Bandung, 3 Januari Ba'da Subuh

877 37 17


Follow, Vote dan Share !

Asiyah sudah siap sejak sebelum Subuh, bangun mandi dan sholat. Ia melihat sekeliling kamarnya, sangat indah. Bunga-bunga plastik dihias seakan benar-benar hidup, wangi dan asli. Warna putih menjadi dasar untuk pernikahan hari ini. Huruf A&A berwarna gold terpampang besar didinding kamarnya. Asiyah berjalan turun ke bawah. Semua sudah siap. Ruang tamu seakan disulap menjadi ruang akad yang begitu indah. Kristal gantungan lampu diganti dengan yang baru. Meja makan juga sudah disulap, peralatan-peralatan mewah sudah rapi tersusun.

Semua sudah mulai sibuk, petugas katering, petugas wedding organizer sudah berdatangan mengurusi ini dan itu, memastikan semua baik tanpa kurang satu apapun. Asiyah diminta Teh Nela ke atas, untuk siap didandani katanya. Ia membawa 5 box besar peralatan make up beserta beberapa asisten make up naik ke atas.

Asiyah duduk di ranjangnya, sementara teh Nela sibuk mengeluarkan barang-barang perlengkapan dari box-box nya. Make up, baju pengantin, singer dll.

***

Arif lebih terlihat santai diluar, tapi sebenarnya hatinyalah yang paling tak karuan sekarang. Bagaimana tidak, lisannya adalah penentu hari ini, membuat yang haram menjadi halal, membuat dosa menjadi pahala.

Tepat pukul delapan pagi, mereka semua berangkat menuju rumah mempelai wanita di Jl. H. Tatang Sumantri. Ada sekitar 20 mobil menemani Arif sekeluarga hari itu, salah satunya mobil penghulu yang merupakan teman akrab sang kakak di KUA.

***

Arif sudah duduk rapi di meja pernikahan. Asiyah turun perlahan dari tangga. Arif melirik, "Dia cantik" gumamnya. Benar, Asiyah cantik, sangat cantik pagi itu. Make up flawless berwarna soft pink menyulap wajahnya yang imut menjadi lebih dewasa, balutan kebaya putih membuatnya semakin bersinar.

Mereka disandingkan bersebelahan, tak lama kemudian terdengar suara Arif dengan mikrofon

"Saya terima nikah dan kawinnya Asiyah Abdullah binti Muhammad Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas 25gram dibayar tunai"

"Sah, sah" begitu jawaban saksi

Arif bersyukur memuji Allah. Asiyah tersenyum lega. Mereka berdoa. Sekitar 100an tamu dari 300 undangan mengaminkan doa mereka semua pagi itu.

"Ya Robb, kumpulkanlah mereka dalam ketaatan kepadaMu, dan jadokan rumah tangga mereka sebagai ladang pahala seumur hidup bagi mereka, Aamiin" begitu sedikit gambaran doanya

Acara selesai. Mereka berganti pakaian. Nasheed sudah mulai bersholawat di halaman rumah, tamu-tamu sudah mulai berdatangan.

***

Magrib itu rumah masih ramai, entah apa penyebabnya Arif ketinggalan mandi, ia baru selesai mandi sekitar 15menit setelah adzan. Asiyah bertanya

"Sudah lewat 15 menit dari Adzan, gimana?"

"Kamu sudah sholat" tanya Arif

"Belum"

"Yuk, kita sholat bareng"

Arif memimpin sholat. Asiyah tersenyum. Suara bacaan sholatnya begitu indah, bacaannya juga tartil. Asiyah semakim memtadaburri makna ayat-ayat yang dibaca suaminya.

"Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar"

Sampai kepada rakaat ketiga Arif bukannya duduk tahiyat akhir malah langsung berdiri "Allahuakbar"

Asiyah heran, ia mengingatkan suaminya

"Subhanallah" suaminya masih diam "Subhanallah" baru kemudian Arif sadar ini adalah sholat magrib. Ia duduk kembali dan melanjutkan tahiyat akhir. Kemudian salam.

Setelah sholat ia membaca ayatul kursi, ia berdzikir kemudian berdoa, selesai berdoa ia memutar badan, Asiyah mengambil tangan suaminya kemudian menciumnya.

Mereka saling menatap mesra, Arif terseyum kemudia tergelak, Asiyah mengikuti. Mereka saling tertawa geli karena saking geroginya menjadi imam istri, suaminya sampai lupa jumlah rakaat sholat.

Mereka berpelukan.

"Aku tak pernah lupa rakaat sholat sebelumnya, tapi giliran sholat perdana di depan istriku, aku malah grogi sampai lupa"

Asiyah tertawa "Makanya tadi aku pikir, kok magrib malah 4 rakaat? diingatkan, dan Alhamdulillah kamu ingat"

Mereka ngobrol lepas untuk pertama kalinya, sambil bersandar di sebuah lemari kayu besar dengan Arif merangkul Asiyah.

"Besok-besok jangan lupa lagi ya" Asiyah menggoda Arif sambil mencubit hidung mancungnya

"Oh, udah berani cubit-cubit ya" Arif balas menggelitik pinggang istrinya sampai ia terpingkal dan tertidur.

"Iya, udah, udah, geli, geli, maaf sayanh, udah"

Melihat istrinya yang tertawa lepas Arif bukannya berhenti, ia semakin kuat menggelitik istrinya dengan posisi merangkak. Wajah mereka berdekatan, hidungnya bersentuhan, mereka saling menatap cinta dengam senyuman. Kemudian..



....................................

Bismillah

Assalamu 'alaikum

Novel ini sudah tersedia bentuk PDF

yang mau boleh langsung DM atau Inbok

Insyaa Allah cerita akan dikirim ke alamat Email masing-masing

Selamat membaca

Salam kenal dari penulis Ririn Putri Abdullah :)

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now