KALANDRA 👟 09.

11 4 1

Sendiri tak masalah, tapi terasa sepi.

. . . .

"Ayo Vi."  Ajakan Vina membuat Adiknya terkejut, lalu menatap Kakaknya heran.

"Kamu habis apain itu anak?" tanya Ravi.

"Udah ah ayo, anterin," elak Vina. Membuat Ravi heran.

"Belum salaman sama Papa," kata Ravi lagi. Namun di tatap tajam oleh sang Kakak.

"Ravindra Shaquille Akbar, niat, kan?" ucap Vina, membuat Ravi bergegas menyalakan mesin mobil milik  kakaknya.

"Oke," jawabnya gugup. Meski memiliki tubuh atletis, wajah tampan, tapi tidak dengan nyali yang bila di gertak sedikit oleh Vina dia akan menurut begitu saja.

Ravi pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, berhubung masih pagi, jalanan sedikit kosong, apa lagi jalanan kompleks perumahan tempat mereka tinggal. Tidak usah di tanya, paling tidak hanya beberapa orang yang berlalu lalang, untuk belanja sayur dan anak-anak yang pergi sekolah.

"Kak?" panggil Ravi, yang baru keluar dari area perumahan, jalanan Jakarta sudah padat merayap.

"Apa Vi?" sahut Vina.

"Tadi?" belum sempat melanjutkan perkataannya, Vina memasukan sepotong pisng goreng yang sempat ia bawa ketika akan berangmat tadi.

"Udah makan, belum sarapan, kan?"  kata Vina. Ravi mendengus sebal, karena  Kakaknya sangat sulit untuk di mintai pendapat.

Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya berdiam, berbicara sesekali jika Ravi, berbuat ulah. Mereka sering sekali di katakan sebagai best couple, karena memang terlihat seperti sepasang kekasih.

Sama halnya pada waktu Ravi mengantarkan Vina ke tempat bazar, Ravi  dan Vina memilih untuk naik motor dari pada harus menggunakan mobil. Sesampainya di tempat bazar, mereka langsung di serbu, belum lagi posisi Vina di kantor ada sebagai manager. Tapi tidak memungkiri, kalau Vina itu juga seorang model yang cukup bagus.

"Ke Mall yang di pondok indah," ucap Vina, tapi pelandangannya tetap pada ponselnya. Ravi hanya menuruti perintah saja. Dan sesampainya di tempat tujuan, belum juga mereka turun, beberapa orang yang melihat, sudah datang berhambur untuk meminta foto.

"Susah emang punya Kakak sok sibuk," gerutu Ravi.

"Buruan,"protes Vina, lalu mereka berduapun keluar , tanpa memperdulikan para netijen. Ravi yang jauh lebih tinggi dari Vina, ia merangkul Kakaknya agar terhindar dari para perusuh menurutnya.

"Mbak Davina, mari ikut," sapa seorang petugas mall.

"Pak Deka Mafes ada ?" tanya Vina, diangguki oleh petugs itu.

. . .

Sementara Kakaknya bekerja, Ravi berjalan-jalan menyusuri mall, menurutnya tak begitu buruk untuk menjadi seorang singel man?

Tapi ketika ia melewati salah satu toko yang ada di mall itu, Ravi berhenti, ia melihat sosok yang wanita yang menurutnua sangat manis.

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now