Chapter 10

67 38 9

"Kamu benaran putus sama Aldo?" kejut Ziza menatap Anya yang sedang menangis terseguk- seguk.

Dinda merangkul Anya dan menghelus bahu gadis itu berusaha menenangkannya.

"Hiks... Hiks... Udah berapa kali kamu nanya gitu Za? Aku benaran udah putus sama Aldo,"

Ziza mendekatkan diri ke arah Anya lalu memeluk gadis itu.

"Kenapa kalian putus? Cerita sama kita berdua, jangan diam aja Nya?"

"Aldo selingkuh sama cewe lain. Hiks... Hiks... Dan pas aku pergoki, mereka sedang ber... Ciu...man," tangis Anya kembali pecah dengan derai air mata yang terus mengalir tanpa henti.

"Sudah Nya, kita mengerti perasaan kamu, jangan terus menangis," ujar Dinda yang tidak tega melihat sahabatnya itu.

"Kurang ajar tuh cowo! Brengsek! Gila ya tuh cowo! Kalo sampe ketemu sama gua. Gua abisin, " geram Ziza yang meluapkan amarahnya yang memuncak.

"Za, jaga ucapanmu jangan terbawa emosi. Walau kamu lagi marah tapi jangan sampe berbicara kasar," nasehat Dinda.

Ziza menengok ke arah Dinda, "Din gimana enggak emosi, si Aldo benaran sialan dia. Udah lukain sahabat kita. Enggak bisa di biarin."

Anya memegang tangan Ziza lalu menggelengkan kepala," jangan Za, biarin aja. Gue udah gak mau berurusan sama dia. Pliss!"mohon Anya.

Ziza menghembuskan napas panjangnya, "oke."

Deringan ponsel membuyarkan suasana yang sempat memanas itu.

"Ponsel siapa itu yang berbunyi?" ujar Anya sambil menyeka air matanya. Sudah sedikit tenang.

"Kayanya dari tas kamu Za?" seru Dinda.

Ziza mengangguk lalu berdiri mengambil tasnya yang ia taruh di atas meja belajar Anya.

Lalu mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.

Anya dan Dinda memperhatikan Ziza yang serius mendengar percakapan dalam telepon itu, tak berselang lama kemudian mereka telah usai berteleponan.

"Ada apa Za?" tanya Dinda.

"Tadi Adam ngasih tau ke aku. Kalo Iqbal mukul Aldo abis-abisan dan sekarang mereka menuju ke sini,"

Anya terkejut, "Apa?! Iqbal memukul Aldo?"

"Iya, dan mereka bertiga mau ke sini."

"Apa Iqbal sudah tahu terlebih dahulu tentang ini Nya?" tanya Dinda beralih kepada Anya yang terdiam seperti memikirkan suatu hal.

"Nya!" panggil Ziza.

"Eh iya, enggak tau. Aku hanya cerita ke kalian,"

Ziza mengernyit, "lalu kenapa Iqbal bisa tahu?"

"Entahlah."

Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi.

"Nah itu pasti mereka hayo kita turun," kata Dinda.

The Light Of Allah's LoveBaca cerita ini secara GRATIS!