Chapter 11

69 35 21

Calon Imam : Ada hal yang tidak bisa aku ungkapkan padamu, tentang rasa. Ternyata jarak memberikan rasa itu padaku.
Saya rindu kamu, boleh kan saya merindukan calon istri saya?

Dinda masih saja teringat akan sebuah pesan yang dikirimkan oleh Syahid padanya, sepanjang hari ini tak henti-hentinya ia tersenyum hingga mendapatkan teguran dari kedua orang tuanya yang melihat putri bungsunya sedang bahagia.

"Kamu kenapa, Din?" tanya Ayah yang sedang duduk di teras rumah lalu melipatkan sebuah koran dan menaruhnya.

"Gapapa yah," jawab Dinda sekilas menatap ayahnya lalu  beralih dari ponselnya.

Wanita paruh baya yang tak lain adalah ibundanya datang membawa secangkir kopi untuk ayah.

"Din, tadi kakakmu bilang. Kalo kamu dapat kabar dari Syahid," ujar bunda dengan suaranya yang seperti sedang menggodanya.

Dinda menoleh melihat bunda, dan memperlihatkan jejeran giginya." Hehe... Ya gitu deh bun,"ujarnya.

"Gimana sama keadaan Syahid di sana?" tanya ayah.

"Alhamdulillah yah baik."

"Kamu sudah pilih universitas mana untuk melanjutkan pendidikan kamu?" tanya Ayahnya.

Dinda menyimpan ponselnya, lalu menatap sang ayah dengan raut wajah bingung dan bimbang.

"Mau kemana, sayang?" tanya bunda.

Dinda menatap ragu kedua orang tuanya, "hemm, kalo misalnya Dinda enggak lanjutin pendidikan Dinda boleh gak?" tanyanya nyaris seperti bisikan.

Ayah mengerutkan dahi, " Alasannya?"

Dinda menghembuskan napas sejenak lalu berujar kembali, "Dinda kalo menikah nanti ingin fokus jadi ibu rumah tangga aja yah," Dinda menahan malu saat mengatakan itu kepada kedua orang tuanya.

Bunda tersenyum dan mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut, "bunda terserah kamu, karena kamu yang jalani. Bunda gak melarang sama sekali."

"Hanya itu alasan kamu, Din? Coba kamu pikir-pikir lagi. Bukankah kamu ingin bercita-cita jadi dokter?" ucap ayah.

Dinda mendesah dan terlihat dari raut wajahnya yang tampak serius itu.

"Dinda yakin yah, memang dulu Dinda ingin sekali menjadi dokter spesialis anak. Tapi Dinda berubah pikiran. Karena Dinda ingin bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk anak-anak Dinda kelak nanti, mengurus dia."

"Wanita berkarir lebih bagus loh Din," timpal Adam yang entah sejak kapan sudah bergabung.

"Wanita berkarir maupun wanita ibu rumah tangga, mereka mempunyai keistimewaan tersendiri kak," ucap Dinda.

"Ayah, terserah kamu saja. Benar kata bunda karena kamu yang jalani."

Dinda mengukir senyuman tipis, ia tahu bahwa ayah dan bundanya akan mendukung anak-anaknya apapun itu jika itu kebaikan untuk anak-anaknya.
D

inda sangat bersyukur mempunyai kedua orang tua seperti mereka.

Dinda memeluk bundanya dengan erat, "sayang bunda," ujarnya.

"Manja udah gede," sindir Adam.

"Sayang bunda doang nih, ayah enggak?" seru ayahnya.

Dinda beranjak dan menghampiri ayahnya lalu memeluk pria baya itu.

"Sayang ayah juga,"

"Sayang ka Adam juga," lanjut Dinda.

***

Syahid yang tampak sedang serius berkutik dengan laptopnya dan beberapa tumpukan berkas yang berada di mejanya. Ia sesekali menguap karena semalam pria itu hanya tidur tiga jam di karenakan harus membereskan pekerjaannya yang belum terselesaikan.

"Syahid sebaiknya kamu istirahat terlebih dahulu, jangan di paksakan," ujar pria baya yang datang ke Syahid.

"Gapapa om, ini tinggal sedikit lagi."

"Syahid, sudahlah mata kamu sudah merah tuh. Om gak mau nanti kamu jatuh sakit. Ini biar om yang ngurus,"

"Tapi om, ini udah kewajiban Syahid. Sebentar doang ko om ini tinggal dikit lagi."

Pria baya itu menghela napas kasar, "baiklah, kalo sudah selesai kamu istirahat saja, tidur memulihkan stamina tubuh kamu. Jaga kesehatan jangan sampai gila kerja," nasehatnya.

"Iya om. Terima kasih."

"Bagaimana kamu sudah mengabarkan keluargamu di jakarta?"

"Sudah om."

"Soal calon istrimu?"

Syahid menghentikan sejenak kegiatannya."Soal pembicaraan kemarin serius saya om."

"Ya sudah, mungkin hanya butuh waktu lima bulan lamanya perusahaan ini, om sudah prediksi gak sampai setahun."

Syahid mengukir senyum, ia tidak sabar untuk kembali ke jakarta dan menimang wanita tercintanya. Karena Syahid yakin Dinda adalah jodoh pilihan Allah untuknya.

Syahid sudah menyukai gadis itu sejak lama sebelum mereka di jodohkan hanya saja ia hanya bisa menyimpan cintanya.

Syahid tak menyangka bila ia dan gadis itu kini hubungannya semakin dekat, dan ia sudah mempersiapkan segalanya untuk Dinda saat ia pulang nanti. Semoga gadis itu menerima dirinya menjadi imam dalam keluarga.

Pria itu mengambil selembar foto yang ia simpan. Foto Dinda yang tengah tersenyum manis.
Ia terkekeh geli saat mengirim pesan ke Dinda jika ia rindu. Dan yang paling membuatnya bahagia adalah gadis itu juga merasakan hal yang sama, merindukan dirinya.

Hanya tinggal beberapa bulan saja, ya hanya tinggal menunggu waktu.

🌸🌸🌸🌸🌸

The Light Of Allah's LoveWhere stories live. Discover now