Tangis Tanpa suara

484 11 0


follow dan vote yah :)

Tangis Tanpa suara

Di mimpinya, Arif merasa berada di padang rumput yang sama seperti yang kemarin ia lihat. Arif berlarian dan bermain-main disana. Dari kejauhan ia seperti melihat gadis kemarin lagi, Arif mengucapkan salam kepada gadis tersebut 'Assalamualaikum'. Gadis itu menoleh dan menjawab "Waalaikumussallam". Arif terhenyak, ternyata wajah gadis itu mirip sekali dengan gadis yang sedang dirawat seruangan dengan kakaknya, Maryam.

Gadis itu terlihat melambaian tangan, memanggil-manggil Arif untuk datang. Arif berlari mengejar, berusaha sekuat tenaga untuk menggapainya, tetapi, sekeras dan sekuat apapun Arif berusaha tetap saja sepertinya tanah dan rerumputan yang ia injak memanjang sehingga ia kesusahan untuk menggapainya.

'Tok tok tok'

'Permisi, mau kasih obat ya'

Seketika mimpi Arif bubar, semua orang diruangan terbangun saat seorang perawat lelaki masuk. Perawat bertubuh tambun itu langsung membuka hordeng milik Maryam. Arif tersenyum sambil menundukan kepala tanda hormat kepada Ummu fatma. Kemudian mereka berdua bergerak ke kasur keluarga masing-masing.

"Nyonya Maryam,ya. Maaf ya kita suntik obat dulu"

Sang perawat dengan tinggi badan sekitar 175cm itu menyuntikan obat ke selang infuse di dekat jarum untuk infuse. Setelah selasai ia pamit dan menuju ke pasien disebelahnya.

"Nyonya Asiyah Abdullah"

'Oh, jadi namanya Asiyah' Arif bicara dalam hati. Tapi, sudah Nyonya? Arif teringat akan mimpinya yang barusan

"Astagfirullah" Arif mengucap

"Kenapa kamu Istigfar?"

"Oh, gak kenapa-kenapa Teh, Istigfar aja. Banyak istigfar menghapus dosa, kalau dosa dihapus maka doa akan mudah terkabul"

"Ooh, iya. Teteh pengen ke toilet, kamu bantu teteh ya"

Arif membantu kakanya ke kamar kecil, cukup lama ia duduk di sofa sampai akhirnya kakanya keluar dan minta dibantu lagi ke kasur.

"Teteh mau tahajud, kalau kamu mau ke mushala silahkan. Nanti kalau teteh ada perlu biar ditelpon"

"Iya"

Arif memilih keluar dari ruangan, ia pikir mungkin Ibu paruh baya yang tadi juga terlelap di sofa memiliki keperluan ke kamar mandi, tetapi tidak enak karena ada dirinya. Ia berjalan melalui lorong rumah sakit, sepi tak berpenghuni. Hampir tak ada siapapun disana kecuali hanya beberapa perawat saja yang terlihat. Poli-poli dan kursi-kursi tunggu pasien terlihat sangat lengang. Ada suasana sedikit horror disana, ya maklum ruangan yang biasanya penuh sesak dengan kegiatan manusia ini, memang pada malam harinya seperti disulap tak berpenghuni.

Ia menyusuri jalan, mantap kearah Mushola. Setelah sekian menit masuk ke toilet yang bersihnya seperti toilet hotel itu, kemudian berdiam sendiri di Mushola. Tak ada siapapun disana, kecuali satpam yang terlihat sesekali mondar-mandir. Arif hanyut dalam ibadahnya, mentadaburi setiap kata yang ia ucapkan dalam bahasa Arab itu dan memaknainya secara dalam ke bahasa Indonesia. Ia sholat dengan khusyuk, setelahnya ia berdoa. Ia banyak meminta.

Satu setengah jam sudah Arif diluar, sekarang sudah jam setengah empat pagi saat ia melihat jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya. Ia berfirasat, bahwa semua yang diruangan mungkin sekarang sudah selesai dengan kegiatan masing-masing, atau bahkan mungkin sudah kembali terlelap. Arif, memilih jalan-jalan sebentar, menikmati sepertiga malam dengan memandang langsung kearah langit yang Allah janjikan bahwa ia akan turun diwaktu tersebut.

Arif tersenyum dan berdesis 'Alangkah bahagianya jika saat ini aku bisa melihat wajah Allah' sejurus kemudian ia mengacungkan jari telunjuknya kearah langit diikuti dengan doa dari lubuk hatinya yang terdalam "Ya Allah, masukanlah hambaMu ini ke Jannah firdausMu ya Rabb, izinkanlah hamba melihat wajahmu di jannahmu nanti ya Rabb, seperti mala mini hamba melihat purnama yang terasa begitu dekat dan memesona. Ya Rabb kabulkanlah permohonanku ya rabb. Aamiin"

Arif mengakhiri doanya. Ia kembali terpaku memandangi bulan yang terlihat begitu menawan. Dinginnya kota Bogor, rasanya sudah masuk kedalam jaketnya yang tebal. Ia kemudian memilih untuk kembali ke kamar untuk memejamkan mata barang setengah jam sebelum kemudian bangun lagi untuk melaksanakan sholat subuh. Ia memilih jalan memutar, melihat sisi lain rumah sakit besar itu akan seperti apa ketika malam datang.

Arif sampai ke kamarnya, benar saja, Ibu yang tadi ia temui sedang tertidur, sekarang juga kembali tidur. Mungkin ia terlalu lelah. Arif mengintip hordeng tempat kakaknya berbaring, terlihat kakanya sudah tertidur dengan mukenah yang masih rapih terpasang, dan mushaf kuning terbuka. Ia memilih masuk, mengambil musahf tersebut dan meletakkannya keatas lemari kecil yang juga berfungsi sebagai meja khas rumah sakit.

Arif menutup kembali hordeng tempat kakaknya istirahat rapat-rapat. Sebenarnya ia sudah melangkahkan kakinya untuk beranjak kembali ke sofa, namun sesuatu seperi mengganggu pemuda tampan tersebut. Ia mendengar suara tangisan, kecil sekali, hampir tak terdengar. Arif berbalik pelan, mencari-cari arah sumber suara. Hordeng penutup pasien Asyifa ternyata tidak tertutup secara sempurna, meski tidak berniat Arif tetap saja bisa melihat aktifitas apa yang terjadi didalamnya.

Ia melihat gadis itu, menunduk dengan pipi yang basah karena air mata. Mukenah putih yang berada di rahang tampak sudah basah, saking entah sudah berapa lama ia menangis. Mulutnya terlihat bergerak-gerak sambil matanya fokus kearah mushaf cover merah, sesekali ia tampak menyeka air matanya, namun air itu seolah seperti keran bocor yang terus saja mengeluarkan air. Punca hidung gadis berpipi merah itu terlihat memerah, sesekali ia menarik-narik hidungnya ke atas menggunakan ketiga jarinya, jempol telunjuk dan jari tengah.

Dipahanya yang berbalut mukenah, terlihat sebuah map merah dengan isi selembar kertas putih yang menyembul keluar. Sedikit terganggu sebenarnya arif ingin sekali menanyakan ada apakah gerangan padanya, kenapa ia sampai menangis tersedu dan pilu seperti itu. tapi, Arif tau batasannya. Ia tahu, bahwa urusan gadis itu sama sekali bukan urusannya. Ia kemudian berlalu dengan berat hati menuju sofa.

....................................

Bismillah

Assalamu 'alaikum

Novel ini sudah tersedia bentuk PDF

yang mau boleh langsung DM atau Inbok

Insyaa Allah cerita akan dikirim ke alamat Email masing-masing

Selamat membaca

Salam kenal dari penulis Ririn Putri Abdullah :)

Dzikir CintaRead this story for FREE!