06. Dating (2)

2.2K 320 92
                                                  

"Menara Eiffel sangat indah saat malam."

Kurasakan Daniel menatapku, ia tersenyum tipis lalu menyetujui ucapanku, "kau benar. Sangat indah," gumamnya sangat rendah, namun dengan tatapan tak lepas dariku.

Saat ini kami sedang duduk di rerumputan, menatap pemandangan Eiffel dengan cahaya lampu yang begitu indah. Seharian ia menemaniku keliling kota Paris tanpa banyak protes, meski ia juga memang tidak banyak berbicara. Seperti biasa.

Meski begitu kurasakan Daniel sedikit berubah. Ia lebih banyak bertanya mengenai perasaanku, seperti, 'apakah kau lelah?' 'apakah kau lapar?' "apakah kau senang?' yang belakangan membuatku risih karena ia begitu rewel.

"Apakah kau senang?" tanyanya entah keberapa kali, aku enggan melepaskan tatapanku dari pemandangan indah yang dulunya hanya dalam mimpi. Aku pun mengangguk antusias, "sangat senang. Terima kasih," jawabku kemudian.

"Syukurlah." Lalu tangannya mendarat di pucuk kepalaku dengan begitu canggung.

***

Mungkin aku begitu egois dan keras kepala, namun entah dorongan darimana aku enggan beranjak dari sana hingga Daniel terpaksa mencari makanan sementara aku duduk menunggunya. Kami menikmati makan malam ditemani sinar rembulan, di atas rerumputan yang sedikit lembab. Dan aku sangat tahu, Daniel membencinya meski saat ini lagi-lagi dia hanya menurutiku.

Ajakan pulangnya kutolak hingga ketiga kalinya, waktu hampir menunjukkan pukul 12 malam, ia pun mulai menaikkan nada suaranya seakan memintaku menurut.

"Cuaca semakin dingin. Jaket yang kau pakai tidak begitu tebal, nanti dirimu terserang flu, Seongwoo." Nada suaranya meninggi, aku mulai merasa takut dan beranjak untuk pulang meski dengan bibir ditekuk.

Kami berjalan mencari taksi, dengan sengaja aku berjalan agak cepat mendahuluinya untuk menunjukkan rasa kesalku padanya. Sampai akhirnya sesuatu yang hangat melingkupi tanganku. Ia menyamakan langkah kami dan menggenggam tanganku.

"Lihat, bahkan tanganmu sudah hampir beku," ujarnya sambil mengeratkan genggaman tangan kami. Aneh, rasanya begitu hangat sampai ke pipiku.

"Jangan menekuk wajahmu seperti itu, lain kali kita menginap di sana kalau kau mau."

Aku terperanjat kaget, "benarkah?" Seseorang seperti Daniel mau menginap di dekat eiffel?

"Dengan persiapan lengkap, tidak masalah," ucapnya enteng membuatku semakin mengerucutkan bibir. Persiapan lengkapnya terdengar sangat tidak wajar.

Setelelah mendapatkan taksi kami pulang menuju hotel, lucunya rasa lelah langsung menghampiri saat kami sampai. Hampir 10 jam berjalan-jalan ternyata cukup menguras energiku.

"Aku sangat lelah," aku duduk di tempat tidur sambil memejamkan mata yang terasa berat.

"Ganti baju dan bersihkan tubuh dulu sebelum tidur."

Meski kesal aku menurutinya, karena aku sudah paham ia membenci seseorang yang tidur tanpa membersihkan diri. Sungguh sangat perfeksionis.

Dengan kecepatan kilat aku keluar setelah mengganti dengan pakaian tidur. Aku menaiki tempat tidur sambil menarik selimut hingga aku tersadar. Apakah kami akan berbagi selimut lagi?

Daniel sedang fokus di depan laptopnya. Ia memicingkan mata seperti kesulitan dan fokus pada pekerjaannya.

"Daniel, selimutnya hanya satu?" tanyaku sedikit segan mengganggu konsentrasinya.

Ia mendongak, lalu tampak berpikir. "Kau tidak keberatan kan kalau kita berbagi selimut lagi?" Ia memasang wajah serius membuatku mati kutu.

"Eh, itu.. Ya tidak apa, tapi..." jawabku salah tingkah.

Marriage - OngNielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang