Chapter 6 : Remember

31 2 0
                                                  

Kini kehidupan di Planet Aphelion terancam oleh pasukan Black Bug dan Max yang akan memanfaatkan energi Miracle Seed pada planet itu untuk berperang menaklukan planet lain, diawali dari rasa dendam terhadap Alien karena menyebabkan kedua orang tuanya meninggal hingga akhirnya ia memutuskan untuk menguasai semuanya bersama pasukan Black Bug.

Dr. Rivaldo akan selalu dikenang sebagai pejuang perdamaian bagi planet Aphelion dan seluruh planet lainnya, nilai - nilai moral yang ia bangun sangat melekat di kehidupan masyarakat dan menjadi dasar masyarakat itu sendiri dalam bersikap. Banyak dari masyarakat tidak menyangka bahwa Dr. Rivaldo bisa mempunyai musuh yang tega membunuhnya, beberapa masyarakat merasa ganjil dengan kematian Dr. Rivaldo yang diduga dibunuh oleh anaknya sendiri, Arlo. 

Kehidupan di planet Aphelion pun dibentuk dengan adanya kesepakatan damai yang sangat menyejukkan bagi Manusia dan Alien yang saling menyadari kesalahannya masing - masing. Sejak itu pula Dr. Rivaldo selalu mengesampingkan ego dirinya yang menurutnya akan membuat orang lain susah bahkan terluka. Bahkan ia sendiri tidak tahu, kapan terakhir kali ia memikirkan dirinya sendiri, Arlo dan Alan selalu menjaga ayah mereka untuk selalu menjaga kesehatannya. Alan bahkan tak jarang melihat ayahnya bekerja hingga larut malam dan terkadang ia tidak tidur semalaman hanya untuk memikirkan keadaan masyarakat Aphelion. 

Tak jarang memang, masyarakat Aphelion sangat mencintai pemimpinnya yang rela melakukan segala hal demi kebaikan masyarakat. Masyarakat Aphelion pun selalu menjadikan Dr. Rivaldo sebagai panutan di dalam kehidupannya bahkan ada yang mengidolakannya karena baginya kehidupan di dalam Aphelion tidak akan pernah berjalan se-aman dan se-damai ini tanpa kehadiran Dr. Rivaldo.

Kini, Arlo dengan usinya yang masih sangat muda harus memiliki tanggung jawab suci sebesar ini. Ia harus mengembalikan planet tempat tinggalnya dan sekaligus warisan yang ditinggalkan oleh ayahnya, Rivaldo seperti dahulu kala. Arlo sempat berfikir untuk menyerahkan dirinya kepada pasukan Black Bug dengan syarat untuk membebaskan masyarakat Aphelion dari tekanan dan memberikan mereka kedamaian seperti dahulu.

Seketika Alan membantah omongannya, "kamu engga harus mati ditangan mereka, mereka itu orang jahat yang tidak akan mungkin mau menuruti kemauanmu dengan semudah itu, Arlo!." ujar Alan

"Ayah menginginkan kita untuk berjuang melawan kejahatan, dan ketidakadilan supaya planet Aphelion bisa terus damai dan nyaman bukan menyerah begitu saja kepada mereka!" ujar Alan

"Aku siap membantu kalian untuk menumpaskan perbuatan keji yang telah mereka lakukan kepada kita semua terutama kepada ayah kalian. Kita harus berjuang bersama agar Rivaldo tak meninggal secara sia-sia, dan mengakhiri ini semua!" Ujar Prof. Stein

"Ayah tak pernah mengajarkan kita untuk melawan menggunakan kekerasan sebagai jalan untuk memenangkan sesuatu." Ujar Arlo dengan nada rendah/ sedih

"Apakah bisa kekuatan yang kita miliki saat ini untuk menyadarkan mereka tanpa menyakitinya ?" tanya Arlo

"Kekuatanmu itu listrik, dalam tegangan yang pas kamu bisa untuk menghapus ingatan mereka tetapi jika lebih maka bisa membuatnya terluka hingga meninggal." ujar Prof. Stein

"Apa kamu yakin itu akan berhasil mengalahkan mereka, Arlo ?" ujar Alan

"Bagaimana pun kita tidak akan menyakiti mereka apalagi merenggut nyawanya, yang salah itu perilaku dan perbuatan mereka bukan diri bahkan nyawa mereka. Aku tidak mau membuat kejadian ini kembali ke masa lalu yang membuat banyak orang yang mati secara sia - sia. Ayah telah membentuk kepribadian masyarakat Aphelion pada dasar kedamaian dan aku tidak mau merusaknya." ujar Arlo dengan kata - kata menginspirasi

Alan dan Prof. Stein tertegun diam melihat sikap dan cara bertindak Arlo sama seperti ayahnya. Kini, Alan dan Prof. Stein sekarang mengerti mengapa Dr. Rivaldo bisa sangat disukai oleh masyarakat Aphelion. 

"Arlo, tingkah dan cara berbicaramu mirip sekali dengan ayah, aku siap mendukung apapun rencanamu demi kembalinya planet ini seperti sedia kala." ujar Alan

"Aku yakin ayah dan ibu kalian akan merasa bangga. Kalian tak akan kubiarkan sendirian, aku akan membantu apapun keperluan kalian, bersama dengan Arissa sang penjaga hati ini, wkwkwkwk. Namun dari pagi aku belum melihatnya, Alan cari dia dan suruh dia ke tempatku, ada yang perlu kubicarakan padanya." ujar Prof. Stein

"Baiklah, bro. Aku akan mencarinya, Arlo lebih baik kamu makan dan bersiap - siap nanti kita bicarakan lagi." Ujar Alan.

Arlo pergi ke kamarnya dan bersiap - siap sementara Alan mencari Dr. Arissa selagi mereka pergi, Stein pergi ke labolatoriumnya untuk menyempurnakan alat ciptaannya yang dapat membantu mereka dalam menghadapi Max dan pasukannya.

"Ini akan menjadi perjalanan panjang, daripada aku hanya berdiam disini menyaksikan planet ini hancur begitu saja, lebih baik aku mati dalam perjuangan, setidaknya aku masih memiliki pilihan diluar sana daripada diam disini begitu saja." Ujar Prof. Stein





(To Be Continue)

2019 © Anindosta Studios. All Right Reserved.

"Ini akan menjadi perjalanan panjang, dan menegangkan jika konsep ini bisa menjadi film." Writer of Volter Stein

Chapter 6 | Remember

Bersambung...
VOLTER STEIN "The Peace Enforcement"
Terakhir diperbarui: Aug 24, 2019
VOLTER STEIN "The Peace Enforcement"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang