Chapter 12

59 35 9

Sebelumnya, aku minta maaf jika dalam chapter ini terdapat kata-kata yang tidak nyambung, typo dsb. 🙏

Awas chapter ini sudah masuk seseorang yg akan memperebutkan Dinda🙊hehe😹

Happy reading, reader:)

*****
*
*
*

Seorang pria dengan pakaian santai berjalan menelusuri koridor rumah sakit menuju ruangan melati nomor 21 yang terletak di lantai dua. Lelaki itu menenteng plastik yang berisi makanan.

Ketika ia ingin berbelok ke lorong kanan lelaki itu berpapasan dengan seorang pria berjas putih yang tak lain adalah seorang dokter.

"Siang dok," sapa Adam lalu menyunggingkan senyuman.

"Iya," balas ramah Dokter tersebut yang bernam tag Fazan.

"Dok tunggu, saya mau nanya sebentar. Bisa?" tanya Adam menghentikan langkah dokter itu.

"Ya, ada apa?"tanya kembali Dokter Fazan.

"Saya mau nanya keadaan adik saya dok," ujar Adam.

Jadi tadi pagi ketika hendak ingin membangunkan Dinda, Adam terkejut saat mendapati keadaan tubuh adiknya yang panas dan menggigil. Lalu ia dengan segera membawa sang adik ke rumah sakit. Ketika setelah di periksa ternyata Dinda mengalami penyakit Tipus dan di haruskan ia di rawat inap untuk beberapa hari ke depan.

"Alhamdulillah, kamu gak perlu khawatir Dam. Oya, tadi saya baru saja cek adik kamu. Dia belum memakan makan siangnya. Suruh dia makan biar tubuhnya bisa stabil lagi. Paksa aja Dam kalau tidak mau,"

Adam terkekeh kecil, "hehe iya pak Dokter, adik saya memang gitu dia anti sama makanan rumah sakit. Tadi pagi aja dia nolak keras untuk di bawa ke rumah sakit. Tapi saya memaksanya."

Ya, Adam dan Dokter Fazan sudah saling mengenal karena di waktu kuliah dokter Fazan ini adalah senior Adam. Walau mereka berbeda jurusan tapi mereka saling kenal karena teman Adam yang mengambil jurusan kedokteran mengenalkan mereka. Jadilah, mereka sangat akrab.

"Ya sudah, saya permisi dulu ya Dam. Assalamu'alaikum." pamit Dokter Adam.

"Wa'alaikum salam."

Adam kembali melanjutkan langkahnya ke ruangan Dinda, ketika telah sampai ia membuka pintu tersebut dan di dapati Dinda yang sedang terbaring lemah di ranjang yang di temani oleh bunda.

"Assalamu'alaikum." Salam Adam. Ia masuk dan menutup pintu.

"Wa'alaikum salam,"

Adam mencium tangan bunda, lalu melirik Dinda yang bermuka pucat.

"Udah makan?" tanya Adam pada adiknya.

Dinda hanya menggeleng, merespon ucapan kakaknya.

"Mana mau adik kamu makan makanan rumah sakit. Bunda cape dari tadi bujuk adik kamu yang keras kepala ini," ucap bunda.

"Ihhh bunda, makananya gak enak pahit." keluh Dinda cemberut.

Adam menghela napas panjang, "nih kak Adam bawain bubur beli di tempat biasanya."
Sambil membuka bungkusan bubur tersebut lalu menuangkan ke mangkuk.

Dengan mata berbinar Dinda mengangguk bertanda mau. Itu adalah bubur kesukaannya ia tidak akan menolaknya sedikitpun. Adam membantu Dinda untuk duduk bersender.

Lalu ia menyuapini sang adik dengan telaten. Baru satu suap yang masuk ke mulut Dinda, gadis itu lantas langsung mengambil tisu dan membuang makanan yang di mulutnya.

"Kenapa di muntahin Dinda," ucap Adam.

Dengan mata yang berkaca kaca Dinda menjawab dengan lirihnya. "Pahit kak. Kenapa semua makanan yang di makan Dinda pahit sih. Padahal Dinda lapar banget."

The Light Of Allah's LoveWhere stories live. Discover now