Sweet Man Is My Husband.

157K 4.2K 46
                                    

Happy Reading.


Sesuai janji. Part sebelumnya tembus 100 like double Update.

*

Jimin gemas melihat Aliya yang terus ingin mengenakan bikini. Keduanya dan dikamar mandi pantai dan Aliya menunjukkan bikini padanya, rencananya Aliya akan minta ijin untuk mengenakan bikini pada Jimin dan jelas jawaban Jimin tidak.

Bagaimana bisa Aliya mau menunjukkan tubuhnya pada orang lain. Tidak boleh, hanya Jimin yang boleh melihat tubuh Aliya.

Entah sudah berapa puluh kali aku merengek pada Jimin, menunjukkan sebuah bikini padanya tapi reaksinya benar-benar membuat aku gemas dan kesal. Jimin terus melarang dan mengatakan tidak. Ya Tuhan aku ingin sekali mengenakan ini, sebelumnya aku tidak pernah mengenakan pakaian seperti ini, jelas alasanku karena Kakekku. Dia tidak pernah mengijinkan aku mengenakan pakaian minim. Menyebalkan bukan?

"Ayolah Ji!" Jimin menggeleng penuh tegas dan meraih bikiniku. Melemparkannya ketempat sampah dan aku mendengus kesal. Kami ada ditoilet bersama dan rencananya aku minta ijin pada Jimin, tapi lihatlah dia sudah membuang bikiniku. Menyesal aku minta ijin. Sialan.

"Tidak. Hanya kaos dan celana ini yang kau kenakan. Selebihnya tidak ada bikini-bikinian. Aku tidak mau tubuhmu dilihat orang lain. Faham" Jimin tidak terbantahkan, menarikku dan mengakhiri perdebatan kami. Jimin membawaku keluar dari toilet dan aku sudah mau mual sendiri. Ada beberapa pasangan yang saling meraba disini bahkan tangan siwanita sudah masuk kedalam celana ketat si laki-laki. Belum lagi suara-suara yang mereka keluarkan. Demi Tuhan memalukan.

"Keberatan Hem?" Aku menggeleng dan masuk kedalam pelukan Jimin.

"Tidak hanya saja mereka tidak tau tempat, bukankah seharusnya itu jadi hal privasi? Mereka justru mengumbarnya. Itu memalukan, kita memang melakukan itu tapi tempatnya adalah privasi, bukanya mereka ditempat umum" ketusku yang semakin mengeratkan pelukan pada Jimin.

"Kita bisa mencobanya" aku memelototi Jimin setelah kata-kata vulgar itu keluar dari bibirnya. Dia gila hah? Dasar idiot.

"Aku mengerti" kekeh Jimin dan mengeratkan pelukannya pada pinggangku. Kami menuju bibir pantai dan Jimin langsung membawaku masuk kedalam air. Ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kami dan aku yakin jika mereka menatap Jimin, menatap tubuh Jimin yang tercetak dari kaos tipisnya. Ototnya terlihat jelas. Wanita sial, mereka tidak tau apa jika Jimin sudah memeluk ku? Itu artinya Jimin pintaku.

"Ji aku tidak terlalu bisa berenang" kataku saat Jimin terus membawa tubuh kami ketengah. Jujur aku takut berenang dipantai. Ombaknya tidak bisa ditebak dan bisa saja nanti aku hanyut. Benar bukan?

"Ada aku!" Kekeh Jimin dan terus ketengah.

"Ji akhhhh" aku memekik saat ombak datang dan tubuhku langsung bergetar. Memeluk erat leher Jimin dan menelusupkan wajahku keceruk lehernya. Demi Tuhan aku takut.

"Katanya ingin berenang kena ombak saja takut" jika bukan karena aku takut berada disini sudah pasti aku akan memaki Jimin. Masalahnya aku lebih takut Jimin akan meninggalkan aku ditengah jika aku membalas ucapanya. Dan bagaimana jika tiba-tiba ada Ikan hiu? Aku bisa mati dimakan bukan.

"Masalahnya ombak disini sangat kuat. Aku takut" Jimin mengerti dan melepaskan tanganku dari lehernya.

"Naik punggungku sayang!" Aku cengoh mendengar ucapan Jimin. Naik punggung? Yakin?

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang