III

340 81 30

"Galen, bisa bicara sebentar?" tanya Axel saat tiba-tiba ia menghampiri meja Galen di jam makan siang sekolah.

Suasana penuh canda antara Galen dan teman-temannya—termasuk Megan juga ada di situ—seketika hening, kaget akan kedatangan seseorang yang tengah menjadi topik hangat di sekolah mereka. Namun, seolah tersadar duluan, Galen pun hanya tersenyum lembut dan langsung berdiri dari duduknya. "Ayo, Xel. Kita bicara di tempat yang lebih private."

"A-aku ikut." Dengan gugup, Megan tiba-tiba menahan pergelangan tangan Galen. Bersikeras untuk ikut.

"No." Bukan, bukan Galen yang berkata demikian. Justru Axel-lah yang menjawab itu dengan suara datarnya. "We wanna talk privately."

"Tapi ...." Megan menunduk ingin membalas, tapi rasa bersalahnya pada Axel membuatnya tak bisa berkutik.

Galen melepaskan pegangan Megan pelan dan menatap mata kecokelatan tersebut dengan serius, "Ayo, mau di mana?"

"Just follow me." Tanpa menoleh maupun berpamitan dengan Megan dan teman-teman Galen lainnya, Axel berbalik. Berjalan santai dengan Galen yang mengekorinya.

-

"Ada apa, hm?" Galen bertanya sesampainya mereka di ruang musik yang sepi. Ia bertanya disertai ekspresi nakalnya, seolah tahu apa maksud ajakan Axel kemari.

Ditatap seperti itu membuat Axel gugup, belum lagi di ruangan ini mengingatkannya dengan ciuman pertamanya yang dicuri oleh lelaki di hadapannya ini. "Um ... tawaran kamu masih berlaku?"

"Yang mana?" Senyuman nakal Galen masih senantiasa terpatri di wajahnya, menggoda Axel yang tengah gugup setengah mati sekaligus ingin menonjok wajah sang lelaki bernetra hitam.

"You said ... you wanna help me yesterday. Apa masih bisa?" cicit Axel. Ia rela menjatuhkan harga dirinya pada Galen demi membalas dendam pada Megan.

Ia teringat dengan obrolan antara Megan dan Elena tadi pagi.

-

"I need some information from you," kata Elana saat Axel hendak memasuki toilet siswa yang bersebelahan dengan toilet siswi. "It's about Axel."

"What do you wanna know?" Megan yang berada di situ hanya bisa bersedekap angkuh. Seolah ia adalah orang yang tahu semuanya dan menyimpan segala informasi yang ada mengenai Axel.

"Aku mau tahu Axel berhubungan sama siapa dan apa dia lagi suka sama seseorang?"

"I don't know. But as far as I know, Axel suka ngeganggu pacar orang. I mean, dia selalu suka sama pacar temennya. Galen pun rasanya sudah diincar sama dia," balas Megan dengan kebohongannya.

Axel yang mendengar itu tentu saja tak terima, ia tak mengincar Galen. Ia belum suka dengan siapa pun juga, jadi atas dasar apa Megan berkata kalau ia selalu suka dengan kekasih temannya itu? He knows that he's a gay, tapi dia tak sejahat itu untuk merebut kekasih temannya. Ia—

-

"Kamu ngelamun lagi," Teguran serta usapan di kepalanya seketika menyentakkan pikiran Axel yang tengah melanglang buana di kejadian pagi tadi. "Can you hear me, now?"

"Y-ya ...," lirih Axel. Kemudian, ia menyadari betapa dekat jarak mereka seketika langsung memundurkan dirinya. Namun, tak semudah itu. Galen justru maju mendekatinya, tak membiarkan Axel mengambil jarak yang terlalu jauh.

Galen semakin mendekat hingga akhirnya Axel terpojokkan. Dalam hati, Axel mengumpat, mengapa Galen selalu memojokannya? Kemarin dengan pintu, sekarang dengan dinding. Apa-apaan lelaki itu?

"What do you need from me, hm?" tanya sang pemilik netra gelap sambil memainkan jemari besarnya di pipi Axel, mengelusnya bagai orang mesum yang menggoda korbannya.

"Bantu aku untuk memanas-manasi Megan, aku cuma mau memberikan dia sedikit pelajaran. Aku—"

"Memanas-manasi gimana? Are we in relationship?" Jemari Galen seketika turun, mengelus leher jenjang Axel hingga bulu kuduk Axel meremang dibuatnya.

"B-bukan. Uh ... apa ya? Kita temenan, tapi kamu ngebantu aku dan aku bakal ngasih kamu apa pun yang kamu mau," ujar si netra kecokelatan gugup.

Galen terlihat berpikir sejenak. Ia berpikir, namun matanya menatap mata Axel lurus-lurus, tangannya pun tak berhenti membelai pipi hingga leher Axel.

"Uh ... g-geli ...," keluh Axel sambil menghindari tangan nakal Galen.

"You know, Axel? We can be friends with benefit. Aku ngebantu kamu dan kamu nurutin perkataan aku. Apa pun 'kan?" final Galen dengan seringai tipisnya yang sayangnya tak dapat dideteksi oleh indra penglihatan Axel.

"Ya, apa pun."

"So, I'll buy a stamp for our agreement. Deal?" Yang lebih tinggi mencoba memastikan dengan menatap manik ragu-ragu Axel.

Hingga akhirnya Axel mengangguk pasti, "Deal!"

Dan saat itu pula perjanjian telah dibuat dengan kedua tangan saling berjabat formal. Berikut dengan materai enam ribu yang akan menyusul untuk meresmikan perjanjian tersebut.

Mereka pun keluar dari ruang ruang musik, hingga sebelum mereka berpisah—Axel yang akan ke kelas dan Galen yang akan melanjutkan makan siangnya—Galen berbisik tepat di samping telinga Axel, "Axel, let me tell you before ...."

"What?"

"Kalau kamu mau memanas-manasi Megan sama aku, kamu harus tau kalau aku enggak akan melakukan itu secara tanggung-tanggung. Aku bakal memimpin supaya Megan benar-benar tertampar akan perjanjian friends with benefit kita. Okay?"

"Okay, do whatever you want." Axel berujar dengan kalem.

"Jangan menyesal. Perjanjian enggak bisa dibatalkan, paham?"

Lagi-lagi Axel hanya mengangguk pelan. "Ya."

"Then, see you, Sweety." Galen berbisik sensual, dengan kilat ia mengulum daun telinga Axel pelan. Membuat Axel seketika berjengit kaget dan refleks merintih lirih. Ia merasa linglung akan kejutan dari Galen sampai akhirnya ia tersadar bahwa Galen sudah tak ada lagi di tempatnya semula berdiri.

"Sialan!"

Sepertinya ia salah memutuskan. Ia salah ingin bekerja sama dengan Galen, lelaki gay—atau biseksual—yang sangat mesum itu. Axel yakin kalau Galen benar-benar tak akan menyia-nyiakan perjanjiannya dengan Axel.

Dan semua pun tahu, kalau Galen tak akan sekadar melecehkan bibir dan telinga Axel saja ke depannya.

••••••
Bersambung
••••••

Bury a FriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang