MENOLAK DENGAN HALUS

Start from the beginning

"Assalamu 'alaikum" Arif mendengar seorang mengucap salam. Suara dari seseorang yang sepertinya ia kenal tapi ia lupa tepatnya siapa

"Waalaikumus sallam" jawab Arif sambil menoleh

Arif memandang lama, didepannya sudah ada sua orang gadis, yang satu sangat ia ingat wajahnya sedangkan yang lain baru kali pertama ia temui

"Masyaa Allah, Khuma.. emm Asiyah ya? Khifa khalk?" Arif mencoba menguasai diri

"Khoir, Alhamdulillah, wa antum khaifa?"

"Ana bi khoir Walhamdulillah, mari duduk"

Kedua gadis itu duduk berjarak disebelah Arif.

"Perkenalkan ini adik ipar ana" Arif sedikit emandang kearah wanita disebelah Syifa, ia tersenyum kemudian menunduk. Arif husnudzon mungkin itu adalah ipar dari adik sepupunya.

"Kesini, rumah saudara?" tanya Arif

"iya, itu adik sepupu ana, kamu sendiri kesini ada saudara juga?"

"Oh, bukan. Itu dulu Adam itu murid saya di pesantren, jadi dia minta tolong supaya saya yang jadi saksinya dia"

"Masyaa Allah"

"Hayuk Teh, kedalem"

"eh ini afwan, kita tinggal dulu ya kedalem"

"Nuhun atuh silahkan"

"Assalamu 'alaikum"

"Waalaikumus sallam"

Arif terpaku sebentar, melihat Asiyah serasa bumi berhenti berputar. Ia tersadar, memutar kepala, membuang muka secepat kilat kearah berlawanan, arah persawahan yang terhampar luas dengan irigasi yang luar biasa bersih.

"Ustad" Arif terkejut

"Masyaa Allah, Adam kamu mengejutkan saja. Itu udah selesai?"

"Udah mau Dzuhur, kita ke masjid dulu"

"Oh, hayuk lah"

"Ustad tadi ngobrol sama siapa?"

"Oh, itu. dia itu masih saudaranya sahabat teteh saya, Kita pernah ketemu waktu itu di Bogor"

"Oh"

"Kenapa"

"Afwan ustad, itu tadi janda. Mungkin gak enak aja kalau dilihat orang"

"Janda? Yang benar kamu?"

"Masa saya bohong stad? Jadi, dimalam pertama pernikahan mereka suaminya meninggal karena kecelakaan. Alhamdulillah dia selamat, walau kabarnya sempat koma juga dirumah sakit"

"Inalillah. Oh, saya kira dia masih gadis"

"Kalau statusnya dia sudah janda ustad, tapi, kalau kegadisannya ana enggak tau Stad"

"Ah, kamu. Mentang-mentang sudah sah bicaranya sudah menjurus. Ngalahin saya"

"Hehe. Hayo ustad ambil wudhu dulu". Mereka tiba di masjid

^^^

Arif sampai dirumah agak malam. Ia membawa daun sop, daun bawang, kol, tomat juga ikan mas hadiah dari warga desa. Beberapa warga desa ternyata adalah orang tua siswa Arif disekolah sehingga mereka membawa Arif ke kebunnya masing-masing. Arif diajak memancing, memetik daun bawang mengambil tomat dan lainnya. Lurah disana yang juga salah satu orang tua siswa Arif bahkan meminta beliau menginap, tetapi Arif beralasan harus mengajar lagi pada senin pagi.

Arif mengeluarkan semua hadiah tadi, menyimpannya didapur dan kulkas. Rumah sudah sepi, kedua orang tuanya sudah pulas. Ia masuk ke kamar, membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Sebelum tidur Arif menyempatkan diri sholat witir 3 rakaat, jaga-jaga kalau tidak terbangun untuk sholat malam.

^^^

Arif berjalan di padang rumput bergelombang, dengan pohon mangga yang lebat berbuah disisi kiri dan kanan. Ia begitu senang. Ia berjalan dengan bershalawat yang berkepanjangan. Di perjalanan ia menemukan sebuah selendang, selendang halus sutera berwarna putih tulang. Baunya sangat wangi, lebih wangi dari parfume LV asli.

Arif melanjutkan perjalanannya, menanjak dan menurun. Diujung jalan ia seperti melihat seseorang, ia mempercepat langkah. Semakin dekat semakin jelas, seorang wanita duduk dikursi putih bersinar sendirian. Wanita itu mengenakan pakaian senada, angin lembut menghantarkan bau yang wangi ke hidung Arif. Bau parfume selendang tadi.

Arif menoleh, menunduk kearah tangannya. Ia yakin sekali bau itu sama persis dengan bau selendang yang tadi ia pegang. Selendang raib, tak ada lagi ditangan. Arif mencari sekeliling, nihil. Matanya terbelalak, selendang tadi sudah ada dikepala wanita bergamis putih. Ia mendekat, berniat meminta kembali selendang tersebut, wanita itu menoleh sebelum Arif sempat berucap. Ia tersenyum, bertambah anggun dengan jilbab yang ditindih selsndang senada. Arif terpaku.

Alarm hp mengejutkan arif, tepat pukul setengah empat pagi. Ia bangun, berdoa dan mengusap-usap wajah. Arif kemudian bangun dan bersiap.

....................................

Bismillah

Assalamu 'alaikum

Novel ini sudah tersedia bentuk PDF

yang mau boleh langsung DM atau Inbok

Insyaa Allah cerita akan dikirim ke alamat Email masing-masing

Selamat membaca

Salam kenal dari penulis Ririn Putri Abdullah :)

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now