-1-

132 10 7
                                              

TINTIN
Bunyi klakson yang terdengar dari luar rumah, membuat seorang lelaki muda berseragam segera keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Tanpa menghiraukan makanan yang telah tersaji dimeja makan oleh sang bunda. Padahal lelaki itu sangat rakus jika menyangkut hal yang berbau makanan. Namun, jika keadaan sudah begini dia rela tidak memungutnya seenak apapun makanan yang ada.

Lelaki itu segera memasuki sebuah mobil yang cukup mewah dan duduk disebelah supir. Dengan dada yang berdebar-debar, dia menunggu pria tua disampingnya berbicara, yang akan membuat telinganya sakit. " kau ini Jimin! sudah jam berapa sekarang?! makanya papah bilang jangan suka main sampai malam! jadinya kau bangun terlambat! bukan hanya bangun yang terlambat, papah bisa terlambat ke kantor dan kau bisa terlambat ke sekolah!." Benar kan? pasti pria tua itu akan mengomeli Jimin jika dia terlambat. Jimin hanya bisa mengelus dada dan menghela nafasnya ini sudah menjadi hal biasa baginya.

Setengah jam perjalanan sudah berlalu dan kini sebuah mobil sedan hitam mewah milik papah Jimin memasuki gerbang sekolah. Ya, Jimin adalah anak yang terlahir dari keluarga kaya raya dan papahnya seseorang yang sangat berpengaruh di Busan.
Saat hendak membuka pintu mobil, lengan Jimin ditahan oleh sang papah. "Ingat Jimin, jika nilai rapotmu tidak seperti yang papah inginkan, kamu akan pindah ke Seoul dan tinggal bersama kakak mu. Papah serius Jimin."

Ya, Papah Jimin akan memindahkan sang anak ke Seoul bila nilai rapotnya buruk. Memang tidak aneh lagi bagi orang tua Jimin jika setiap pembagian rapot nilai Jimin selalu buruk. Karena Jimin memang anak yang manja, gila belanja dan suka bermain-main bersama teman-temannya sampai malam. Namun, kali ini orang tua Jimin memberi sanksi padanya. Masalahnya, Jimin akan naik ke kelas 12 yang mana prestasinya nanti akan berpengaruh saat dia akan memasuki Universitas. Jadilah papah Jimin ingin anaknya itu tinggal di Seoul bersama putra sulungnya—kakak Jimin— yang dibilang cukup keras dan galak. Jimin akan menjadi sedikit pendiam dan penurut bila bersama kakaknya. Beda sekali jika ia tinggal bersama sang papah dan bundanya.

——🌙✨——

"Jimin cepat, nanti kamu bisa terlambat!" panggil sang ibunda dan langsung dijawab cepat oleh Jimin, " IYA SEBENTAR LAGI BUNDA." teriak Jimin dari dalam kamar yang takut tak terdengar oleh sang bunda. Disini Jimin berada, di sebuah kamar yang cukup luas. Dia tengah bersiap-siap dan membereskan barang-barangnya untuk dimasuki kedalam koper. Pergi kemana? tentu saja dia akan pergi ke Seoul karena nilai rapotnya.

Dia segera keluar kamar dan langsung pergi ke meja makan untuk makan malam. "Jimin, nanti disana kamu tidak boleh merepotkan kakak mu. Dia juga punya kesibukan. Intinya kamu jangan menyusahkan disana." Cakap sang papah yang memperingati Jimin. "Iya papah. Jimin tidak akan menyusahkan disana, mungkin.hehe." "Jimin!" sedikit bentak sang papah. "Iyaiya tidak akan. Lagian Jimin juga tidak berani macam-macam sama kakak. Pasti kakak akan meraung seperti singa kelaparan. Ih serem banget." "Nah kamu tahu. Yasudah cepat habiskan, nanti ketinggalan pesawat." kata sang bunda yang langsung dijawab oleh Jimin dengan anggukan.

Tidak terasa setengah jam yang lalu Jimin duduk dimeja makan, kini ia sudah berada di Bandara Internasional Gimhae, tepatnya ia sudah duduk dibangku penumpang di dekat jendela. Papahnya memesan tiket pesawat kelas ekonomi tidak kelas bisnis. Bukan karena tidak mempunyai uang, tapi memang sengaja.

Kini pesawat Jimin sudah berada di tengah tengah awan putih. Jimin memasangkan earphone nya dan menyetel lagu kesukaannya, There For You. Sambil memeluk boneka favorite nya boneka bebek lalu ia memejamkan matanya.

——🌙✨——

Lelaki bertubuh tegap dan tinggi tengah berjalan di lorong yang gelap. Seragam yang dikeluarkan dengan membawa tas ransel dipundak kanannya sambil menghisap sepungung rokok, layaknya anak brandalan. Langkahnya terhenti saat bertemu dengan sebuah pintu kamar yang bertuliskan angka 696. Ia masuk ke dalam setelah memasukkan password kamar tersebut. Dia berada di apartement nya.

Tring....
Suara pesan masuk dari handphone nya terdengar saat ia hendak ke kamar mandi. Ia memutar balikan badannya dan mengambil handphone yang terletak di atas meja. "Ck nomor sialan ini lagi!" Kalimat itu yang ia keluarkan saat ia menatap layar handphone. Langkahnya terhenti lagi karena suara pesan masuk yang terdengar olehnya kembali. 

"Temui aku dijalan xxxxxxxx jika tidak mau disebut pecundang"

Tidak perlu menunggu lama, ia langsung memakai hoodie dan mengambil kunci mobilnya. Dia sudah geram dengan nomor tersebut yang sudah menerornya 1 bulan ini. Dari awal, ia memang sangat ingin bertemu dengan si peneror, namun tidak pernah direspon oleh seseorang misterius diluar sana. Tapi sekarang justru si peneror itu yang mengajaknya bertemu.

Saat ditengah perjalanan, lelaki itu melihat ada sebuah motor yang mengikutinya. Dia langsung menancapkan gas nya dengan kecepatan maksimal. Dan... "AAAAKKKKKHHHHH"
Citttttt...Brukkk! sebuah benturan yang sangat keras.

——🌙✨——

"KAK NAMJOON!" teriak Jimin dari kejauhan dan langsung lelaki yang ia panggil menghampirinya. "Sudah lama ya menungguku?" "Hmm tidak juga sih. Yasudah ayo masuk ke mobil kita langsung ke rumah saja." Selalu saja begini, kakaknya benar benar tidak pengertian sekali kepada Jimin. Padahal perut Jimin sedang keroncongan. Sepertinya dia bakal kurus karena kurang gizi saat tinggal bersama kakaknya.

Jimin tengah duduk didalam sebuah mobil dengan jendela yang terbuka. Dia sangat suka sekali udara malam menurutnya lebih sejuk dibandingkan siang. "Kak, kita ke minimarket dulu ya. Jimin mau membeli beberapa cemilan." "Selalu saja. Lihat tuh pipi sudah gembul begitu." jawab sang kakak yang sedikit meledek. "Ya tidak apa-apa. Kan lucu." sambil beraegyo dengan bibir manyunnya dan tangan yang menopang dagu dan pipi gembulnya didepan kakaknya. "Sudah Jimin. Aku lemah." Lihat kan? kakaknya sendiri saja lemah melihat Jimin yang seperti itu.

Jimin dan Namjoon telah sampai di sebuah minimarket. Jimin turun dari mobil kakaknya kemudian memasukki minimarket itu. Jimin mengambil satu keranjang berwarna biru lalu memilih cemilan yang ada disana. Jimin menemukan cemilan kesukaannya, tetapi cemilan itu berada di tempat yang tinggi. Karena Jimin sadar diri bahwa dirinya pendek, akhirnya ia meminta tolong pada seseorang yang tengah berjongkok disamping yang tengah memilih makanan. "Permisi, apa saya boleh meminta tolong." lalu lelaki yang tengah berjongkok itu berdiri dan menoleh ke arah Jimin. "Jimin????" yang mana membuat keduanya terkejut. "Eh kamu?" keduanya menatap tak percaya mereka akan bertemu kembali.

*
*
*
gimana ceritanya? ga seru ya? iya aku tau kok karena ini ff pertamaku🥺 aaaaaaaa tapi semoga aja dari kalian ada yang suka🥺😊💜
saran dan kritiknya boleh☺️🙏🏻
jangan lupa kasih votenya ya teman-teman😋

MASA LALUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang