Part 49

1K 56 0
                                          

Happy Reading.

Matahari pagi, sudah naik dan memancarkan cahayanya.
Duduk diatas kursi menatap langit pagi yang begitu indah melalui balkon kamarnya.

Matanya terlihat sayu. Hanya stengah jam ia dapat memejamkan matanya. Mimpi buruk mengenai Aletta kembali terngiang. Bukan hanya dimimpi. Melainkan di alam sadarnya pun.

Gue tau, gue terlalu lambat buat ngakuin ini semua..
Gue tau, gue terlalu lemah hingga tidak berani melangkah..
Rasa takut selalu menghantui..
Masa lalu yang buat diri gue jadi pecundang..

Gue tau rasa ini bakalan sama seperti rasa dirinya pada diri gue..
Tapi disini, gue juga manusia..
Laki-laki yang juga punya rasa takut dan trauma yang menyelimuti diri..
Gue bukan ingin menyakitinya..

Gue laki-laki biasa..
Yang juga bisa disakitin..
Bukan hanya menyakiti..
Pandanglah dulu diluar sana..
Sama-sama manusia..
Sama-sama punya rasa..
Rasa Takut,
Rasa Nyaman,
Rasa Percaya,
Dan..
Rasa Takut kembali...

"Dayat." panggil papa nya yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

"Papa? Kapan papa datang?" tanyanya. Benar saja, pasalnya papa nya selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Mengelola perusahaan yang ia bangun di negara orang. Negara Jerman.

"Tadi subuh." ucapnya kini duduk disebelah dayat. "Kamu mikirin apa sih? Sampe gak tidur?" tanyanya. Ia tahu, bahwa hal yang menimpa dayat. Siapa lagi, kalau bukan cakra yang memberitahunya.

"Kok papa tau kalau aku gak tidur?"

"Kakak kamu." Yap benar sekali dugaannya.

"Pasti kakak udah cerita sama papa, sebelum aku ceritain lagi." Papa nya mengangguk mengiyakan.

"Kamu gak boleh gini. Kamu usaha. Gak apa-apa ayah nya nolak kamu. Gak apa-apa ayah nya gak mau nerima pertanggung jawaban dari kamu. Yang penting kamu usaha."

"Gimana aku mau usaha. Aku baru kesana, udah diusir."

"Harusnya kamu tetap kekeh diam disana. Biar ayahnya tau, kalau yang kamu lakuin itu tulus. Dari sini." Jelas sambil menunjuk dada dayat yang dimana ialah hati nya.

"Papa mau kasih tau kamu sesuatu. Tapi setelah kamu usaha dari masalah ini."

"Apa? Harusnya papa kasih tau aku sekarang. Biar aku bisa yakin, tetap berjuang atau yakin melepaskan."

Papa nya menghembuskan nafas pelan lalu berkata "Papa mau pindahkan kamu sekolah ke Jerman. Kita bakalan pindah kesana. Sama halnya dengan Wawa dan juga kakak kamu."

Tersentak. Dan diam..

"Papa mau kamu berjuang dulu. Biar tau gimana nantinya."

"Tapi. Kalau ayah nya nerima dayat?"

"Papa bakalan batalin buat kamu ikut ke Jerman. Dan biar papa yang bolak balik kesini."

"Papa jangan yakin."

"Iya." sahutnya menepuk pundak dayat "Papa gak yakin."

Aletta ✔ [ COMPLETE ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang