KALANDRA 👟07.

19 4 8

Sakit tapi nggak berdarah.

"Tora?" panggilan itu menggema di ruangan yang cukup minimalis, ruang kerja seorang Akbar. Di mana ia selalu luangkan waktunya untuk menjernihkan pikiran ketika penat.

"Ada apa Mas?" sahut Tio.

"Kamu begitu khawatir dengan Andra," kata Akbar.

"Bagaimana tidak? Dia keponakanku, kan? Wajar jika aku juga mengkhawatirkannya." jawab Tio.

"Bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Tidak kah,kamu berpikir untuk memiliki seorang anak?" kata Akbar.

"Aku ingin, sangat ingin, tapi Syahira belum siap, aku harus bagaimana? memaksa bukan hal yang baik, Ayah dan Ibu juga menunggu itu," ucap Tio. Di sela ucapannya Tio meneteskan air mata yang tidak di sengaja.

"Jangan putus asa, Allah tahu mana yang terbaik,  Syahira saat ini memang belum ingin, tapi nanti kamu akan memiki jauh lebih baik lagi, sabar dan selau bersyukur. Lagipula, kamu sendiri juga sibuk," ucap Akbar, di sela perkataannya terselip kata-kata meledek untuk adik iparnya itu.

"Mas, aku sudah tahu itu," gerutu Tio.

"Sudahlah, pulanglah  bersama Ayah dan Syahira, kasihan mereka,  ini sudah mau malam." kata Akbar.

"Oiya sejak tadi aku datang, aku tidak melihat Davina, kemana dia ?" tanya Tio.

"Dia sibuk, maklum, anak kantoran sekarang, " jawab Akbar.

"Oh okey, oiya, dua hari lalu, Mas Fadhil dan Mbak Melo datang ke rumah, cari kalian, aku pangling sama anaknya si Ansell itu lho," celoteh Tio.

"Terus ?" kata Akbar.

"Yasudah, aku hanya info saja kok repot," elak Tio, lalu ia pergi meninggalkan Akbar, dan berlalu pamit pada Mentari untuk pulang.

Akbar yang melihat Tio masih sama, sama seperti dia melihatnya beberapa tahun lalu. Tidak ada yang berubah pada Tio, dia terlalu polos untuk di sakiti oleh siapapun, perasaannya mudah rapuh, sama halnya dengan Kala.

"La, masih pusing?" tanya Ravi, ia sudah ada di kamar adik bungsunya. Menatap miris pada Kala.

"Pusing sih engga, cuma sakit." jawab Kala. Tapi pandangannya tetap fokus pada ponsel yang ada di tangannya.

"Kaya punya pacar aja." sindiran keras Ravi, membuat Kala harus beralih menatap Abangnya itu.

"Gak ngurus!" sahut Kala.

"Di maapin gak nih," ulang Ravi.

"Hmm." jawab Kala.

Ravi kembali membuang napasnya lega, adiknya memang tak pernah marah padanya, kesal sudah pasti, tapi jarang sekali kalau marah terlalu lama padanya.

"Bang?" panggil Kala.

"Paan?" sahut Ravi, yang masih berdiri di ambang pintu.

"Kejuaraan itu kapan di seleksi?" tanya Kala.

"Lusa." kata Ravi.

"Oke, oiya, gimana sama Kak Pio?"
Pertanyaan Kala membuat Ravi mrmbelalak, ia pun segera melesat naik ke atas kasur adiknya lalu membekap mulut Kala, agar tidak berisik.

"Jangan kenceng-kenceng!" pekik Ravi, Kala yang terkejut, segera ia lepaskan tangan Abangnya itu.

"Stupid! Sakit lo, kaget gue." gerutu Kala.

"Lagian, lu sih pake toak kalau ngomong," ucap Ravi, yang sudah duduk bersila di sebelah Kala.

"Oke, jadi?" kata Kala, yang kembali fokus pada game di ponselnya.

KEY [COMPLETED]Read this story for FREE!