Me Back! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang