Siapa yang berazam maka bertawakal kepada Allah, Khitbah!

506 20 0

"Kamu yakin, mau menikah sama Asiyah, Rif?" Tanya Abi serius didalam kamar Arif

"Insyaa Allah, bi. Kenapa tanya seperti itu, Bi? Bukankah besok kita sekeluarga besar akan ke Bandung untuk menghadiri acara lamaran Arif?"

"Bukan begitu, yang abi dengar status dia kan sudah janda" bujuk Abi

"Memangnya kalau janda, kenapa Bi?"

"Ah, kamu. Masa harus Abi jelaskan, ini yang perintah Rasul loh, bukan Abi"

"Tapi Rosul kan juga mencontohkan kita untuk memuliakan para janda,Bi. Bukankah semua istrinya adalah janda kecuali Ummahatul Mukminin Aisyah binti Abu Bakr"

"Iya, tapi beliau menganjurkan agar seorang bujang itu menikah dengan gadis, bukan janda. Abi saja dulu menikah dengan gadis, masa kamu yang tampannya Masyaq Allah ini menikah dengan janda"

"Kalau, Jandanya masih gadis, bagaimana,Bi?"

"Memang ada janda masih gadis"

"Loh, ada dong, Bi. Insyaa Allah. Allah itu maha baik,Bi. Allah memberikan kemuliaan kepada Arif untuk memuliakan Janda, sekaligus memberi karunia kepada Arif untuk bermain dan bersenang-senang kepada seorang istri yang masih gadis"

"Ini, maksudnya bagaimana? Abi kurang paham"

"Jadi, Bi. Asyifa itu status kertasnya memang seorang janda, tetapi dia sebenarnya masih gadis. Dia belum 'disentuh' oleh suaminya"

"Kok bisa?"

"Bisa, Bi. Kekuasaan Allah siapa yang bisa melawan. Jadi suaminya meninggal tepat dimalam pernikahannya, dalam perjalanan mereka menuju hotel sesaat setelah resepsi dilaksanakan"

" Kamu yakin?"

" Cukuplah Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 49 yang menjadi penguat keyakinan Arif,Bi. Tidak ada satupun manusia yang berani main-main dengan ayat Allah kecualo ia benar orang yang fasik"

"Masyaa Allah. Wah, kalo begini, Abi jadi semangat untuk berangkat besok, semoga Allah berkahi kita ya"

"Aamiin ya mujiib"

"Ya sudah, Abi istirahat dulu ya"

"Mangga, Bi"

^^^

Sekitar jam 10 Pagi mereka bertolak ke Bandung, Umi, Abi, Arif, Maryam dan Yusuf. Di kursi belakang tampak beberapa jenis makanan seperti buah-buahan dan kue-kue an khas Bogor yang telah di packing rapi dengan kotak acyrlic. Tidak ada cincin tunangan atau apapun.

Sesampai mereka di Bandung, mereka langsung beristirahat di rumah kakak kedua Arif, yang bekerja sebagai PNS di KUA Bandung. Sedang istrinya bekerja sebagai Bidan di Puskesmas setempat. Saat memasuki rumah, tampak di meja makan, kakak ipar Arif sudah menyiapkan makan siang untuk mereka semua. Sebagaimana hadist Rasulullah Salallahu alaihi Wassallam mengatakan, jika makanan sudah terhidang sedang waktu sholat telah masuk, maka ahsannya untuk mendahulukan makan. Mereka kemudian makan bersama.

Sejak sore keluarga sudah berbenah, makanan-makanan dan beberapa hadiah dalam kotak acyrlic sudah tersusu rapi dalam mobil terios putih yg dikendarai oleh Arif. Beberapa anggota keluarga lain juga sudah mulai berdatangan, kurang lebih ada 6 mobil.

Selepas Isya mereka berangkat kerumah Asiyah, di Jalan Muhammad Toha, Bandung. Arif deg-deg an.

***

Sesampai di rumah Asiyah dengan Maryam sebagai penunjuk jalan, mereka semua turun. Memasuki teras rumah, mereka sudah disuguhi dekorasi luar biasa, rumah putih minimalis berlantai 2 dengan aksen lamaran bunga-bunga berwarna kalem menghiasi rumah. Arif tampak sangat tampan, dengan gamis Madinah pemberian calon kakak ipar sekaligus teman lama sewaktu masih kuliah.

Mereka semua memasuki ruangan, duduk rapi memulai acara. Disudut ruangan tampak Asiyah yang duduk manis dengan gamis putih dan hijab Syar'inya. Tanpa hiasan berlebihan ia tampak cantik dan anggun dengan make up flawlessnya.

Juru bicara mulai membuka acara khitbah malam itu, memperkenalkan kedua keluarga dan lain sebagainya. Ada permintaan khusus dari orang tua Asyifa malam itu, mereka berdua menginginkan Arif untuk berbicara dengan berani didepan keluarga bahwa ia karena Allah ingin melamar anaknya.

Untuk Arif, berbicara didepan umum adalah hal yang biasa. Namun, pembicaraan malam ini berbeda, ia gugup! Arif memberanikan diri, dengan azzam yang kuat, Bismillah ia mulai berbicara.

"Bismillah, Assalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahirobbil 'alamin, karena hanya karena izin dan karunia dari Allah saja kita dapat berkumpul disini pada malam ini, semoga limpahan rahmat dan berkah dari Allah selalu tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam dan kepada kita sebagai umatnya. Aamiin"

"Pertama-tama perkenalkan, saya Ahmad Arif Alfarisi, usia 27th lulusan S1 Mesir. Tidak akan sampai kaki saya melangkah kerumah ini kalau bukan karena takdir baik dari Allah sebagai penentu jalan hidup saya"

"Saya asli Bogor, lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir, dan sekarang bekerja sebagai salah satu pengajar di sebuah Pondok Pesantren di Bogor "

"Niat baik saya hari ini, adalah untuk meminang atau mengkhitbah, Asiyah, menjadi Istri saya"

"Dan saya menunggu jawaban dari Asiyah sekarang"

Ruang sedikit riuh, ibu-ibu tampak berbisik-bisik membicarakan kebaikan Arif. Pengendali acara mengambil sikap, meminta Asiyah untuk menjawab khitbah dari Arif.

" Assalamu 'alaikum. Saya Asiyah Abdullah menerima dengan lapang dada khitbah dari akhi Ahmad Arif Alfarisi, dan dengan segala konsekuensinya akan saya jalani. Untuk permohonan khusus dari saya yaitu meminta agar pernikahan ini dilakukan secepat-cepatnya"

Semua seperti tersihir dengan ucapan gadis cantik itu. MC melanjutkan ke tahap selanjutnya, menanyakan mahar apa yg diminta oleh Asiyah sebagai syarat wajib menikahinya.

"Saya meminta seperangkat alat sholat dan perhiasan emas 24 karat seberat 25gram. Alasan saya meminta emas adalah karena mungkin dalam mengarungi biduk rumah tangga nanti kami akan banyak Allah beri ujian, ketika yg datang kepada kami adalah ujian kemiskinan maka saya berharap mahar tadi akan bisa membantu kami membangun usaha sebagai modal kami hidup atas Izin dari Allah tentunya"

"Masyaa Allah" mereka menjawab

Giliran Arif berbicara perihal mahar yg diminta.

"Bismillah, Insyaa Allah saya sanggup"

"Alhamdulillah" semua bersyukur

Lanjut ke tanggal pernikahan, Umi Asiyah mengambil beberapa kalender, dan yang lain melihat dari ponsel mereka masing-masing. Arif dan Asiyah seperti benar-benar inginmempercepat semuanya, mereka kompak memilih menikah pada hari Jum'at tanggal 3 Januari. Keluarga merasa tidak mungkin, karena 3 Januari hanyalah beberapa hari saja terhitung dari malam ini. Tapi Bismillah, mereka kuat ingin menikah dihari itu.

Kedua kakak Arif dan Asiyah yang bekerja di KUA akan berusaha sebisa mungkin agar keinginan adiknya ini terwujud. Bismillah.

Acara selesai, mereka melanjutkan ke acara makan-makan dan sesi foto bersama. Asiyah tampak cantik, serasi dengan calon suaminya, Arif.

Malam itu terasa panjang untuk mereka, hujan bunga kebahagiaan seolah tumpah kerumah mereka.

***

....................................

Bismillah

Assalamu 'alaikum

Novel ini sudah tersedia bentuk PDF

yang mau boleh langsung DM atau Inbok

Insyaa Allah cerita akan dikirim ke alamat Email masing-masing

Selamat membaca

Salam kenal dari penulis Ririn Putri Abdullah :)

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now