KALANDRA 👟 11.

21 4 4

Seperti drama yang sedang memerankan para tokohnya.

Nah sebagai pemanis, siapa tahu pernah denger lagu ini, selamat menonton

° ° ° ^ ° ° °

Namanya juga Kalandra, kalau ngga jahil, ya usil, kalau ngga usil dan jahil ya bikin naik darah. Gitu aja terus.

Jika orang lain akan berpikiran Kalandra itu manis, ganteng, cute, oh itu sudah pasti, tidak bisa di rubah karena itu MUTLAK!

Kata Papa gue sih, gue anak yang beruntung, kenapa bisa beruntung?

Iya jelas, sperma Bapak Akbar, pasti beruntung. Beruntung, kelimpahan hartanya, beruntung, kebaikannya, beruntung punya Emak yang cantik, beruntung punya sodara yang care, dan lebih beruntungnya lagi adalah, beruntung dapat izin dari Papa.

Cieee kepo ya?

Gausah kepo, gue kasih tahu kok, semalam seusai sholat isya, biasalah, keluarga gue kalau lagi ngumpul kerasa pasar dadakannya. Emang Papa belum pulang, hanya saja gue ngerayu Bubun gue buat minta persetujuan dari yang punya kekuasaan di rumah.

Semalam...

"Bun?" panggil gue, Bubun berdehem, artinya menyahut nih, asik, lampu ijo kayanya.

"Bun?"  sekali lagi nih, siapa tahu mau nengok, kan? Masa iya anaknya yang masyaAllah ganteng malah di cuekin. Tidak bisa!

"Apa Dek?" gapapa dah, asalkan dapet restu. Gue jadi kepikiran soal ucapan Bang Ravi sore tadi.

"Gini Bun, Bubun  itu baik hati dan tidak sombong," mulai gue, ceritanya gue udah mepet sama Bubun, berhubung Bubun itu lagi di kamarnya, lagi entah ngepain, pokoknya duduk di tempat tidur deh, lagi buka aplikasi Whatsapp sih, yang gue lihat.

Gue baring di pangkuan Bubun gue, emang udah 2 hari gue gak  begini, tapi bodo amatlah. Gue perhatiin Bubun,  karena ada gue, Bubun taruh ponsel di nakas sebelah tempat tidurnya. Jari tangan lembutnya mulai menjalar di kepala gue. Nyaman.

"Ada apa Dek?" tanya Bubun, gue tatap Bubun lekat. Gue ngga mau salah ucap apalagi buat sedih nantinya, bisa di sunat lagi gue sama Papa.

"Adek boleh minta sesuatu ngga? Tapi Bubun harus mengizinnya dengan ikhlas Bun," jawab gue. ragu sebenarnya.

"Memangnya apa, sampai Bubun harus mengizinkannya?" kata Bubun.

"Adek boleh ikut Taekwondo lagi?" tanya gue pelan dan hati-hati, takut Bubun sedih.

"Ravi bilang apa sama kamu?" introgasi Bubun.

Gue beneran ngga sanggup, tapi kalau ngga izin percuma gue dapat juara tapi tanpa restu. Kaya Nikah kalau ngga di restuin ya sia-sia perjuangannya.

"Abang ngga bilang apa-apa kok, Abang cuma kasih aku paket komplit berani dan bertanggung jawab." ucap gue. Wajah Bubun memunculkan lekuk bibir keatas, senyum?

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now