KALANDRA 👟 13.

22 5 6

Namanya juga human, kapan pun punya titik lemah. Ngga ada yang sadar kalau lemah itu pasti datang. Tapi, tidak dengan Ravi, yang datang untuk menjenguk adiknya, malah membuat adiknya harus menginap di rumah sakit lebih lama.

Ya, setelah insiden rebutan ranjang rumah sakit, bukan hanya Ravi yang terjatuh tapi Kalandra juga ikut jatuh. Belum sempat sampai ke parkiran, kedua orang tuanya harus kembali karena mendapat kabar kalau putranya berbuat ulah.

"Kalian berdua, kapan akurnya sih," ucap Akbar. Yang berdiri sambil bersedekap memandangi kedua putranya satu persatu.

"Kamu juga Vi, Papa suruh kamu kesini, bukan buat pindah tempat buat bertengkar," kesal Akbar.

"Mas, sudah," ucap Mentari lembut.

"Bun mereka ini harus di kasih hadiah, kalau ngga mereka bisa buat rusuh di sini." tekan Akbar.

"Iya, Aku tahu Mas, tapi jangan terlalu keras, kasihan Adek, lihat dia harus di infus lagi, karena lepas. Lagian mereka masih remaja, wajar " jelas Mentari.

"Bun, kamu kapan sih ngga buat aku lemah, " kata Akbar, yang sudah tidak tahu harus berkata apalagi, kalau sudah Mentari yang berkata.

Kedua putranya hanya sebagai penonton bayaran, jika kedua orang tua mereka sudah mulai beromantis tidak pada tempatnya.

Tapi bukan Kalandra jika tidak memberi hadia terlebih dulu pada Ayahnya yang super cemburuan, meski pada anak sendiri.

"Bun sakit," pekik Kala, yang tiba-tiba mengaduh, membuat pMentari beralih pada putra bungsunya.

"Apa yang sakit Dek?" tanya Mentari.

"Alah paling cuma pura-pura," celetuk Akbar, yang mulai kembali pada mode on nya.

"Mas, ih, anaknya lagi sakit juga heran aku." pekik Mentari, membuat Ravi menahan tawanya karena Papanya selalu kena timpal amarah sederhana Sang Ibu.

"Aku sakit kalau Bubun sama Papa mesra," jawab Kalandra.

"Lho, mana bisa begitu?" sahut Akbar tak mau kalah.

"Bisa dong, Pa." balas Kala.

"Mana bisa? coba buktikan?!" tantang Akbar.

"Pfft.. Malu kali sama umur." celetuk Ravi, Akbar dan Kala saling tatap.

"Shaquille!" pekik Akbar.

"Ravi di sini, siapa melayani 48 jam. Bayaran ? Transfer aja." jawab Ravi.

"Sudah! Ya Allah, kalian bertiga, ngga ada yang mau ngalah sih," jerit Mentari, yang selalu mendengar kegaduhan, ketiga pria di hidupnya.

"Bun," panggil Kala pelan.

"Apa?" jawab Mentari.

"Maaf ya, aku cuma bercanda," kata Kala.

Mentari tersenyum, sambil mengusap kepala putranya lembut.

"Bubun, cuma ngga mau kalian ribut karena hal kecil," kata Mentari.

Akbar tahu bagaimana perasaan istrinya, dia sangat rapuh ketika melihat jagoan kecilnya harus kembali ke rumah sakit. Bukan hanya sekali, tapi sudah kesekian kalinya Kala mengalami hal yang sama.

Sejak usianya 5 tahun, sejak itu juga Mentari sangat protektif pada Kala. Padahal Kala terlihat segar bugar, bahkan semangat juangnya untuk mengikuti perlombaan selalu di dukung keluarga besarnya. Meski harus menerima resiko yang tidak akan di duga nantinya.

Akbar sendiri sadar, kesalahan itu bukan karena ia dan istrinya tidak becus mengurus anak, tapi keistimewaan itu memang ada pada Kala, yang harus mereka jaga. Sejak tahu kalau Adiknya istimewa, Ravi dan Davina tidak menjauhinya sedikitpun, bahkan mereka bermain bersama, seolah semua orang tidak memikirkan hal apapun tentanf Kalandra. Sampai rasa sakit itu hilang perlahan. Baik untuk Kala ataupun keluarganya. Hingga akhirnya Kalandra menginjak bangku kuliah, semuanya tidak ada yang berbeda, tetap sama.

KEY [COMPLETED]Read this story for FREE!