BAB 01 - Pasak Pembakaran

747 35 4
                                                  

~ VOLUME 1 ~

Gumpalan kabut hitam membuat tenggorokan dan paru-paru Xiafeng terbakar, membuatnya sulit bernapas dan mendesis seperti pengembus api usang yang rusak.

"Apa ada orang di sini? Aku tidak mau ... mati ..."

"Xiafeng, bangun ... jangan tidur ..."

...

Setelah kobaran api merah yang besar itu tiba-tiba mati, diikuti dengan kegelapan pekat. Seperti seseorang yang tenggelam, Xiafeng berusaha keras untuk meraih apapun yang bisa menyelamatkannya dari kegelapan.

Pada saat itu, bagaikan matahari terbit, sebuah cahaya merah muncul di depannya.

Dalam cahaya itu, Xiafeng merasa kekuatannya sedikit pulih, sehingga dia berusaha mati-matian mendekat ke cahaya. Setelah melangkah maju, Xiafeng melihat cahaya itu menjadi semakin terang. Cahaya yang mulanya berwarna merah membara berubah menjadi putih murni. Kegelapan itu benar-benar diselimuti oleh cahaya dan lenyap dalam sekejap.

"Ah ..." Xiafeng tiba-tiba terduduk dan bernapas dengan terengah-engah. Dalam mimpinya, asap dari api mengerikan itu telah membuatnya kehilangan semua kekuatan untuk melawan. Sehingga dia tak dapat berbuat apapun selain berbaring tak berdaya di tanah dan menunggu api untuk melahapnya. Seperti mengalami tindihan saat tidur, dia tahu dia sedang bermimpi buruk, tapi dia tak mampu bangun dari mimpi itu.

Mimpi itu tampak terlalu nyata sehingga Xiafeng butuh waktu cukup lama untuk menenangkan diri. Setelah jantungnya yang berdegup kencang kembali tenang, dia akhirnya ingat kalau tadi dia sedang mengerjakan esai sepanjang malam di perpustakan sekolah. "Pantas saja aku bermimpi buruk, aku terlalu banyak menghabiskan waktuku di sini akhir-akhir ini," pikir Xiafeng dalam hati sambil merutuki dirinya sendiri

Ketika dia hendak bersiap untuk berkemas dan kembali ke asramanya, Xiafeng tertegun karena melihat keadaan sekitar yang aneh dan jauh berbeda dari dugaannya. Seperti dapat pukulan di kepala, dia terkejut dan pikirannya menjadi kosong.

Semua meja kayu yang bagus hilang. Tak ada lagi tumpukan buku referensi, manuskrip kertas, dan laptop. Satu-satunya yang tersisa hanyalah selimut hitam tua dengan benang terlepas di sana-sini, menutupi dirinya.

Bukannya duduk di kursi perpustakaan, dia saat ini malah duduk di tempat tidur kayu yang sempit.

"Aku di mana?!"

Dalam situasi seperti ini, bahkan orang seperti Xiafeng, yang relatif pendiam dan lamban, bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Bahkan jika dia telah terperangkap dalam api dan dilarikan ke rumah sakit, tempat ini tidak sedikit pun menyerupai rumah sakit! Tidak sama sekali!

Detak jantungnya berdebar kencang karena terkejut. Dia melihat sekeliling dan mencoba berdiri. Namun saat dia meletakkan kakinya di tanah, rasa pusing dan lemah menjalar ke seluruh tubuh Xiafeng, membuatnya hampir jatuh ke tanah.

Xiafeng segera mengulurkan tangan dan meraih pegangan tempat tidur untuk mempertahankan keseimbangannya. Wajahnya pucat dan jantungnya berdetak begitu cepat. Dia sudah menyadari keadaan sekitar setelah memandang sepintas barusan.

Ini adalah gubuk kecil. Di tempat ini, ada tempat tidur kayu, meja kayu yang bisa runtuh setiap saat, dua bangku yang kelihatan lumayan, dan peti kayu dengan lubang di dalamnya. Di seberang pintu kayu yang terlihat bobrok, tergantung sebuah kuali dengan tungku tua di bawahnya. Apinya telah padam cukup lama. Hanya tersisa tanah yang dingin di bawahnya.

Semua ini terasa janggal baginya. Xiafeng tidak tahu di mana dia sedang berada. Rasa lemah dan pusing juga begitu mengganggunya.

"Di mana tempat ini?! Aku merasa seperti baru sembuh dari penyakit parah ... seperti pneumonia yang pernah kualami waktu SMA."

Throne of Magical Arcana  (BAHASA)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang