Gue berenti, pas dia tepat di belakang gue. Sengaja sih sebenernya.

"Rez, berenti itu pakai rem!"

Ini orang ngegas mulu, perasaan ngga ada lampu merah, tapi masih ngegas, suka cerdas ih sepupu gue.

"Lah, situ  ngepain ngikutin, dih kuker banget." protes gue.

"Bosen," katanya. Tebakan gue bener, kan. Dia tipe orang banyak gerak, susah emang kalau udah jadi perwira musti banyak gerak sana dan sini.

Gue duduk di sebuah  gardu deket kolam ikan depan teras rumah, pokoknya gitu lah. Kalau kata Mang usep penjaga hansip kompleks, namanya itu Saung.  Adanya di halaman depan di rumah gue.

Gue duduk selonjoran, diikuti sama Bang Ansell yang duduk berhadapan sama gue

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Gue duduk selonjoran, diikuti sama Bang Ansell yang duduk berhadapan sama gue. Gue perhatiin mukanya sedikit bersih, kaya ada manis-manisnya gitu.

"Bang, lu kok milih jadi anggota militer sih?" tanya gue mulai kepo nih, dia menaruh ponselnya seraya menatap gue. MasyaAllah, ganteng lho, siapa yang mau daftar nih?

"Suka dan cinta."

Cuma itu doang, taopi udah buat gue herget. Suka dan cinta itu beda, apa gue juga gitu ya?

"kenapa ?"

Gue menatap dia dengan perasaan yang masih bimbang, antara iya dan tidak. Tapi harus!

"Gue mau ikut kejuaran lagi, tapi gue masih bimbang, Bang," ucap gue. Bang Ansell berpindah duduk di sebelah gue, kini dia bersandar sambil memejamkan matanya. Kaya Bang Ravi.

"Kamu suka  atau cinta?" tanyanya. Gue menoleh sekilas, masig sedikit nggak paham, apa maksud dua kata itu.

"Gimana Bang?" tanya gue akhirnya. Dia merubah posisi duduknya menjadi tegap dengan menyilangkan kedua kakinya. Pandangannya lurus kedepan.

"Suka  dan cinta, kamu tahu itu dua kata yang berbeda tapi memiliki arti yang sangat tipis." ucapnya, sambil membuang napas.

"Iya tahu, terus?" kata gue.

"Rez, suka itu bukan berarti cinta, begitu juga sebaliknya. Maksudku, Kamu menyukai olahraga Taekwondo, karena kamu cinta. Cinta dengan keluarga, kamu menjadikan seni bela diri itu bukan hanya sekedar menyukainya, tapi ku juga mencintainya. Di setiap sudut pukulanmu membuatmu melepaskan semua rasa sakit, kesal, dan ingin menjadi sesuatu yang berarti." kata Bang Ansell. Dia meboleh ke arah gue sekilas.

"Tapi, itu bukan cinta, kamu melampiaskannya melalui pukulan itu, meski niatmu bukan untuk menyakiti. Meski itu hanya pertandingan, tapi tidak kah kamu tahu, mencintai sesuatu yang kita sukai itu sedikit sulit?" ucapan Bang Ansell terhenti, dia melihat kearah langit dan sudah berdiri diuar saung tempat kami duduk.

"Maksudnya Bang? "

Gue masih bingung, ucapannya terlalu berbelit,  tapi gue coba buat menyerapi secara perlahan.

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now