KALANDRA 👟 06.

19 4 9

One Republic-Apologize
_____________

Stupid bukan berati tak mampu.

. . . .

Gue ngaku salah kali ini, ini kali ke sekian gue di sidang lagi, sama Papa gue,  bukan cuma sama Papa sekarang tuh, malah ada Om Tio berikut istrinya, nggak ketinggalan Kakek gue juga ada, kalau Nenek gue, beliau lagi kurange enak badan, itu sih yang gue tahu dari Kakek gue.

Tadi siang menjelang sore gue emang adu mulut sama Bang Ravi, setelah gue coba buat jahil, malah gue kena jotosnya, nggak tahu gue salah apaan yang paling gede, cuma itu kali pertamanya Bang Ravi bener main tangan sama gue.

Sidang yang ini beda, gue berdua sama Bang Ravi, kita duduk di lantai, ngga ada yang berani natap kearah Papa, kalau Kakek  gue sih nyantai aja nyender di sofa sambil angkat sebelah kakinya. Apalagi Om Tio,  dia mah nggak usah di tanya, cuma bisa pasang kuping doang.

"Ravindra!" panggil Papa, Abang gue jawab tapi nunduk, beneran kita tuh ngga ada yang berani natap Papa.

"Iya Pa." kata Bang Ravi.

"Kalandra!"

Gue menjawab apa yang di lakukan Bang Ravi. Gue ngga tenang kalau udah begini, jantung gue deg- deg-an.

"Kalian tahu kesalahan kalian?" tanya Papa, suaranya pelan memang, tapi gimana ya, berasa dingin gitu lo, natap lurus kearah kita berdua, bisa dilihat dari sudut mata gue.

Kita berdua ngangguk bersamaan, padahal gue juga nggak yakin sih bener apa engga.

"Mas, udah dong," kata Bubun gue, yang coba buat tenangin Papa, meski begitu tetep aja nggak ada hasilnya.

"Udah? Kamu ngga lihat apa yang mereka lakukan? Kamu bilang sudah?" kata Papa, masih terdengar di indra pendengaran gue. Papa beneran udah naik darah sih ini namanya.

"Iya tapi, ngga begini, kasian mereka," jawab Bubun.

"Engga, Mentari, kali ini ngga bisa aku diam saja sementara mereka hampir saja membunuh satu sama lain? Kamu masih bilang kasihan?" kata Papa, dengan menekan kata sudah, di akhir kalimatnya.

"Akbar, boleh Ayah bicara?" kali ini Kakek gue buka suara, beliau masih gagah meski sudah tak lagi muda.

"Tentu," kata Papa.

"Ravi dan Andra, mereka masih muda, mereka masih memiliki emosi yang labil, sama seperti kamu, mereka mungkin tidak bermaksud melakukannya, cobalah untuk mrmahami posisi kedua putramu." ucap Kakek Zee. Kakek gue emang bestlah.

"Tapi Yah, mereka sudah melewati batas, apa aku harus memakluminya? Untuk apa mereka berlatih Taekwondo selama ini, jika untuk menyakiti satu sama lain?" balas Papa.

Iya emang bener sih, posisinya gue yang salah sebenernya, mancing emosi Abang gue, padahal gue tahu sifat Abang gue itu ya bisa di bilang kaya macan, yang bisa nerkam kapan aja.

"Pa?" Bang Ravi bersuara.

"Mau pembelaan apa kamu Ravi?" tegas Papa. Gue nunduk  doang, kepala gue pusing rasanya, kebentur tembok.

"Mas, udah lah, mereka bisa selesaikan sendiri juga, kan?" Kali ini Om Tio, yang bersuara, tapi kepala gue udah muter-muter ngga jelas, kaya suara mereka ilang tiba-tiba gitu. Gue coba pijat pelipis gue, tapi sama aja, gue coba lihat sekitar gue dalam posisi nunduk, semuanya berbayang.

Gue juga ngga tahu Bang Ravi ngomong apaan, beneran pusing, apa terlalu keras ya bentur temboknya? Entahlah.

"Andra boleh permisi sebentar?" kata gue tiba-tiba, yang mulai berdiri.

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now