Ch. 01 - Desa Keluarga Mo

228 10 0
                                                  

Fajar terbit di langit timur. Suara kokok ayam jantan menandai dimulainya kehidupan di desa.

Semua keluarga bangun dari tidurnya. Para wanita mulai merebus air dan memasak. Para lelaki mengangkat air ke rumah atau merapikan alat-alat pertanian sebelum mereka sarapan dan memulai pekerjaan.

Desa itu adalah salah satu desa di Kabupaten Liancheng, Negara Jin. Populasinya sekitar tiga hingga empat ratus orang. Namun, hanya ada satu nama keluarga di desa tersebut - semua orang di sini adalah bagian dari klan yang sama. Dengan demikian, penduduk desa menggunakan nama keluarga mereka sebagai nama desa yang dikenal sebagai 'Desa Keluarga Mo.'

Beberapa rumah tersebar secara acak di sisi timur desa. Sebuah rumah batu bata tampak sangat mencolok di antara rumah-rumah tanah liat karena keunggulan bahan yang digunakan untuk membangunnya - gentengnya tebal dan dinding batunya tertata rapi. Dengan satu lirikan, tampak jelas bahwa batu bata itu tidak dibuat dengan metode tradisional yang biasanya digunakan oleh penduduk desa. Berbeda dengan pagar rumah dari tanah liat lainnya yang dibangun dengan beberapa cabang kayu dan rotan, pagar rumah itu terbuat dari tiang bambu yang ditata dengan cermat.

Namun, rumah itu berada dalam kondisi lebih buruk dibandingkan dengan rumah-rumah lain; ubin atap yang rusak dibiarkan begitu saja, satu sisi pagar terlihat rusak, dan ladang sayur di halaman sangatlah berantakan.

Sesaat kemudian, pintu rumah itu terbuka. Seorang gadis kecil dengan kulit keemasan dan rambut dikepang keluar dari rumah tersebut. Ia berusia sekitar tujuh tahun, sangat mungil, tampak kurus, dan mengenakan pakaian bernuansa kuno. Namun, ia terlihat bersih dan rapi. Tiap helai rambutnya disisir rapi dan pakaiannya juga terlihat sangat rapi.

Gadis itu lalu membuka pintu yang menuju kandang ayam. Ia membiarkan ayam itu keluar seraya berjalan menuju dapur di samping rumah. Di sana, ia menggunakan air dingin untuk membasuh wajah dan mulutnya. Setelah selesai, ia mengangkat lengan bajunya untuk mengambil air dari dalam kendi dan menggunakan air itu untuk mencuci beras. Ia kemudian memindahkan bangku kecil di samping kompor, berdiri di atasnya untuk menuangkan beras ke dalam wajan besar, dan menyalakan api.

Kabupaten Liancheng terletak di bagian selatan Negara Jin. Iklimnya hangat dan cocok untuk bertani. Dengan demikian, jerami juga umumnya dimanfaatkan untuk menyalakan api. Keadaan ini sangatlah menguntungkan karena tidak mungkin gadis kecil ini harus membelah kayu bakar.

Tak lama kemudian, sebuah suara terdengar dari rumah utama. Seorang wanita yang tampak pucat berjalan ke dapur.

Gadis kecil yang sedang menyalakan api dengan tergesa-gesa turun dari bangku dan berkata, "Ibu, kenapa ibu bangun? Masuk dan beristirahatlah sebentar; makanan akan segera siap."

Wanita itu tersenyum, membelai kepala gadis itu dan berkata, "Tiange, biarkan Ibu melakukan hal ini. Pergilah bermain."

"Tidak!" Gadis kecil itu bersikeras dan menarik ibunya ke dalam rumah dan berkata, "Ibu tidak boleh kedinginan. Aku bisa melakukan ini."

"Ini bukan apa-apa ..."

"Kemampuanku untuk melakukan tugas-tugas ini sudah cukup baik. Apakah ibu ingin pingsan dan membuatku khawatir lagi?"

Kata-kata gadis kecil membuat wanita itu tertegun.

Gadis kecil berbicara lagi: "Ibu, beristirahatlah dengan baik ... Jika Ibu sudah sembuh, aku tidak perlu melakukan hal-hal ini lagi."

Kata-kata polos si gadis kecil membuat senyum merekah di wajah wanita itu, namun senyum itu dipenuhi dengan kepedihan. Nada suara wanita itu menjadi lebih lembut ketika ia berkata, "Baiklah, Ibu akan sembuh secepatnya dan tidak akan membuat Tiange menderita lagi di masa depan."

Lady Cultivator  (BAHASA)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang