Psikopat Seks!

445K 6.2K 654
                                    

Happy Reading.

Kuperhatikan Jimin yang masih memejamkan mata sambil memeluk tubuhku. Heol wajahnya yang seperti bayi membuat aku ngeri saat mengingat kejadian semalam. Dia benar-benar liar dan luar biasa. Apa dia pernah melakukannya dengan gadis lain? Ish fikiran apa itu Park Aliya?

Jika orang melihat wajah Jimin pasti hanya akan terdengar kata cute. Jimin memang memiliki aura cute. Matanya sipit, pipinya tebal dan bibirnya tebal. Apalagi jika dia tersenyum, kesan cute-nya akan sangat terlihat.

Fikiranku kembali melayang pada kejadian semalam. Agak ngeri saat mengingat keliaran Jimin saat menyentuhku. Dia seperti psikopat.

Tangan Jimin mulai merambat bagian dalam Bathrobe-ku. Jemari pendeknya menari disana dan itu berhasil membuat aku memekik kecil. Rasanya benar-benar bergejolak, Seperti ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perutku.

Jangankan membalas, bersuara saja aku malu dan lagi Jimin menguasai sepenuhnya tubuhku. Badan Jimin sempurna menindihku dan bibirnya masih berada diceruk lehernya. Aku hanya mendesah kecil merasakan gigi tidak rata Jimin mengigitnya. Agak nyeri tapi nikmat.

"Ji?"

"Hem?" Jimin mengadahkan wajahnya untuk menatapku. Aku melihatnya, mata Jimin sempurna gelap dan bulir-bulir keringat mulai bertetesan dari dahiya.

"Bisakah kau melakukannya tanpa meninggalkan jejak. Maksudku jangan ditempat yang terlihat" aku agak keberatan saat Jimin meninggalkan bekas yang kentara ditubuhku. Seperti leher, itu akan jadi masalah jika ada yang melihat. Jika mengingat status kami memang tidak masalah tapi akan membuatku malu jika ada yang melihatnya.

Aku menunggu jawaban dari bibir tebal Jimin. Dia tidak langsung menjawab melainkan terus menatapku dengan mata gelapnya. Tanganya masih meremas tanganku. Entah kenapa aku merasakan jika Jimin suka sekali meremas tanganku.

"Katakan alasannya!" Kutarik nafas panjang dan menatap dalam matanya. "Aku tidak mau ada yang melihatnya, memang wajar untuk sepasang suami istri tapi akan sangat memalukan jika ada yang melihatnya. Kesannya sungguh tidak mengenakkan Ji!"

Hanya kata-kata itu yang bisa kukatakan. Aku susah mencari alasan jika berhadapan dengan Jimin. "apa kau malu keberi tanda?" Suaranya pelan tapi membuatku takut. Sungguh. Suara pelan Jimin lebih mengerikan dari pada suara datarnya.

"Tidak hanya saja~~~"

"Jika tidak jadi masalahnya selesai. Aku bebas memberikan tanda pada bagian tubuhmu yang terlihat dan tidak ada bantahan" dan aku pasrah saat Jimin kembali mencium bibirku. Melumatnya dengan sedikit kasar dan bergairah. Bahan ini Jimin mulai mengigit bibirku.

Melenguh.

Mendesah.

Menikmatinya! Hanya itu yang bisa kulakukan. Selebihnya tugas Jimin yang menguasai tubuhku sepenuhnya.

Entah sejak kapan aku telanjang dan Jimin juga sudah siap memasukiku, aku memang akan selalu mabuk saat Jimin melakukanya.

"Ji pelan!" Aku menginstruksi Jimin agar memasukkan kejantanannya dalam tubuhku dengan pelan. Dia terlihat tidak sabaran dan aku melihatnya tergesa-gesa. Padahal dia sudah janji untuk pelan tadi.

"Hem!" Deheman Jimin membuatku memekik karena bersamaan dengan dia memasukkan kejantanannya secara utuh kedalam tubuhku.

"Ji sakit" tanpa sadar jariku mencakar punggungnya. Rasanya sedikit nyeri, memang ini bukan yang pertama tapi masih saja sakit. Kejantanan Jimin memang besar.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang