'AOM ; 1'

316K 14.3K 3K
                                    

Ps: Untuk pembaca baru, saya menganjurkan kalian membaca 'Alaska' terlebih dahulu. Why? Karena penjelasan bla bla bla ada yang tersangkut di sana. Di sini juga dijelaskan sih, tetapi mungkin kalau di sana lebih paham(?)

• • •

KAMUS tebal Bahasa Inggris yang berada di hadapanku melayang bebas saat seorang gadis dengan surai tergerai masuk dengan hebohnya. Matanya membelalak dan segera menyingkir saat 600an lembar lebih mengintai wajah cantik hasil perawatannya. Ia terlihat manyun menatapku yang kubalas dengan tatapan kesal padanya. Tanggapan yang ia beri selanjutnya adalah menyentak-nyentakkan kaki di lantai dengan mode manjah, mengambil kamus yang kulempar kemudian mengembalikan padaku.

Sesungguhnya aku tidak marah, sumpah. Sebab, aku sudah terbiasa dengan tingkah ajaibnya yang orang lain akan memberikan respon jijik terhadapnya. Hanya saja, tanganku ini gatal ingin melemparkannya sesuatu saat kondisi kelas kondusif kedatangannya malah sangat menganggu.

Berdecak adalah hal pertama yang kulakukan saat kamus tersebut disodorkan. Jessica Nathalia memutar bola matanya melihat tingkahku. Cewek gelisah itu kembali ke depan papan tulis.

"Heii para bucin penghuni kelas, jangan lupa datang ke pesta ulang tahun gue, minggu depan, oke? Bawa pacar lo, mama lo, bapak lo, buyut lo juga sekalian, rumah gue siap menampung."

Cewek chubby berkulit putih yang duduk tepat di sampingku menggeleng-geleng melihat tingkah manusia ulat bulu di depan. "Jessica kayaknya udah siap jadiin rumahnya panti jompo," tuturnya padaku.

"Mama lo pada masih muda, lah gue udah nenek-nenek." Aku tidak berbohong. Ibuku sudah menginjak usia 60an dengan tujuh anak yang ia besarkan. Sudah memiliki cucu juga. Kategori nenek-nenek, bukan?

Briska Cani Andara dan Ghea Angeline terkekeh mendengarku. Entah apa yang mereka kekehkan padahal mereka tahu sendiri bahwa aku baru saja mengatakan sebuah fakta.

Pemuda berkulit cokelat yang baru saja masuk, mendorong tanpa kasihan bahu Jessica yang masih hendak menyampaikan pengumuman ulang tahunnya yang akan ia gelar minggu depan. Sahabatku yang menjadikan Alana Juwanda sebagai role model-nya itu terhuyung ke samping.

Mata Jessica nyalang saling beradu dengan Ringgo, ketua kelasku. "Ulat bulu, sana duduk! Gue laporin osis bablas tuh mekap lu semua."

"Haduh enak aja, gue duluan yang booking tempat jadi pengumuman lo ditahan dulu."

"Bacot banget." Mulut Jessica yang sedari tadi bebas berkoar-koar kini dibekap oleh Ringgo. Aku tidak mengerti ada apa dengan mereka namun semenjak kelas 10 mereka tidak pernah berdamai. Andai saja Jessica tidak berpacaran dengan Reindra sepertinya satu kelasku akan gencar menjodoh-jodohkan mereka berdua. Dan untungnya lagi, embel-embel 'geng' seorang Reindra cukup membuat orang takut berurusan dengan dirinya. Jadi, daripada cari masalah dengan mengganggu pacarnya alangkah lebih baik mereka diam saja melihat pertikaian kedua insan itu yang entah kapan selesai. "Thana, ke mading dong liatin tentang LAS nanti."

Hei, apa-apaan ini! Namaku sama sekali tidak masuk dalam daftar struktur organisasi kelas. Namun, kenapa harus diriku? Padahal, masih ada Cani yang notabene Bendahara, Ghea sekretaris. kedua orang itu bawahan Ringgo, semestinya mereka saja yang disuruh ini-itu untuk kepentingan kelas.

"Ngapain nyuruh gue? Cani dan Ghea apakabs?"

"Kabar mereka baik, Than, tapi ini perintah! Udah sana pergi, pergi." Tangannya melambai-lambai mengusirku untuk segera pergi.

"Temenin gue dong." Percayalah, aku ini termasuk siswi di jalur 'ke kantin, ke wc ke mana pun dalam lingkungan sekolah tarik orang biar ada temen'. Dan kurasa, aku tidak sendiri.

Alastair Owns MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang