Chapter 14

41 34 9


مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الإِيمَانِ فَلْيَتَّقِ الله في النِّصْفِ الْبَاقِي
“Barang siapa yang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh dari imannya, maka bertaqwalah kepada Allah dalam separuh yang kedua” (HR. Thabarani)

*****

Dinda yang sedang merapikan tempat tidur, menemukan sebuah kertas terselip di bantal. Ia mengambil kertas tersebut ternyata ada sebuah tulisan yang berisi tentang isi hati. Dinda tersenyum saat membaca tulisan itu. Ya, itu adalah sebuah kalimat yang Dinda tuliskan pada saat ia gelisah dengan hatinya.

Dinda tersekiap saat sebuah suara menggema. Ia langsung menyembunyikan kertas tersebut di bawah bantalnya.

"Din, di panggil ayah," ujar Adam.

"Ngapain kak?" tanya Dinda.

"Mana ku tahu, udah samperin sana. Jangan membantah tidak baik. Dan jangan lupa pakai hijabmu yang rapi," setelah Adam berujar pada Dinda ia langsung beranjak keluar kamar  tanpa memberikan luang untuk Dinda bertanya.

Setelah selesai Dinda bergegas ke ruang tamu menemui ayahnya. Dinda berhenti melangkah saat sudah sampai ruang tamu. Ia terkejut saat mendapati di sana ada Syahid beserta adik dan kedua orang tuanya. Tentu saja, ia terkejut saat melihat pria itu. Bukankah pria itu berada di bandung saat ini. Dan bukankah pria itu akan pulang masih beberapa bulan lagi. Tapi kenapa pria itu sekarang berada di sini, semua pertanyaan terlintas di kepala Dinda.

"Dinda, sini duduk nak." ucap bunda membuat Dinda sadar.

Dinda segera mendekati kedua orang tua Syahid dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian, dan beralih melihat pria itu yang berpakaian baju kokoh dan memakai peci menambahkan kesan yang sempurna. Hati Dinda berdegup cepat. Dengan sedikit kegugupan Dinda hanya menangkupkan tanganya ke dada ketika di mana harus berjabat tangan dengan pria itu. Ya, Dinda tahu karena ia dan Syahid belum mahromnya.

Kemudian Dinda duduk bersebelahan dengan bunda, dan mulailah sebuah obrolan-obrolan. Saat sudah berada di obrolan inti lagi-lagi gadis itu terkejut luar biasa. Syahid pulang karena ingin melamar Dinda secepat mungkin. Sungguh hari ini adalah hari teristimewa bagi Dinda, ia tak menyangka akan secepat ini. Lagi pula, sebelumnya Syahid tak memberi tahu dirinya.

"Bissmilahirromanirrohim, Om, tante dengan kedatangan saya ke sini saya membuktikan janji saya sebelumnya. Saya Syahid Ramadhan Rahman menyatakan niat saya untuk mengkhitbah putri om, Dinda Almeera Khanza."

Saat Syahid mengatakan ucapan niatnya itu, Dinda tak berkutik ia terdiam dan menundukkan kepalanya berusaha menyentralkan degup jantungnya yang berpacu sangat cepat. Bunda mengusap bahu gadis itu penuh dengan kelembutan dan Dinda menoleh menatap bundanya.

"Saya selaku ayah dari Dinda, sesuai keputusan putri saya," kata ayah gadis itu beralih menatap anaknya.

Dinda hanya menganggukan kepalanya bahwa ia menerima dan menyetujuinya.

"Alhamdulillah, Saya terima lamaranmu nak Syahid," balas ayah Dinda.

"Alhamdulillah," ucap serempak kedua keluarga tersebut.

Senyum bahagia terukir dari masing-masing wajah Dinda dan Syahid. Dan kedua keluarga mereka nampak bahagia. Obrolan selanjutnya adalah rencana mengenai pernikahan mereka. Dinda hanya mengiyakan saja setiap kali ia di tanya karena gadis itu menyerahkan semua urusan pernikahan kepada kedua orang tuanya.

*****

Waktu berjalan begitu cepatnya, hanya tinggal beberapa hari lagi acara pernikahan Syahid dan Dinda.  Ijab qobul akan di laksanakan di rumah Dinda. Persiapan sudah matang hanya menunggu hari H saja.

Dinda yang berada di taman belakang rumah menatap senja yang tampak di langit, begitu indah. Dinda menikmatinya dengan seulas senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.

Dinda sangat bersyukur, "terima kasih ya Allah, engkau telah mempertemukanku dengan pasanganku yang akan menjadi imamku."

"DINDA!"

Dua gadis menghampiri Dinda dan memeluknya erat.

"Gue kangen banget sama lo," ucap Anya melepaskan pelukan lalu duduk di samping Dinda.

"Sama aku juga," balasnya.

"Ciee... Yang sebentar lagi akan jadi istri orang," goda Ziza.

"InsyaAllah, oya gimana kabar hati kamu Nya?"

Anya tersenyum, "lebih baik ko Din,"

"Iyalah baik, kan udah tunangan sama Iqbal," celetuk Ziza.

"Serius? Kapan? Ko gak ngasih tau sih," tanya Dinda terkejut.

"Belum tunangan ko Din, baru jadian seminggu yang lalu."

"Alhamdulillah, nah sekarang kamu Za kapan terima kak Adam. Jangan di gantungin gitu dong," seru Dinda.

"Iya tuh Za, kasihan ka Adam," sindir Anya.

"Aku belum siap aja, mau nyelesaiin kuliahku dulu. Lagipula Adam gak bermasalah yang penting cinta kita tetap ada ko."

"Jangan sampai putus hubungan sama kak Adam ya Za, aku sayang banget sama ka Adam. Dia itu cinta banget sama kamu."

"Iya Din, tenang aja aku juga cinta banget sama Adam. Gak rela kalau Adam sama perempuan lain,"

"Yuk masuk ke dalam, ngobrolnya di dalam aja sambil nyemil," ajak Dinda.

Dan mereka masuk ke dalam rumah.

*****

Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba, Dinda yang kini berada di kamar duduk di depan cermin hias menatap pantulan wajahnya yang tampak cantik, ia memakai gaun pernikahan yang sangat indah.

Tubuh Dinda sesaat menegang kala mendengar suara pak penghulu membacakan ijab qobul. Dan saat Syahid mengucapkan ijab qobul mata Dinda memanas tak tahan mengeluarkan air mata kebahagian.

"Saya terima nikahnya Dinda Almeera Khanza binti bapak Winata dengan mas kawin tersebut dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!" ujar Syahid.

"Bagaimana para saksi, sah?"

"Sah!"

Bunda yang menemani Dinda di kamar. Lantas mengajak anaknya untuk keluar menemui Syahid yang kini telah sah menjadi suaminya.

Saat sudah sampai, Dinda duduk di samping Syahid lalu mereka mentandatanganin surat nikah. Setelah itu mereka saling memasang cincin satu sama lain.
Dinda mencium punggung suaminya itu  selepas itu, Syahid yang mencium kening Dinda lembut cukup lama.

Syahid menatap Dinda lembut dengan senyuman manisnya dan ia menatap kembali pria itu dengan pancaran kebahagian.

Setelah melaksanakan ijab qobul, mereka melakukan resepsi pernikahan pada hari ini juga.

🌼🌼🌼🌼🌼

Akhirnya Syahid & Dinda menikah:)

Follow instagram : @sarahspni

The Light Of Allah's LoveBaca cerita ini secara GRATIS!