1. About Salmaya Putri

21 6 0

Di sebuah ruangan berukuran sedang tampak beberapa orang dengan pakaian serupa berlalu lalang. Menghampiri satu meja kemudian berpindah ke meja yang lain. Perlahan mulai banyak orang dari luar yang masuk ke dalam sebuah rumah makan yang biasa-biasa saja jika di lihat dari luar.

Sedangkan di ruang belakang tampak seorang gadis berkerudung sibuk mondar-mandir mengurus beberapa masakan yang di pesan orang di luar. Kedua tangannya tak pernah menganggur. Dia mengerjakan semuanya dengan cepat dan tepat untuk menghindari komplain dari pelanggan karena makanan mereka datang terlalu lama. Sesekali dia meringis karena bidang miring pada sebuah alat dapur menyayat kulitnya. Namun cepat-cepat dia membersihkannya dan melanjutkan kegiatan memasaknya.

"Wan," panggilnya kepada salah seorang pramusaji disana.

"Nih yang tadi pesen sop buntut." Gadis bertubuh tidak terlalu tinggi itu menyerahkan beberapa mangkuk dan piring yang berisi makanan.

Di sela-sela sibuknya dia dalam membuat makanan, masih di sempatkan untuk menyeka bulir-bulir peluh yang berkumpul di area pelipis. Takut keringatnya menetes dan bercampur dengan masakan yang ia buat dan menimbulkan rasa asin yang tidak di inginkan.

Gerakannya sangat lincah ketika berkutat dengan alat-alat dapur. Tak pernah sedikit pun ada rasa takut terkena cipratan minyak atau jari yang teriris pisau. Semua dilakukan dengan tempo cepat tanpa memikirkan semua itu.

Salmaya Putri atau kerap di panggil Maya. Gadis yang sudah hidup selama 22 tahun di dunia ini, terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Dia tak pernah mengalami yang namanya hidup susah dari kecil. Meskipun hidup dengan kondisi yang tak pernah susah, orang tuanya selalu mengajarkan untuk hidup hemat dan selalu rendah hati.

Sang ayah mendirikan usaha dari nol sampai berkembang dengan baik. Hingga suatu saat ayahnya harus pergi selama-lamanya meninggalkan dia dan keluarganya. Ayahnya mengalami kecelakaan dan terjadi pendarahan parah. Setelah kepergian sang ayahanda, keadaan ekonomi mulai tidak stabil. Perusahaan yang didirikan ayahnya semakin kesini semakin menurun sampai pada akhirnya bangkrut.

Setelah semuanya terjadi, dia dan keluarganya tinggal di sebuah kontrakan kecil yang di belinya beberapa bulan setelah bangkrutnya perusahaan. Kontrakan itu pun dibeli dari uang hasil meminjam milik saudara. Sebenarnya beberapa sanak saudaranya sudah mengikhlaskan uang tersebut tanpa harus di kembalikan. Bahkan ada yang menawarkan untuk tinggal bersama namun semua itu di tolak oleh sang ibu dengan alasan ingin hidup mandiri.

Maya yang saat itu masih SMP tak tahu harus berbuat apa melihat kondisi ibunya yang selalu kesusahan mengatur keuangan. Ditambah lagi ketiga adiknya yang masih kecil. Sampai pada akhirnya dia lulus SMP kemudian melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMK. Dia bersyukur saat itu masih bisa melanjutkan sekolah di saat keadaan ekonomi yang sulit. Namun pertengahan kelas dua dia sudah tidak berstatus sebagai seorang siswa lagi. Maya dinyatakan keluar saat tunggakan uang bangunan yang sudah hampir setahun belum terbayarkan.

Setelah saat itu Maya bertekad untuk bekerja membantu ibunya mencari kepingan receh untuk membiayai adik-adiknya sekolah. Dia selalu berpikiran supaya adik-adiknya jangan sampai putus sekolah seperti dirinya. Dia juga tak tega membiarkan sang ibu banting tulang sendirian menghidupi empat orang anak.

Sampai pada akhirnya dia bertemu dengan pemilik restoran ini yang berbaik hati mau memberi pekerjaan kepada Maya yang pada saat itu belum genap berumur 17 tahun. Mulanya dia diberi pekerjaan yang ringan-ringan seperti bersih-bersih. Lambat laun dia mulai beralih tugas menjadi pramusaji. Hingga saat ini ia diberi tanggung jawab untuk memuaskan para konsumen Moro Resto, begitulah nama tempat kerja Maya, dengan masakan-masakan hasil olahannya. Sekitar lima tahun Maya berkutat di Moro Resto membuat dirinya seperti memiliki keluarga kedua.

InterestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang