23 A Baby

709 138 9
                                          

Maaf typo!
Nanti gw revisi lagi :3


Beberapa hari terlewati. Guanlin masih dengan setia merawat jinyoung. Bahkan dia masih belum memikirkan mengurus perusahaan ayahnya. Yang ingin ia fokuskan hanyalah jinyoung.

"Jinyoung pasti menyukainya"
Gumam guanlin sambil menyiapkan sarapan untuk jinyoung yaitu nasi dengan telur dadar dan juga sayuran yang di tumis.

Guanlin membawa nampan makanan itu dan masuk kamarnya dan jinyoung.
"Jinyoung! Hey bangunlah ini sudah siang"
Panggil halus guanlin pada jinyoung yang masih terbaring di kasur.
"Jinyoung"
Tidak ada respon guanlin terenyuh dan meletakan nampannya!
"JINYOUNG KAU KENAPA?"
Guanlin menepuk wajah jinyoung namun ternyata jinyoung tak sadarkan diri. Dengab cepat guanlin menggendong jinyoung dan membawanya ke rumah sakit.

Guanlin dengan cemas menunggu di luar kamar pemeriksaan dia berharap tidak terjadi hal yang buruk.

"Guan? Apa yang terjadi pada jinyoung?"
Tanya luhan yang datang bersama sehun dan jihoon.

"A-aku sendiri tidak tau. Dia tak sadarkan diri begitu saja dan..."
Guanlin nampak sangat cemas sampai ia gugup untuk bicara.

"Sudah guan. Kami mengerti. Kau pasti sangat terkejut. Tenangkanlah dirimu dulu"
Ucap jihoon lalu mendudukan guanlin. Guanlin hanya memijat kepalanya dan masih tidak tenang.

"Sayang. Ini semua salahku"
Kata yang selalu di ucapkan luhan kini keluar lagi dari bibir kecilnya.

"Itu tidak akan membantu. Kita harus lakukan yang terbaik untuk jinyoung"
Sahut sehun dengan tatapan dinginnya.

Dan tak lama dokter keluar dan semua orang langsung menghujaninya dengan pertanyaan seputar keadaan jinyoung.

"Dia baik2 saja untuk sekarang tapi ini mungkin bisa jadi buruk. Aku tidak yakin jika kehamilannya akan aman untuknya" - dokter

"Apa dok? Jinyoung hamil?"- guanlin

"Iya. Dia hamil tapi aku sarankan untuk mengugurkannya. Selain demi keselamatannya ini juga demi bayinya sendiri. Bagaimana seorang ibu pengidap alzeimer bisa mengurus seorang bayi?" - dokter

"Tapi menggugurkan anaknya apa aman untuknya? Dan apa tidak ada cara lain?" - luhan

"Itu adalah pilihan yang terbaik" - dokter

"Kami akan memikirkannya dulu" - guanlin

"Tentu. Aku pergi dulu"
Dan dokter itu meninggalkan guanlin dan keluarga oh.

Senyap sejenak sampai luhan memulai pembicaraan.
"Kita harus gugurkan anaknya. Keselamatan jinyoung harus di utamakan"

"Tapi jika jinyoung tidak bisa merawat anaknya aku akan membantunya" - jihoon

"Masalahnya dokter bilang kehamilannya ini mungkin tidak aman bagi keselamatan jinyoung" - sehun

Guanlin yang sedari tadi diam mendengar perdebatan semua orang akhirnya bangkit.
"Bayi itu tidak akan di gugurkan"

"Tapi kenapa? Keselamatan jinyoung terancam akibat kehamilan itu guan"- luhan

"Itu hanya kemungkinan kan? Tidak ada yang tau kebenarannya. Dan seorang bayi tidak akan bisa membunuh ibunya" - guan

"Guan. Ini mungkin berbeda"- sehun

"Ayah. Apa ayah tau apa keinginan terakhir bae? Apa ayah atau bunda pernah bertanya padanya?"
Guanlin menghapus air matanya lalu melanjitkan kata-katanya.
"Dia ingin memiliki anaknya sendiri dia bilang itu adalah mimpinya lalu sekarang kalian bahkan berpikir untuk menghancurkan mimpi terakhirnya"

"Apa? Aku tidak tau. Aku hanya memikirkan keselamatan anakku"- luhan

"Bunda harus lebih banyak bicara padanya. Yang dia inginkan bukan hanya pengobatan terbaik dan termahal. Dia juga butuh semangat dari orang2 terdekatnya" - guan

"Maafkan kami. Jika perlakuan kami mengecewakanmu"

Guanlin duduk kembali tanpa menjawab apapun.

"Kami tidak memperhatikannya karena kami sibuk bekerja. Kami mencari uang yang banyak yang kami harapkan bisa membantunya dalam berobat dan sembuh" - luhan

"Tapi kau membuatnya merasa kesepian. Aku tau dia sudah begitu sejak kecil. Tapi sekarang kau tau hidupnya tak lama tapi kau masih tidak meluangkan waktumu untuknya" - guan

"Kau salah. Kami hanya malu. Kami terlalu jahat padanya. Setiap melihat wajahnya kami merasa tak sanggup. Rasanya begitu menyiksa melihat wajah polosnya. Itu membuat kami merasa seperti orang jahat" -sehun

"Dia anak kami sendiri tapi kami memperlakukannya seperti orang asing selama hidup kami. Kami merasa ingin mati Saat mengingat bagaimana perlakukan kami dulu padanya" -luhan

"Hati jinyoung begitu tulus. Meski kalian memperlakukannya dengan buruk di hatinya dia tidak pernah menaruh benci atau dendam pada kalian. Aku mohon biarkan dia mendapatkan mimpi terakhirnya" - guan

"Kau tak mengerti bagaimana perasaanku guan. Ini rasanya lebih menyakitkan dari pada saat jihoon sakit. Aku terlalu takut dan menyesal. Aku takut jinyoung akan pergi sebelum kami bisa membuatnya bahagia" - luhan

"Sekarang lah saatnya kalian membuatnya bahagia. Jika dia tidak hamil apa kalian bisa jamin 100% kehidupannya?" - guan

Sehun memegang bahu luhan. Luhan otomatis menatap sehun dan sehun hanya mentapnya dengan anggukan.

"Jika ini kemauan jinyoung. Maka berikan dia kesempatan mewujudkan semua keinginannya"

"Hiksss sehun..."

Dan akhirnya semua sepakat jika kandungan jinyoung akan di pertahankan.



TBC

29/06/2019

Pan Meet Deep✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang