Tradisi-tradisi

525 16 0

Awas baper!!

Tradisi-tradisi

Siang itu, sekitar jam 10 pagi. Rumah Umi khadijah sudah sepi sekali. Hanya ada dia dan Bik Sopia pembantunya, yang sedang sibuk mengulek sambel terasi didapur. Ummi Khadijah duduk sendiri di teras, sambil membaca kembali buku tafsir Ibnu katsir jilid 3 yang sudah beberapa kali ia baca sepanjang hidupnya, terlihat dari sudah mulai lembutnya cover buku yang tadinya sangat keras saat baru pertama kali dibeli.

Seseorang memanggil dari luar, dengan mengucap salam. Karena sedang menggunakan kaca mata untuk memebaca harus menurunkan kacamatanya agar yang jauh terlihat. Dari kejauhan terlihat kabur seorang wanita berhijab menggunakan gamis berdiri didepan pintu. Umi Khadijah memanggil-manggil gadis itu, menyuruhnya masuk.

Dari depan pagar, Sri sudah melihat tangan gurunya memanggil-manggil. Ia tidak sungkan, untuk segera membuka pintu pagar sendiri. Ia masuk dengan langkah pasti. Setelah mengucap salam dan mencium kedua pipi gurunya itu, Sri memeluk tubuh gurunya itu erat-erat. Ia menangis sejadi-jadinya. Umi Khadijah tidak mengerti apa yang terjadi pada muridnya itu, ia hanya mengelus-elus punggung gadis bertubuh kurus itu sambil mengingatkannya untuk istigfar dan bersabar.

Setelah hatinya sedikit lega, Sri Rizki melepaskan pelukannya. Ia mulai duduk disebelah Umi Khadijah. Ia mengeluarkan sebotol Tupperware kuning yang berisi air mineral dari dalam tasnya, kemudian meminumnya. Setelah tenang ia mulai bercerita bahwa kedatangannya kali ini adalah untuk meminta maaf yang sebesar-besarnyta untuk Umi dan juga Arif. Ia merasa sangat bersalah terhadap perbuatannya kemarin.

Semalam, ia bercerita kepada kedua orang tuanya di Surabaya bahwa ia sudah melamar seseorang untuk dinikahinya. Tanpa terpikir sedikitpun oleh Sri, ternyata kedua orang tuanya marah besar. Ia tidak terima kalau anaknya harus merendah melamar lelaki. Orang tuanya berpikir kalau anaknya ini berharga, anaknya ini seorang dokter, dan lelaki manapun pasti mau dengan anaknya. Mereka juga menyuruh ri untuk pulang ke Surabaya hari ini juga, bila perlu Sri tidak usah lagi harus bekerja di Bogor. Dan langsung minta pindah saja kerumah sakit paling besar di Surabaya.

Hari ini Sri harus kembali ke Surabaya untuk berbincang masalah ini, dan mungkin ia akan segera dijodohkan dengan seorang pengusaha meubel kaya dari Surabaya. Sri benar-benar menyesal dan me,minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Umi Khadijah dan keluarga. Ia tidak pernah menyangka semuanya akan seperti ini. Ia memberanikan diri menawarkan diri itu idak lain dan tidak bukan hanya agar hidupnya bahagia menikah dengan lelaki yang soleh. Ia tau usianya tidak muda lagi, dan untuk menikah ia tidak mau kalau harus gagal. Tapi, ia benar-benar tidak punya pilihan menghadapi kedua orang tuanya.

Belum lagi orang tuanya bicara tentang tradisi-tradisi bahwa orang sunda atau Jawa Barat itu tidak boleh menikah dengan orang Jawa. Karena, akan terjadi bencana dan hal-hal buruk lainnya. Padahal, hal itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Bukankah semua manusia itu sama dihadapan Allah, bukankah percaya tentang kesialan merupakan salah satu kesyirikan.

Umi Khadijah paham sekali, mungkin dalam hal ini kedua orang tua Sri belum mengerti. Ia meminta Sri untuk pulang dan menuruti dahulu permintaan kedua orang tuanya, ia menyuruh Sri agar tidak melawan dan patuh. Orang tua itu, kalau marah pada anak Cuma sebentar, pikirnya. Nanti juga luluh lagi. Jadi Umi berpesan agar nanti, saat kedua orang tua sri sudah luluh dan tidak marah lagi, sri harus sedikit demi sedikit mendakwahi mereka tentang jangan lagi percaya terhadap tradisi-tradisi. Ia juga meminta sri untuk memebeli beberpa buku, untuk dibawa ke Surabaya, nanti buku tersebut taruh saja di meja makan atau ruang tamu.

Kalau Allah berkehendak, nanti Allah akan menggerakkan hati orang tua Sri untuk belajar dari buku tersebut, kemudian sedikit demi sedikit mulai paham tentang agama Islam yang benar.

Sri mengerti, ia menganggukkan kepalanya berulang-ulang. Setelah selesai ia pamit pulang, ia harus segera ke bandara untuk segera terbang ke Surabaya. Untuk mobil, mungkin akan dititipkan.

^^^

Azan Isya, mengepung kota bogor. Dijalanan tampak pemuda pemudi yang masih sibuk berbincang-bioncang, entah apa yang mereka obrolkan, seperti telinganya sudah tersumbat tak lagi mendengar adzan dari masjid yang hanya berjarak kurang dari 30 meter.

Masjid dekat rumah Arif sudah didatangi beberapa puluh lelaki. Meski setengah masjid tidak penuh, tapi untuk ukuran sholat Isya dihari biasa selain bulan Romadhon, masjid ini terhitung selalu ramai orang beribadah. Tak terkecuali Arif dan Abinya. Juga Mang Udih dan Ujang.

Setelah sholat, mereka bersegera pulang, untuk makan bersama di meja makan seperti biasanya. Bau sambal terasi sudah masuk ke hidung arif, sambal terasi dan lalapan memang kesukaan Arif.

Mereka makan bersama, Umi, Abi, Maryam dan Arif.

"Rif, map semalam boleh umi minta?"

"Boleh, Mi. ada di meja kamar. Nanti Arif ambil"

"Jadi gimana, Mi? Mau?" tanya Maryam

"Jadi, Qadarullah tadi anaknya kemari lagi, dia bilang kalau orang tuanya mau menjodohkan dia dengan orang lain. Katanya orang sunda gak boleh menikah dengan orang Jawa"

"Astagfirullah, jaman sekarang masih ada yang percaya seperti itu ya Mi?" jawa Abi

"Ya, kita doakan saja, semoga hidayah menuntut Ilmu syar'i akan jatuh kepada keluarga mereka"

"Aamiin" semua orang mengaminkan pelan

Sepanjang makan, Arif tidak menjawab perkataan Uminya. Ia hanya bersyukur bahwa Allah menolongnya dengan cara yang Allah pilih, kalau tidak mungkin ia aka nada perasaan tidak enak harus menolah gadis baik yang sempat ia puji sebagai Khadijah masa kini itu.

....................................

Bismillah

Assalamu 'alaikum

Novel ini sudah tersedia bentuk PDF

yang mau boleh langsung DM atau Inbok

Insyaa Allah cerita akan dikirim ke alamat Email masing-masing

Selamat membaca

Salam kenal dari penulis Ririn Putri Abdullah :)

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now