Dokumen-dokumen

454 19 0



Bandung, 26 Desember, pukul 08.00 Wib

Telepon Arif berdering, ia mengangkatnya

"Assalamu 'alaikum"

"Waalaikumussallam, Rif, foto calon istrimu kurang, bisa aa minta tlg kamu ambilkan?"

"Apa tidak bisa di skip aja a? "

"Kenapa memang? Kamu ada masalah?"

"Enggak, oh ya sudah nanti aa usahakan. Oh iya, untuk penghulu tanggal 3 Januari itu sibuk semua, sepertinya pernikahanmu akan diundur"

"Subhanallah, tidakkah Aa bisa bantu agar pernikahannya tetap terlaksana tanggal segitu?"

"Insyaa Allah, akan Aa bantu sekuatnya. Kamu berdoa saja, minta juga calon istrimu berdoa, karna ketika ini adalah niat yang baik karena Allah, Insyaa Allah semua akan Allah mudahkan"

"Aamiin, Bismillah ya A"

"Na'am, Assalamu 'alaikum"

"Waalaikumussallam"

Kepala Arif serasa akan meledak, sejak semalam ia mengirim pesan wa dan menelpon Asiyah, tapi tak satupun ada jawaban. Disisi lqin, pernikahannya terancam diundur dari Jadwal yang semeatinya. Belum mahar yang belum dibeli, ya Allah sepertinya kepalanya stress.

Arif kembali kepada Allah.

"Astagfirullah, astagfirullah" berulang-ulang

Ia mengambil wudhu, menenangkan diri. Ia menggelar sajadahnya dan sholat hajat, meminta kepada Allah agar dipermudah setiap urusannya. Arif terhanyut.

30 menit kemudian, dia mendapat balasan wa dari Asiyah. Ia meminta bertemu di kafe kemaren 30 menit lagi untuk membicarakan kejadian kemaren, ia meminta Arif datang sendirian, sedang ia akan ditemani saudari sepupunya.

Arif tersenyum haru, ia sujud syukur tanda tunduk dan berserah diri kepada setia keputusan Allah serta memuji nikmat Allah yang langsung mengabulkan doa-doanya.

***

Arif ingin mempersingkat waktu, ia mengambil jalan memotong dengan sepeda motor matic agar cepat sampai menuju kafe. Tak butuh waktu lama ia sudah sampai di kafe tempat tujuan.

Ia menghubungi Asiyah, berkata bahwa ia sudah tiba. Asiyah memintanya naik ke lantai 2, duduk ditempat kemaren mereka duduk. Arif naik ke atas, lengang, hanya beberapa meja saja yang terisi. Ia melihat Asiyah dari kejauhan. Mereka sedang asyik memandang ke arah jalan raya.

"Assalamu 'alaikum" Arif menyapa

"Waalaikumussallam" keduanya menjawab

Mereka diam.

"Mbak" Ameera memanggil pramusaji

Sempat terjadi tolak menolak antar keduanya, jompak mengatakan tidak haus, akhirnya Ameera tetap memesan 3 gelas Orange Jus untuk menemani mereka ngobrol. Pramusaji pergi. Mereka hening kembali.

Asiyah sengaja, menunggu apa yang ingin Arif sampaikan. Arif sedang berusaha didalam dirinya, mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan calon istrinya. Ameera? Dia sibuk main game cook me please dan sengaja tak menghiraukan mereka berdua.

"Afwan, Asiyah" Arif mulai membuka suara

"Sebenarnya kemarin itu tidak seperti yang terlihat, kamu hanya melihat sepotong dari seluruh adegan yang ada"

"Kalau begitu, ceritakan adegan lengkapnya"

"Baik, tapi bolehkah aku bertanya terlebih dahulu?"

"Tafadhol"

"Setelah melihatku kemarin, apa yang kami fikirkan tentang diriku?"

"Aku berhusnudzon, Insyaa Allah. Tapi aku tetap butuh penjelasan, agar husnudzonku tak menjadi suudzon karena hasutan Syetan dan aku ikut mereka"

"Baiklah"

"Jadi, kemaren itu namanya Sri, dia salah satu murod Ummi. Dia pernah memintaku kepada Umi, tapi, sebelum aku menjawab, ia memutuskannya, katanya orang tuanya tidak setuju menurut tradisi mereka"

"Aku tak pernah bertemu dengannya, hanya melihat cv nya sekilas saja. Kemarin aku ke toko buku, berniat membelikan mahar untukmu"

"Tiba-tiba ia datang menyapaku, memperkenalkan diri dan menanyakan kabar. Selaku muslim aku menjawab dengan sopan"

"Ia bercerita kepadaku tentang Allah, Allah tak adil padanya menurutnya"

"Aku tak terima, sedikit demi sedikit aku menasehatinya, ia emosional, sampai akhirnya memelukku dan memintaku untuk menikahinya"

"Pada saat itu, entah dari mana kau datang, melihat kami dalam keadaan seperti itu. Dan kemudian kau lari"

"Aku harus mengejarmu, tapi Sri? Aku harus meyakinkannya terlebih dahulu untuk kembali tawakal kpd setiap takdir dari Allah"

"Lama aku menasehatinya, agar ia menjadi wanita soleha seutuhnya dan berharap agar ia tak kan pernah lavi menjatuhkan iazzahnya dihadapan lelaki"

" Ia mengerti dan meminta maaf"

"Aku mengejarmu, mencarimu sampai parkiran, tapi kau sudah hilang"

"Kemudian aku pulang, berserah diri kepada Allah"

Asiyah hanya diam, ia tak menyangka kejadiannya akan seperti itu. Arif menunggu jawaban.

"Afwan, untuk tidak menjawabmu kemarin"

"Tidak apa-apa, anggap saja ini termasuk ujian untuk kita berdua sebelum pernikahan"

Asiyah tersenyum tersipu malu. Ameera melirik.

Telepon Arif kembali bergetar, ia mengangkatnya agak jauh dari kedua gadis itu.

Arif ditelpon oleh kakaknya. Kakaknya memberinya kabar gembira bahwa ia sudah mendapat penghulu untuk pernikahan mereka, dan meminta Arif memberitahukan keluarga Asiyah bahwa mereka sudah bisa mencetak undangan karena Insyaa Allah pernikahan sudah fix tanggal 3 Januari. Arif bersyukur memuji Allah berulang-ulang.

Arif kembali ke meja.

"Asiyah, aku ingin meminta tolong kepadamu"

"Meminta tolong apa?" Sambil penasaran

"Berjanjilah kau akan memenuhinya"

"Insyaa Allah selagi aku mampu" Asiyah makin penasaran

"Aku meminta tolong, agar engkau memberitahukan keluargamu bahwa mereka sudah bisa mencetak undangan untuk kita, karena Insyaa Allah semua sudah siap"

"Alhamdulillah"

Air mata Asiyah menetas, ia refleks sujud syukur. Arif sangat terharu melihat ketaatan calon istrinya

"Masyaa Allah" katanya dalam hati.

Mereka memesan makanan, kemudian makan bersama sambil mwngobrol ringan. Kemudian berpisah. Arif pergi membeli Qur'an yang kemarin tertinggal dan Asiyah pulang untuk memberi kabar kepada orang tuanya.

....................................

Bismillah

Assalamu 'alaikum

Novel ini sudah tersedia bentuk PDF

yang mau boleh langsung DM atau Inbok

Insyaa Allah cerita akan dikirim ke alamat Email masing-masing

Selamat membaca

Salam kenal dari penulis Ririn Putri Abdullah :)

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now