I Don't Want It!

190K 4.4K 348
                                    


Happy Reading.

Rasa marah masih menyelimuti ku, membayangkan bagaimana wanita tadi mencium suamiku begitu saja, itupun dilakukan didepan umum dan didepanku. Tidak bisa, aku memang belum mencintai Jimin tapi aku tidak bisa menerima jika ada wanita yang dekat-dekat dengannya. Apalagi sampai menyentuh bagian tubuh Jimin. Tidak, Jimin milikku.

Aku sampai dirumah tanpa Jimin, dia mengejarku tentu saja, hanya saja aku berhasil lari dan pulang menggunakan taxy. Aku marah juga padanya, jika dia segera menepis tangan wanita tadi tidak mungkin adegan kissing itu terjadi. Dia juga salah.

Kubuka kamarku dengan kasar, sepatuku ku lemparkan kesembarang arah, mataku menelisik barang yang bisa dihancurkan, jelas tertuju pada meja rias yang penuh alat Make Up ku, dengan mudah kesingkirkan itu semua. Bunyinya rusuh, jelas karena hampir semuanya kaca. Itu belum cukup meredam emosiku. Meraih vas kecil dimeja nakas dan melemparkannya pada kaca riasku.

"Arhhhh" kuacak-acak rambutku frustasi dan jangan lupakan air mataku yang tidak mau berhenti menangis dari tadi. aku benci mengingat kejadian tadi, aku menyedihkan.

"Jalang" pekikanku keras, menyumpah serapahi jalang yang berani mencium suamiku, wanita itu sialan. Emosiku belum juga reda. Aku masih butuh pelampiasan, mataku tertuju pada ranjang kami yang masih rapi.

Kutarik selimutnya kasar dan membuangnya kelantai begitu saja, kutarik sprei putih disana dan kuacak-acak ranjang kami. Aku tidak peduli jika kamar ini hancur, atau Jimin akan marah dengan kekacauan ini. Yang kuinginkan hanya melampiaskan kemarahanku.

"Aliyaa!" Jimin datang, jelas wajahnya terkejut, memperhatikan kamar kami yang hancur karena ulahku. Dia berlari ke arahku, kufikir dia akan memukul atau memakiku tapi fikiranku salah besar. Jimin justru menarikku dalam pelukannya. Mengusap punggungku dengan lembut dan aku semakin menangis. Meronta dalam pelukannya, aku tidak mau!

"Dengarkan aku dulu!" Jimin membujukku tapi aku tidak peduli. Ingatan bagaimana wanita itu dengan mudah menciumnya membuat aku tidak tenang dan semakin emosi.

"Lepaskan" kudorong tubuh Jimin sekuat yang aku bisa, tapi dia tidak bergerak sama sekali. Justru pelukannya semakin erat. Air mataku tidak berhenti mengalir. Terus menangis dan meronta dalam pelukan Jimin. Aku tidak mau dipeluknya.

"Shut. Hentikan ini, kau bisa terluka. Dengarkan aku dulu" aku tidak mendengarkan ucapan Jimin sama sekali. Aku masih benar-benar emosi.

"Hiks lepaskan. Aku tidak mau" aku tidak tau kenapa bisa aku selemah ini? Biasanya aku tidak pernah menangis karena apapun dan karena melihat Jimin dicium wanita lain aku bisa sehisteris ini.

"Tidak kumohon jangan lepaskan ini. Aku minta maaf!"

"Maaf? Kau bahkan sudah disentuh oleh jalang itu dan dengan mudah kau mengatakan maaf? Tidak Ji, aku tidak menerimanya. Aku tidak menerima tubuh suamiku disentuh atau dirasakan oleh orang lain. Tidak bisa, aku tidak mau. I Don't Want It. Iam Not" aku semakin histeris. Memukul dada Jimin dengan sekuat tenagaku, melampiaskan emosiku padanya juga. Tidak peduli jika Jimin akan terluka. Aku terlalu benci dengan ingatan tadi.

"Aku tau, tapi hentikan ini dulu, kau bisa melukai dirimu sendiri" Jimin berteriak dalam pelukan kami. Aku merasakan jika Jimin mulia emosi.

"Kenapa kau peduli? Bukankah ini yang kau suka. Ini sudah kedua kalinya Ji. Kemarin saat direstoran dan sekarang di pesta, bahkan kali ini lebih buruk. Jalang itu Menciummu, menyentuhmu, merasakan sesuatu yang menjadi Milikku mutlak, bahkan jalang itu melakukannya tanpa sungkan. Didepan umum dan didepanku. Aku tidak terima, kau milikku dan tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku. Tidak ada, kau milikku Park Jimin" aku memakinya dalam pelukan kami. Membentaknya tanpa rasa sungkan atau takut.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang