KALANDRA 👟 10

14 4 3

Keputusan itu harus dibuat dan di kerjakan, bukan hanya di rencanakan tanpa kepastian.
. . . .

Setelah sekian lama gue bermain-main dalam pikiran mumet ini, gue memutuskan untuk ikut latihan demi kejuaran yang selana ini gue kejar tapi sempat terhenti. Menurut gue  kali ini adalah kesempatan bagus dan itu akan di laksanakan bulan depan, kalau ngga salah.

Gue lihat  manusia bertubuh kekar duduk di sebelah Tante Melody, itu Bang Ansell, anak sulung dari dua bersaudara. Dia memilih untuk menjadi seorang prajurit ketimbang meneruskan bisnis Papanya, siapa lagi kalau bukan Om Radin.

"Dek, Ravi kemana sih?" bisik Bubun gue, gue sih mepet mulu, efek kesel sama Abang gue atau Kak Vina.

Kurang baik apa coba gue ini sebagai adik selalu ternistakan terus perasaan. Gue deketin bibir gue ke telinga Bubun, ceritanya mau bisikin, tapi Bubun gue mah gelian orangnya.

"Nngga tahu Bun," ucap gue. Ini udah posisi bisik-bisik lho ya. Tante Melody malah ketawa, ya gimana lagi, Bubun gue gelian.

Bang Ansell sibuk sama ponselnya  gue lempar aja pakai kacang, kebetulan di meja ruang tamu selalu ada camilan, termasuk kacang, favorit gue pastinya.

"Sssttt! Rezvan!" kan gue udah bilang, kalau macan bangun teriaknya beda.  Gue kasih cengiran ganteng dan manis gue dong maklum udah lama.

"Saya Kapten!" celetuk gue berdiri sambil hormat

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Saya Kapten!" celetuk gue berdiri sambil hormat. Gila nggak sih gue, wuidih, udah lah pokoknya mah keren euy.

Bay the way, di keluarga gue itu macem-macem nama panggilan buat gue dan saudara-saudara gue. Salah satunya Bang Ansell ini, dia orang yang selalu panggil gue dengan nama tengah, Rezvan. Katanya sih lebih bagus, kalau Papa, Kakek, Nenek, Om Tio dan Istrinya Om gue, biasanya manggil Andra, kaya nama film ya?

Bubun gue ngga usah di sebut lah, selalu manggil Dek, Dek, dari orok sampe gede begini masih aja di panggil Dek, kan kesel saia. Kadang suka nggak ngontrol sih, apalagi kalau ada temen gue, kaya Akmal gitu contohnya. Beuh, muka gue minta pake topeng rasanya.

"Dek! Ih jahil deh, kan kasihan Ansell." Nah, baru gue sebutin, Dek lagi, udah pasti buat Tante Melody cekikikan ngga jelas deh.

"Nis, kamu ini lucu ya, Kala  sudah besar Nis," ucap Tante Melody. Gue ngangguk setuju nih.

"Habisnya bikin naik darah terus Mel, pusing kepala aku," curhat Bubun.

Gue geleng-geleng nggak setuju. Bukannya apa-apa, gue itu kadang suka tengsin tahu ngga sih, ini malah di cubit atuh sakit Bun.

Suka banget sih kadeerte. Gue melotot kesakiran, tepat di paha kanan gue lagi cubitnya, mana geli tapi ya sakit juga, auto merah yakin sih.

Gue milih diem  dari pada bergerak dikit di sembur lagi. Tapi gue nggak betaah juga diem, gue izin keluar sebentar, eh Bang Ansell juga ngikut. Heran  juga gue, dia jauh lebih tua dari gue, tapi apa dia bosen kaya gue?

KEY [COMPLETED]Read this story for FREE!