KALANDRA 👟 11.

Start from the beginning

"Panutan kamu siapa sih, Dek? Katanya Om Tio?" tanya Bubun.

Lah?

Iya ya, gue heran sendiri, biasanya gue bilang titisan Om gue. Yasudahlah, Abang gue lebih serius kalau urusan yang menguji keimanan.

"Kalau panutan baiknya ya sudah pasti Nabi dong Bun, cuma gitu deh," kata gue sambil nyengir. Posisi gue dan Bubun juga belum berubah, masih sama.

"Gimana Bun? Boleh?" tanya gue pelan, buat yakinin kalau restu itu emang perlu, apapun perkerjaannya semua pakai restu orang tua, supaya lancar dan di beri kebarokahan.

Elah kaya orang bener ya gue? Biarin lah sekali-kali bijak kapan lagi coba?

"Sebenarnya Bubun itu ngga masalah kamu mau ikut atau engga, tapi Papa kamu terlalu cemas fisik kamu ngga kaya Ravi," kata Bubun.

Gue melihat Bubun gue sambil tersenyum, entah kenapa gue ngerasa kedua orang tua gue menyembunyilan sesuatu.

"Maksud Bubun gimana ?" tanya gue penasaran.

"Kamu istimewa buat Bubun, Papa, Kakek, Nenek, Om, Tante, dan semuanya." kata Bubun.

Gue kembali tersenyum, kalau itu sih gue udah tahu, keluarga gue emang sayang banget sama gue. 

"Boleh ngga nih?"

Pertanyaan gue terabaikan, tapi Bubun ambil ponselnya, mungkin mau menelpon Papa.

"Hallo?"

Kan, gue bilang apa, Bubun gue pasti nelpon, mana pakai panggilan vidio lagi, yaudahlah ya, gue rubah posisi gue. Gue duduk persis di sebelah Bubun tepatnya bersandar.

"Assalamualaikum, Mas." protes Bubun.  Emang ya, Pak Akbar suka porgetan. Hahaha.

"Astagfirullah, Assalamualaikum." sadar Papa. Gue nahan ketawa masyaAllah, belum punya cucu aja udah pikun Si Bapak.

"Walaikumsalam, Mas masih di kantor ?" kata Bubun, Papa gue, manggut-manggut.

Gue bisa lihat memang Papa masih di ruangannya,  gue perhatiin wajah Papa gue yang mulai lelah. Ya Allah terkadang gue sedih lihat Papa.

"Ada apa Bun? Itu curut ngepain bukannya tidur, ngerjain tugas, malah kelonan sama Bubunnya, Kala?!" tanya Papa akhirnya. Dia baru sadar kalau keberadaan gue mulai terdetec ternyata.

"Dih, cemburuan nih  makanya pulang, Pa, ih aku mau tidur sama Bubun lho," ledek gue, Papa gue udah tersungut-sungut, tahulah gue sama Papa dan Bang Ravi kadang suka ribut kecil, kaya sekarang meski jauh.

"Adek! Minta maaf!" Tuh apa kata gue, yang ngomel  udah bertanduk di sebelah gue, gue nyengir, lihat Papa.

"Maaf Pa, bercanda," kata gue.

"Ada apa Ndra?" gue ragu sebenarnya, tapi Bubun udah nyuruh gue  aja. Gue benerin posisi duduk gue menjadi tegap, ngga enak banget ngobrol sambil sandaran, ponselnya tetep Bubun gue yang pegang.

KEY [COMPLETED]Read this story for FREE!