Beri Moza Waktu

3.6K 165 0

Tok..tok..tok..

Moza meninggalkan piring kotor di wastafel dan segera berlari membuka pintu.

Pintu pun terbuka dan ternyata..

"Regas, kenapa kamu disini?" Moza gugup saat melihat Regas sudah ada di depan pintu.

Ada guratan rindu di wajah Regas. Di tangan Regas sudah ada boneka beruang kecil berwarna hitam.

"Hay Moza. Kaget ya? Boleh aku masuk?" Moza masih diam. Tak sabar dengan jawaban Moza, Regas menghambur masuk ke dalam dan duduk manis di sebuah kursi kayu.

"Oh ya ini untukmu" Regas memberikan boneka yang sedari tadi ia bawa. Sebelum ke tempat persembunyian Moza, Regas menyempatkan diri ke sebuah toko boneka dan memberikan boneka beruang lucu itu.

Moza masih tidak mau bergerak. Ia masih bingung dengan kehadiran Regas yang tiba-tiba ini. "Ambillah Moza" perintah Regas lagi.

"Darimana kamu tahu aku disini?" tanya Moza bingung. Regas tersenyum. Ia berdiri dan mendekati Moza yang ada di depan pintu.

"Aku tahu dari sini.." Regas menunjuk dadanya. Tepatnya di hatinya.

"Jangan bercanda Regas. Aku tanya kamu tahu aku disini darimana?" kali ini suara Moza meninggi.

"Aku menyuruh orang mencarimu. Dan aku nggak salah pilih orang kepercayaanku itu. Puas dengan jawabanku?"

"Siapa orangnya? Apa aku mengenalnya?"

"Nggak perlu aku jawab kan?"

●●

"Ayolah Moza. Mommy dan daddy khawatir Terlebih Mak Odah. Mereka menunggumu pulang" ajak Regas. Sudah sore ia masih belum berhasil membujuk Moza untuk pulang.

"Untuk apa aku pulang? Toh mereka lebih senang tanpa aku. Aku hanya menyusahkan mereka Regas" Moza hanya mengaduk-aduk soto ayam di hadapannya yang lima menit lalu Regas beli di depan rumah Moza.

"Kamu pulang saja Regas. Bujukanmu nggak mampu membuatku pulang dan tolong jangan pernah kemari lagi" kata Moza.

Moza berdiri dan menarik paksa Regas keluar rumahnya. Tenaga Regas yang kuat membuat Moza tidak mampu menarik lengan Regas. Moza pasrah dan duduk lemas di lantai. Moza menangis.

"Tolong sekali ini kamu mengerti Regas. Aku nggak akan kembali ke rumah. Aku cukup menyusahkan mereka termasuk kamu" Moza menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Regas iba dan berjongkok dihadapan Moza.

"Aku hanya membawa sial Regas. Karena aku mama kandungku meninggal, karena aku papa dan mama bertengkar dan kemudian mereka bercerai, papaku dipenjara dan.."

Regas memeluk Moza. Mendekapkan tubuh Moza yang kecil di dada bidangnya.

"Papaku meninggal karena papa bertemu aku waktu itu.." Moza melanjutkan katanya namun tersengal-sengal.

"Papamu meninggal karena takdir sayang bukan karena kamu"

"Dan..Dirga pun melakukan hal yang sama. Meninggalkanku demi wanita seksi itu. Memang aku nggak seksi ya?" Moza mendongakan wajahnya menatap Regas. Regas tersenyum dan mencuil hidung Moza. Saat seperti inilah yang disukai Regas. Di saat Moza bisa seperti anak kecil yang manja.

"Dirga seharusnya menyesal melepaskanmu Moza. Aku yakin di luar sana banyak laki-laki baik yang mengantri untuk mendapatkan cinta seorang Moza Kiona"

Moza memukul pelan dada Regas dan itu membuat Regas tertawa.

❤❤❤❤❤

Tidak sadar ternyata Regas tertidur di rumah Moza. Tapi bedanya Moza tidur di kamarnya dan Regas tidur di kursi panjang yang berada di ruang tamu.

Pagi sekali Moza sudah mempersiapkan sarapan untuk Regas yaitu bubur ayam yang biasa berjualan di sekitar rumah Moza.

Ponsel milik Regas yang tergeletak dibatas meja berkedip pertanda panggilan masuk.

Moza ragu untuk membangunkan Regas agar menjawab teleponnya. Di layar ponselnya tertera nama Bembenk.

Moza terkesiap dan penasaran bagaimana bisa Regas mengenal Bembenk. Rasa penasaran yang besar membuat Moza menggeser layar ponsel Regas ke tombol hijau.

"Halo Regas, apa kamu sudah bertemu dengan Moza?"  tanya Bembenk dari seberang sana. Sesaat setelah Moza menjawab.

Moza masih diam tidak bersuara. Di ujung telepon sana Bembenk masih bertanya.

"Hay Regas apa kamu masih disana? Halo..halo.."

Moza menutup telepon dengan wajah bingung.

"Jadi Bembenk adalah orang suruhan Regas?" batin Moza.

Tubuh Regas menggeliat karena sinar matahari mulai masuk ke arah ruang tamu dan mulai membuka matanya pelan.

Regas melihat ke arah sekitar rumah ini tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Moza.Regas pergi mencari Moza di luar.

"Jangan-jangan dia kabur lagi. Oh shit!" umpat Regas.

"Hay Moza tumben kamu ke rumahku?" tanya Bembenk ramah. Moza menuju rumah Bembenk yang terletak hanya beberapa meter saja dari rumah sewaan Moza.

"Aku mau tanya darimana kamu kenal Regas?" tanya Moza to the point.

Bembenk gugup sambil menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal itu.

"Jawab aku Benk!" Kali ini Moza meninggikan nada bicaranya.

"Jawab aku atau kamu nggak akan pernah bertemu lagi denganku!" Moza hendak pergi namun dicegah oleh Bembenk.

Bembenk mulai bercerita tentang perkenalannya dengan Regas.

⇦⇦

"Hey kamu temannya Moza kan?" Bembenk yang tengah sibuk mengatur jadwal pertandingan malam ini dipaksa menengok ke arah sumber suara yang memanggilnya.

"Kamu..?" Bembenk kaget.

"Kamu pasti mengenalku. Hey tunggu!" Regas sedikit berteriak karena Bembenk pergi begitu saja setelah melihat Regas.

"Wait,,kamu pasti tahu sesuatu tentang Moza kan?" tanya Regas saat berhasil menyusul Bembenk.

"Nggak"

"Kenapa kamu lari? Padahal aku belum bertanya tentang Moza. Please, kalau kamu tahu tentang Moza beritahu aku. Aku sangat mengkhawatirkannya"

Bembenk berhenti. Ia mengatur nafasnya. Jaraknya dengan Regas tidak lebih dari satu meter. Bembenk melihat Regas yang benar-benar sedih memikirkan Moza.

"Kamu bisa minta apa saja dariku. Asal kamu mau membantuku mencari Moza"

"Kamu tau? Aku menyayanginya seperti aku menyayangi adik perempuanku yang sudah meninggal. Aku nggak butuh apa-apa darimu aku akan memberitahu dimana Moza tinggal tapi tolong jangan beritahu Moza kalau aku yang memberitahukan keberadaannya. Paham?"

Regas mengangguk. Wajahnya kembali cerah. Ada harapan disana.

⇨⇨

Moza terduduk lemas mendengar pengakuan Bembenk padanya.

Ia sekarang sadar kalau disekelilingnya banyak yang menyayanginya. Pikirannya salah selama ini. Mereka yang ada di hidup Moza ternyata memang adalah orang-orang yang sayang padanya.

"Kamj mau kan pulang?" tanya Bembenk membuyarkan lamunan Moza. Moza mengangkat wajahnya. Mata dan hidungnya merah. Perih.

"Beri aku waktu"

**

Vomment please..

Lophe,
221092❤

Thank you My Stepbrother Baca cerita ini secara GRATIS!